Opini Detail

Saya Mendengar Pidato Sang Ketua

Saya Mendengar Pidato Sang Ketua

  • 01 September 2018
  • 304


Oleh S. Ahmad “Amato” Assagaf*


Saya tidak berpretensi mewakili lebih dari 500 orang yang mendengarkan pidato Surya Paloh pada pembukaan pembekalan bakal calon legislatif se-Sulawesi Utara di Manado pada tanggal 28 Agustus 2018 kemarin. 


Tapi saya berani bertaruh bahwa setidaknya 446 orang bakal caleg yang hadir waktu itu, seperti saya, telah mendapatkan energi emosional dan intelektual dari pidato Sang Ketua.


Energi itu adalah strategi politik NasDem, gairah untuk melaksanakannya, dan kehendak akan perwujudannya. Energi itu menyebar lewat kata-kata Sang Ketua dan tiba pada kita, 446 orang caleg NasDem Sulut yang mendengarkannya, sebagai janji kemenangan jika kita berjuang dalam persatuan.


Karenanya, energi itu bisa dibaca sebagai ejawantah slogan kita saat ini, yakni “bersatu, berjuang, menang.” Strategi politik kita, dalam semangat restorasi, adalah persatuan yang tidak boleh tidak harus ada. Sisi absolut sebagai prasyarat bagi proses untuk mencapai tujuan. Bersatu adalah dasar dengan apa kita akan berjuang.


Adapun gairah untuk melaksanakan strategi itu adalah perjuangan sebagai kondisi bagi tujuan merebut kemenangan. Tidak ada hasil tanpa upaya, demikian logika sederhananya. Dengan kata lain, tidak akan ada kemenangan tanpa perjuangan. Berjuang adalah proses, upaya untuk mencapai kemenangan.

Terakhir adalah harapan untuk mewujudkan kemenangan. Tujuan strategi politik NasDem yang disampaikan pada kita dalam pidato Sang Ketua adalah menang. Sebentuk tujuan yang selintas terasa umum dan jelas bagi semua partai politik dalam kontestasi yang tengah kita hadapi bersama. 


Namun di luar pandangan selintas itu kita, para caleg NasDem Sulut dan seluruh Indonesia, tampaknya boleh merenung bahwa apa yang disebut kemenangan dalam kosa kata Partai NasDem tidak pernah sesederhana itu. “Menang” tidak pernah berarti semata menang. 


Kemenangan bagi kita di dalam partai adalah tugas, demikian yang tersirat dalam pidato Sang Ketua. Bukan tugas untuk merebut kekuasaan semata tapi tugas untuk memulai apa yang menjadi cita-cita kita selama ini, menggerakkan perubahan, melaksanakan restorasi.


Saya mendengar pidato Sang Ketua dan teringat pada defenisi Restorasi Indonesia yang begitu bersahaja yang, di Manado hari itu, disiratkan kembali olehnya. Restorasi Indonesia adalah perlawanan terhadap diri sendiri. Upaya yang kini nyaris mustahil bukan karena kerumitan situasi dunia dan lingkungan tapi karena kelupaan akan moralitas.


Moralitas adalah apa yang melekat pada manusia secara alami, simpul dari kehendak kita akan kemanusiaan.


 Moralitas mewujud – juga menghilang – secara halus dalam obrolan kita dengan diri sendiri. Moralitas yang sesungguhnya tak lain merupakan suara hati, bukan sekumpulan ayat dan fatwa. Dan moralitas dalam bentuk inilah yang menghilang dari bangsa ini hingga hari ini.


Akibat dari hilangnya moralitas, suara hati kemanusiaan itu, adalah keterpurukan bangsa dalam berbilang tahun pasca reformasi. Namun Sang Ketua, lewat NasDem, sejak dalam bentuknya sebagai organisasi kemasyarakatan sudah membicarakan ini. Juga sudah memberi kita kode-kode solusinya secara teoritis maupun praktis.


Adalah harapan, demikian Sang Ketua, yang menjadi megafon untuk menyaringkan suara hati agar terdengar oleh telinga batin kita. Hilangnya harapan menghilangkan bunyi suara hati kita.


 Mengusaikan obrolan kita dengan diri sendiri dan, pada akhirnya, menjauhkan kita dari moralitas kemanusiaan kita yang murni dan bersahaja itu. Dan Republik ini tengah menghadapi masa hilangnya harapan.

Tingkah laku yang buruk dari para politisi kita secara negatif berdampak kuat pada masyarakat. Satu hal yang jelas dari dampak itu adalah hilangnya harapan masyarakat pada para politisi dan, puncaknya, pada politik itu sendiri. Situasi ketiadaan harapan terhadap politik dan politisi menyebarkan sikap apolitis, bahkan apatisme politis yang menggerus landasan moral politik bangsa.

Berapa banyak pemilih yang akan memilih karena harapan mereka pada para politisi? Berapa banyak pemilih yang akan memilih karena harapan mereka akan perubahan dan kemajuan yang dijanjikan oleh politik kita? Hilangnya harapan itu membuat pilihan masyarakat bergeser dari ideal-ideal politik menuju sebentuk pragmatisme loakan.


Bukan hanya tidak lagi ditentukan oleh ideal-ideal politik, pilihan masyarakat bahkan tidak lagi bersifat politis sama sekali. Mereka memilih karena alasan-alasan yang menjauh dari politik itu sendiri. Mereka memilih karena tak ada lagi harapan akan perubahan. Singkat kata, mereka memilih karena uang dan lain sejenisnya.


Tepat di titik itulah kita melihat bagaimana hilangnya harapan membunuh moralitas, seperti yang telah diingatkan Sang Ketua. Namun satu hal turut menjadi jelas di situ, hilangnya moralitas oleh hilangnya harapan berbanding lurus dengan krisis kepemimpinan. Krisis kehadiran politisi yang memiliki suara hati.

