Opini Detail

Politik, Budaya, Karakter dan Kapabilitas

Politik, Budaya, Karakter dan Kapabilitas

  • 09 Mei 2018
  • 122

Oleh: Gurgur Manurung

Selama satu minggu yang lalu, saya bersama  sahabat saya Martin Manurung  ke wilayah Danau Toba. Beberapa orang teman  ikut pula seperti Candrow Manurung, Manusun Sitanggang,  Jimmy Manurung, Iyong,  dan rekan lain. Ada pula  Pengurus DPP bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan Jeanette yang membawa putri tunggalnya yang kuliah di Inggris dan sahabatnya dari Inggris.

Kami berkeliling  wilayah  Habinsaran dan Borbor. Kemudian kami ke Samosir dan Balige. Diskusi bersama masyarakat di berbagai tempat. Mendengar dan menganalisa masalah masyarakat.  Ibu Jeanette juga keliling daerah-daerah wisata di seputar Danau Toba. Ibu Jeanette kelihatan sangat senang.  Ibu Jeanette cerita, lebih asyik dan bahagia minum tuak di lapo dari minum kopi di hotel seperti Grand Hyat atau hotel mewah dimanapun.  Saya sangat menikmati minum tuak di lapo dan mendengar cerita rakyat. Apalagi Agust Karokaro memetik gitar dan semua bernyanyi bergembira.

Jeanette cerita di sebuah lapo di Siburuon Balige mengeluh, kampungnya kena hutan register. Padahal, ompung mereka sudah ratusan tahun tinggal di Siburuon. Saya foto kuburan/tambak Ompung mereka. Saya langsung hubungi kaka Siti Nurbaya Bakar (Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup). Sedih kan, rakyat seperti itu. Saya minta tolong kaka Siti agar diperhatikan masalah seperti itu, ceritanya penuh semangat.  Banyak masalah rakyat yang harus kita selesaikan, katanya.

Di Situmurun Jeanette bersama putri tunggalnya menabur benih ikan mas  (Cyprinus carpio) dan benih  ikan mujahir  (oreochromis mossambicus) di wilayah air terjun Situmurun. Betapa bahagia Jeanette melakukannya.

Di Tambunan, Balige  ada pertemuan yang membuat Jeanette berbicara di depan umum. Jeanette mengajak kader NasDem  Martin Manurung, SE. MA. dan Sondang Tarida Tampubolon maju  di depan masyarakat.  Jeanette mengatakan, di samping saya ada Martin Manurung dan Sondang Tampubolon. Mereka berdua masih muda tetapi mereka dua inilah yang sering diutus partai ke luar negeri. Itu karena  kompetensi mereka berdua. Putra-putri Batak ini patut kita banggakan.  Martin Manurung lahir di Jakarta, tetapi Bahasa Bataknya mantap. Dia sangat  mencintai tanah leluhurnya. Suatu ketika,  Martin membawa anaknya ke DPP NasDem,  anaknya bernama Theodore Manurung. Theo itu menulis di papan tulis. Apa yang kau tulis Theo?. Aksara Batak. Wow, saya kaget sekali. Martin mengajarkan aksara Batak ke anaknya. Hal seperti itulah yang kita ajarkan kepada anak-anak kita. 

Sondang Tarida Tampubolon juga demikian. Sondang lahir di Jawa Barat dan nanti Caleg dari Jawa Barat. Hebat kan.

Melihat putra-putri bangsa seperti Martin dan Sondang inilah saya tidak perlu mau jadi apa-apa. Aku tak mau jadi apa-apa, asalkan putra-putri bangsa seperti Martin, Sondang dan pemuda pemudi lain yang cerdas-cerdas yang mencintai bangsa ini maju membangun bangsa kita.  Saya dan Surya Paloh tidak perlu jadi apa-apa, asalkan putra-putri bangsa ini hebat membangun bangsa ini.

Sejatinya, inilah momentum  Surya Paloh jadi Presiden atau Wakil Presiden. Tetapi Surya Paloh memilih untuk tidak jadi apa-apa demi bangsa. Itulah pilihan Surya Paloh.

Selesai acara penyampaian gagasan, semua larut dalam lagu-lagu Batak. Ketika acara hiburan, ada yang menarik dan unik. Putri tunggal Jeanette dan sahabatnya dari Inggris yang sedang kuliah di Inggris dengan antusias menari dengan ibu-ibu dan anak-anak di Tambunan. Putri tunggal Jeanette tidak canggung. Mereka memegang tangan ibu-ibu dan anak-anak. Mereka diajari dansa. Kelihatan sekali kecerdasan dan kerendahan hatinya. Mereka larut dan menyatu menikmati lagu.

Ketika saya melihatnya, saya berkata kepada seorang teman. Ibu Jeanette sukses mendidik anak. Itulah bukti ketika kata dan perbuatan sama.

Gugur Manurung, Fungsionaris DPP Garda Pemuda NasDem

,