Opini Detail

Memahami Arus Demokrasi Modern

Memahami Arus Demokrasi Modern

  • 05 Juli 2018
  • 191

Oleh: Wiganda V. Putra 

Demokrasi merupakan arah dan tuntunan bangsa Indonesia, kuatnya tonggak demokrasi didasari oleh kepercayaan masyarakat tentang kebebasan berpendapat mengutamakan keinginan demi kepentingan bersama.

Demokrasi di Indonesia merupakan suatu proses sejarah politik perkembangan demokrasi di dunia secara umum, hingga khususnya di Indonesia, mulai dari pengertian dan konsepsi demokrasi menurut para tokoh dan founding fathers kemerdekaan Indonesia.

Implementasi kekuatan demokrasi Indonesia, mulai dari Demokrasi Parlemen, Demokrasi Terpimpin, Demokrasi Pancasila hingga era Reformasi, merupakan tonggak-tonggak dasar sebuah kebijakan yang berasaskan kepentingan rakyat. walau dari perjalanannya menemui berbagai hambatan, tantangan hingga sebuah kegagalan. Menilik hasil minor sebuah dasar dari demokrasi tetap menjadi acuan dan pegangan bangsa hingga saat ini.

Pemilu merupakan cerminan dasar demokrasi yang memperlihatkan dan mengokohkan bahwa kekuasaan setinggi-tingginya berada di tangan rakyat.  Era sekarang pemilu mulai tergerus oleh fanatisme dan kepentingan politis. Pemilu hanya menjadi wadah yang berkepentingan untuk menunjukan bahwa kelompok mereka yang paling kuat dengan berbagai cara.

Surat Suara

Tak dipungkiri kekuasaan itu penting untuk memperbaiki dan mengubah arah suatu kebijakan menuju lebih baik. Pemilu tak lepas dari gelora partai-partai besar yang sudah mengakar kuat sampai ke tingkat yang paling bawah. Kekuatan elektoral tersebut tidak diperoleh dengan mudah dan dalam kurun waktu singkat. Sampai saat ini penghuni atas urutan partai masih dipegang oleh partai lama, yang memiliki pengalaman panjang.

Hegemoni partai lama berlanjut dari kekuatan kader yang memiliki militansi tinggi dan pengorbanan kepada partai, hingga terbukti dapat mempengaruhi arus pemerintahan nasional.

Geliat politik saat ini mulai menunjukan ke arah yang lebih baik, dan masyarakat mulai cerdas dalam mengawal arah kebijakan publik. Faktor yang mempengaruhi stigma masyarakat mengenai partai politik.

Sebuah buku yang berjudul 'Mengelola Partai Politik' ada tiga faktor gejala yang mempengaruhi ketidakpercayaan publik terhadap partai politik.

Pertama yaitu citra buruk partai politik sebagai sebuah lembaga yang identik dengan perilaku koruptif-manipulatif.

Kedua, ketidakjelasan posisi ideologi yang menyebabkan partai politik kesulitan mengidentifikasi diri dengan calon pemilihnya.

Ketiga yaitu minimnya figur internal partai politik yang representatif terhadap aspirasi masyarakat. Bukti ketidakpercayaan publik terhadap partai politik jelas tampak pada tingginya angka golput pada setiap pesta demokrasi serta dari besarnya jumlah massa mengambang (flooting mass).

Persepsi publik memang sangat menentukan, sehingga berdasar data tersebut sebenarnya merupakan peluang bagi partai-partai baru untuk tampil menunjukan semangat perubahan. Tidak dipungkiri juga partai baru memiliki kekurangan dan kelebihan, di satu sisi partai baru memiliki potensi memberikan perubahan karena nyaris tidak memiliki catatan buruk di masa lalu, tetapi di lain sisi partai baru belum memiliki pengalaman yang panjang.

Kembali pada tiga faktor yang mesti ada dalam tubuh partai politik yaitu, citra partai 'track record', ideologi yang kuat, dan Figur yang berpengaruh.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah apakah ada partai baru yang memiliki unsur-unsur tersebut ?

Satu satunya partai yang mengusung gerakan perubahan sebagai cita-cita luhur untuk mengembalikan, memperbaiki, memulihkan, dan mencerahkan bangsa, yaitu Partai NasDem.

Surya Paloh selaku kreator sekaligus Ketua Umum Partai NasDem menekankan bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar sebagai modal utama dalam mengarungi perjalanan dan menjawab tantangan bangsa.

Surya Paloh adalah figur nyata seorang negarawan yang benar-benar tulus mengabdikan jiwa raganya untuk kemajuan bangsa tanpa mengharapkan timbal balik kekuasaan. Semangat tersebut tercermin kedalam nadi Partai NasDem.

Dengan semangat 'Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia', dan slogan 'Politik Tanpa Mahar', Surya Paloh ingin memberi contoh bahwa sebuah perubahan itu nyata dan bisa dilakukan. Mengubah cara pandang masyarakat memang tidaklah gampang, kendala dan tantangan silih berganti menghadang tetapi kalau tidak dilakukan dengan adanya semangat perubahan melalui niat, kerja keras dan kesinambungan maka perubahan yang dicita-citakan tidak akan terwujud.

Surya Paloh

Partai NasDem menjawab tantangan tersebut dengan semangat 'Gerakan Perubahan' dan Politik Tanpa Mahar yang menjadi identitas dari partai malah menjadi magnet dan daya tarik masyarakat, yang sebagian besar masyarakat menganggap bahwa partai hanyalah alat atau kendaraan politik yang hanya diperlukan saat pesta demokrasi bergulir, tetapi arus itupun mulai berubah.  Kaum milenial sekarang mulai dapat menganalisis arah dan kebijakan sebuah partai apakah menguntungkan mereka (masyarakat) atau hanya sebuah bentuk ambisi kepentingan segelintir orang.  Ditambah lagi dengan dukungan media informasi yang begitu cepat berkembang sehingga arus informasi dapat cepat diperoleh masyarakat.

Bagi Partai NasDem ini adalah keuntungan karena partai dapat menyuarakan visi dan misi dengan lebih komprehensif dan terbuka. dan masyarakat juga dapat menilai sendiri apakah kebijakan dari partai menguntungkan mereka atau tidak.

Kepercayaan masyarakat terbukti dari hasil hitung cepat (quick count) Pilgub 2018, dari 17 Provinsi NasDem menang di 11 Provinsi atau 64,7 %. Data tersebut merupakan modal awal dan pelecut semangat untuk mengarungi tantangan-tantangan ke depan demi terciptanya kemakmuran yang berkeadilan.(*)

* Wiganda Vebrianto Putra, Alumni Akademi Bela Negara (ABN) Angkatan I Dapil Jawa Tengah
,