Saya mendengar pidato Sang Ketua di Manado hari itu untuk menyerap sebuah kekuatan, energi yang menghentak saya dengan sebuah peringatan bahwa kemenangan bagi NasDem adalah kekuasaan untuk membuat perubahan dengan, pertama-tama, melawan diri sendiri.

Menang, kata Sang Ketua dalam semua pidatonya sejak awal berdiri NasDem sebagai ormas hingga menjadi Partai Politik pada hari ini, hanya bisa dirasakan kebaikannya bagi kita dan bagi seluruh rakyat Indonesia jika kita capai dengan perjuangan di dalam persatuan. 


Karena kemenangan yang dicapai dengan perjuangan adalah kemenangan yang pasti dimotori oleh harapan, bukan penghalalan cara yang melintas batas moral kemanusiaan dan, serta dengannya, kebangsaan kita.


 Artinya, kemenangan yang tidak direbut dengan menggerus rasa kemanusiaan dan kebangsaan kita.

Dan kemenangan seperti itu adalah kemenangan sebuah harapan. Dengan kata lain, apa yang, pertama-tama, harus kita menangkan adalah harapan masyarakat yang kelak kita wakili. Dan kemenangan seperti itu tidak bisa kita capai tanpa perjuangan yang berlandaskan persatuan.


Kenapa persatuan? Sederhana saja jawabannya. Bangsa ini, secara moral dan politis, tengah berhadapan dengan ancaman perpecahan. Sebentuk ancaman yang di hari-hari terakhir ini menumpang dengan nyaman pada demokrasi. Sebentuk ancaman yang menjadi konsekuensi logis dari praktek demokrasi barbar akibat bujukan kekuasaan yang melahirkan metode tujuan menghalalkan cara.


Demokrasi adalah cara, bukan tujuan. Dan sebagai cara, demokrasi menawarkan banyak wajah, termasuk barbarisme. Persatuan adalah landasan bagi perjuangan kita dalam merebut kemenangan karena kita memilih cara di mana moralitas kemanusiaan dan politik kebangsaan menjadi petunjuk pelaksanaannya. 

Artinya kita memilih demokrasi yang menjadikan kompetisi sebagai perlombaan untuk mencapai kebaikan bersama, bukan perang semua melawan semua bahkan bukan perang hitam melawan putih. Dan kompetisi demokratis semacam itu hanya bisa kita tunjukkan jika kita memulainya dari dalam partai kita sendiri. 

Maka jangan pernah berkata bahwa kita bisa menyatukan bangsa ini, melawan ancaman perpecahan, jika di dalam partai sendiri kita tidak mampu mewujudkan persatuan. Jika kita, sebagai caleg Partai NasDem, masih mempraktekkan model demokrasi barbar dalam bentuk kompetisi ‘homo homini lupus’ di mana satu caleg menjadi serigala bagi caleg lainnya.


Kondisi Sulut Hari Ini

Saya mendengar pidato Sang Ketua dan membayangkan kondisi Sulawesi Utara hari ini. Ada dua kabar yang tiba di benak saya dalam gema pidato itu, kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, masyarakat Sulut tengah berada dalam kondisi yang siap untuk berubah, mewujudkan kemajuan. Kabar buruknya, para pemimpin masyarakat Sulut hari ini, terutama pemerintah daerah, tengah berada dalam kondisi stagnan yang akut.


Kenapa? Tidak ada gagasan yang matang sehingga bisa dan layak untuk disampaikan dan, karenanya, dilaksanakan. Ancaman stagnasi ini tampaknya akan juga menjangkiti para pemimpin di dalam Partai NasDem Sulut sendiri jika kekosongan gagasan ini tidak segera ditangani.


Bagaimana caranya? Kembali pada musabab kita bergabung di dalam partai politik, menjadi politisi. Kembali pada musabab yang bersifat general, universal, dan hakiki, bukan pada alasan-alasan pragmatis kita sendiri untuk menjadi politisi partai. Kembali pada ideal-ideal politik kita. Kembali pada ideologi partai.


Artinya, ancaman stagnasi terhadap para pemimpin yang menjadi kabar buruk di Sulut hari ini hanya bisa dilawan dengan ideologisasi. Kita tidak berada di dalam partai ini kecuali bahwa kita percaya dan menerima ideologi partai kita. Jarak yang tercipta oleh desakan keseharian antara alasan pragmatis kita dengan ideologi partai harus dipapas habis.

Hanya dengan cara itu, partai kita tidak akan mengulang lahirnya pemimpin Sulut yang stagnan tanpa gagasan, yang hanya bergerak, bertindak laku sebagai reaksi ke kiri dan ke kanan.


 Menjadi politisi reaksioner yang jelas tidak berguna bagi masyarakat dan harapan-harapan masyarakat.


Pada saat yang sama, dalam gegap gempita tahapan menuju pemilihan umum, kita harus bersatu dalam lingkar ideologi yang padu, berjuang bersama-sama dalam panduan ideologi yang sama, dan merebut kemenangan sebagai sebuah partai yang, kata Sang Ketua, “tidak boleh diremehkan oleh siapapun...”


Saya mendengar pidato Sang Ketua, “Kita adalah NasDem dan NasDem adalah kita...” Saya mendengar bersamanya suara masyarakat Manado, penduduk Sulawesi Utara, serta rakyat Indonesia. Dalam gema pidato Sang Ketua saya mencapai katarsis.

Manado, September 2018

*S. Ahmad “Amato” Assagaf, Calon Legislatif DPRD Provinsi Sulawesi Utara Dapil Manado

,