NasDem Partai Nasionalis yang Sejalan Pemikiran Islam

0

JAKARTA (23 Mei): Sejauh ini masih ada yang menganggap penting Ideologi Pancasila sebagai alat pemersatu kehidupan, menjaga kemajemukan dan pluralisme kehidupan sesama anak bangsa. Namun ada juga yang mengatakan boleh ada, boleh tidak. Sebagian anak-anak bangsa yang lain lebih jauh lagi, menganggap sudah usang dan tidak diperlukan lagi ideologi Pancasila, karena tidak menjamin kehidupan di dunia dan di akhirat. Inilah realitas yang ada di tengah kehidupan kita.

Hal demikian terungkap dari orasi Ketua Umum Surya Paloh saat memberikan sambutan di acara Rakorsus Gelombang III Partai NasDem yang dilangsungkan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Selasa (23/05).

“Saya tegaskan, dalam kegiatan ini adalah misi utama yang ada di depan kehidupan sebagai kader, harus menjaga, memperkaya, bangga terhadap Pancasila sebagai ideologi Negara,” tegas Surya Paloh.

Pada bagian lain, pendiri Partai NasDem ini juga menggarisbawahi

pengertian nasionalisme yang bukan pengertian dalam arti sempit. “Apa artinya nasionalisme kalau kita masih mengagungkan pendekatan-pendekatan primordial,” tukas Surya.

Pada kesempatan tersebut, Surya juga menuturkan asal usul dirinya yang terlahir dari keluarga muslim.

“Saya lahir dari seluruh keluarga muslim, saya putra di wilayah Nanggro Aceh Darussalam dan saya tahu catatan sejarah menyatakan Islam masuk ke negeri Indonesia ini melalui wilayah saya dilahirkan, Samudera Pasai. Maka berkembanglah Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini. Saya meminta kepada ulama, Abu-abu yang ada di Aceh, tempat saya dilahirkan melalui DPW NasDem Aceh, tolong sampaikan rasa hormat saya dan mohon doa atas perjuangan Partai NasDem,” pinta Surya.

Ditambahkan Surya, NasDem adalah partai nasionalis tetapi tetap sejalan dengan pemikiran-pemikiran Islam yang rahmatan lil alamin.

“Katakan pada Abu-Abu (red; ayah, orang tua) di sana, ada anak Aceh, Ketua Umum Partai NasDem sebagai pendiri. Asyahadu an laa ilaaha illallah. Wa asyahadu anna muhammadar rasulullah. Dia tetap sebagai umat islam. Jadi jangan coba-coba mempolitisir pemikiran-pemikiran yang sejatinya dan seutuhnya Islam. Islam dalam keimanan yang saya pahami memberikan tempat terhadap toleransi, berdampingan, kasih sayang, kehidupan yang saling bersahaja di dalam semangat keislaman ini.  Itu yang diajarkan semenjak saya kecil dan belajar mengaji,” papar Surya.

Orasi politik Surya Paloh yang berapi-api kerap kali disambut tepuk tangan peserta Rakorsus yang memadati Krakatau Room Hotel Mercure Ancol, Jakarta.(Fahrudin Mualin/*)

Leave a Reply

%d bloggers like this: