Surya Paloh, NasDem, Aceh dan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

0

Catatan Zaini Djalil*

Dalam Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Partai NasDem Zona III yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Selasa (23/5) Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh secara khusus menegaskan jika dirinya adalah aneuk Aceh. Bapak Surya Paloh juga menegaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui wilayah Aceh, tempat kelahirannya.

Bukan hanya itu, Ketua Umum juga menekankan bahwa Islam yang masuk melalui Aceh yang dipeluk oleh mayoritas rakyat Indonesia adalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Bisa jadi, penegasan Islam rahmatan lil ‘alamin ini karena beliau merasakan ada gerakan keagamaan yang mulai meninggalkan sifat rahmatan lil ‘alamin, dan ini dipandang berbahaya bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan.

Saya menangkap, bagi Ketua Umum, Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dengan Pancasila sebagai dasar negara adalah juga buah dari pandangan pejuang muslim yang bersumber dari pandangan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Islam rahmatan lil ‘alamin yang diserap oleh Surya Paloh sebagai aneuk Aceh adalah Islam yang menjadikan cinta kepada tanah airnya sebagai bahagian dari iman. hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Sebagaimana diketahui Nabi Muhammad SAW juga pribadi yang mencintai tanah kelahirannya (Mekkah), dan pribadi yang mencintai negara yang didirikan bersama komunitas lainnya, yaitu Madinah.

Sebagai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, umat Islam juga dianjurkan untuk menjadi pribadi yang menghormati kesepakatan, sebagaimana Nabi dan para sahabat dahulunya juga menunjukkan keteladannya dalam menghormati kesepakatan yang kita kenali sebagai Piagam Madinah.

Begitu juga Muslim di Indonesia, juga harus menjadi teladan untuk menghormati Pancasila sebagai dasar negara sekaligus menjaganya agar usaha mencapai cita-cita dan tujuan Negara Indonesia bisa dilakukan secara bersama-sama oleh anak bangsa.

Dalam konteks itu pidato Ketua Umum yang merasa perlu menegaskan dirinya sebagai aneuk Aceh, dan menyebut Islam masuk di Indonesia dari Aceh seperti menjadi sinyal panggilan bagi ulama Aceh khususnya agar kembali menghidupkan pandangan keagamaan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Bapak Surya Paloh bisa jadi kuatir ketika melihat saudara-saudara se bangsa dan se tanah air tidak lagi ibarat tubuh yang satu, sejak dahulu, kini dan esok. Surya Paloh seakan merasakan mulai adanya sebagian umat beragama yang bergerak ekslusif dan menjadikan perbedaan agama sebagai sekat kebangsaan yang berpotensi melahirkan percikan konflik. Padahal, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang ditegakkan di atas prinsip “laqum dinukum wa liya diin” (QS Al Kafirun: 6) tidak menafikan kerjasama sesama anak negeri yang meniadakan sikap saling mencela tuhan atau agama orang lain (QS. Al An’am: 108).

Pandangan nasionalisme keindonesiaan yang menjadi ruh negeri ini dipercaya oleh Bapak Surya Paloh berakar dari pandangan keislaman yang awal mulanya berasal dari Aceh. Dalam sebuah perbincangan, Surya Paloh menyatakan bahwa pandangan Islam rahmatan lil ‘alamin yang disebarkan oleh ulama-ulama besar di Aceh dahulu, oleh pejuang bangsa dijadikan dasar dalam merumuskan jati diri Indonesia.

Dalam konteks pentingnya kerjasama membangun negeri secara bersama-sama itulah Surya Paloh melahirkan partai politik bernama Partai NasDem. Sebuah partai politik nasionalis yang memanggil semua anak negeri untuk mengabdi kepada pemajuan negeri melalui gerakan restorasi Indonesia. Bagi Surya Paloh, citra nasionalisme Indonesia di Partai NasDem bukanlah nasionalisme yang tanpa akar. Akarnya adalah Islam rahmatan lil ‘alamin yang awal mulanya tumbuh di Aceh, wilayah dirinya lahir, dan berkembang di Indonesia.

Karena itu, bagi Bapak Surya Paloh, agama yang rahmatan lil ‘alamin adalah sumber kekuatan Pancasila sebagai dasar negara yang dengan dasar itu kita semua anak bangsa bersepakat menjadi bangsa Indonesia. Inilah kenapa rakyat Indonesia bisa mewujudkan kemerdekaan Indonesia, dan semestinya hal ini pula yang menjadi dasar bagi segenap anak bangsa untuk mengisi pembangunan Indonesia sehingga menjadi negeri yang makmur, damai dan maju.

Sebelum Rakorsus berlangsung, kepada saya, Ketua Umum Surya Paloh secara khusus menyebut betapa pentingnya ulama-ulama di Aceh memainkan peran secara nasional untuk mengembalikan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan begitu, umat Islam yang mayoritas di Indonesia tetap menjadi pemersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu artinya segenap rakyat Indonesia akan kembali saling mencintai, saling tolong menolong, sehingga kasih sayang Allah Swt ferus meliputi tanah air ini, tanah air Indonesia. [*]

 

*Ketua DPW Partai NasDem Aceh

Share.

Leave a Reply