Opini Detail

Bekal Politik Buat Caleg Partai Waras

Bekal Politik Buat Caleg Partai Waras

  • 04 September 2018
  • 117

Oleh; Gantyo Koespradono*



NASDEM di mata dan pengetahuan saya adalah satu-satunya partai politik yang paling siap menghadapi Pemilu Serentak 2019. Strategi dan langkah-langkahnya selalu berada di barisan terdepan.


Belum genap sebulan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan Daftar Calon Sementara (DCS) DPR-RI, NasDem sejak 1-3 September 2018 langsung menggelar Pekan Orientasi Calon Anggota Legislatif (caleg)  di Jakarta guna membekali para calegnya dari seluruh Indonesia agar bisa berkontestasi secara sehat dan profesional.


Pekan orientasi bagi para calon DPR-RI itu dibuka Presiden Joko Widodo dan ditutup Wakil Presiden Jusuf Kalla, Senin (3/9).  Mengikuti pembekalan politik, wajib hukumnya bagi para caleg partai pengusung restorasi ini. Maka wajar kalau pekan orientasi itu diikuti lengkap oleh 575 caleg NasDem.


Sebagai partai yang relatif baru (memasuki tahun ketujuh), mendapatkan jumlah caleg DPR-RI sempurna  sesuai dengan kursi yang diperebutkan (575) tentu prestasi tersendiri bagi partai ini.


Memerhatikan pengalaman partai-partai lain, upaya merekrut atau mendapatkan jumlah sempurna (575 caleg) tentu bukan perkara mudah. Jangan heran kalau ada partai yang demi memenuhi kuota 575, terpaksa mencalonkan mantan pencoleng uang negara (koruptor).


Kalau mau egois dan menuruti kemauan sendiri, bisa saja NasDem merekrut ke-575 orang itu, semuanya laki-laki.


Namun, karena UU Pemilu mengharuskan setiap parpol menempatkan 30 persen caleg perempuan, NasDem taat pada konstitusi. Partai yang dipimpin Surya Paloh ini sukses menempatkan tak cuma 30 persen, tapi 38 persen caleg perempuan.


Saya adalah satu dari ke-575 caleg yang ikut pembekalan politik.  Dipercaya  menjadi calon anggota legislatif oleh Partai NasDem, usia saya sudah tidak muda lagi. Di forum itu, saya berbaur dengan para caleg yang berasal dari berbagai profesi, seperti artis, dosen, agamawan, dan mantan pejabat (gubernur, bupati dan wali kota).


Di forum itu, saya juga sama-sama belajar politik dengan para perempuan, anak-anak muda dan para caleg yang sudah “sepuh” yang dikualifikasikan Ketua Bappilu Partai NasDem Effendy Choirie sebagai golongan “tut wuri handayani.”


Masuk dalam kelompok “tut wuri handayani”, saya pun harus taati dan hormati aturan main pencalegan di partai yang telah memiliki infrastruktur yang sangat kuat ini. Minggu (2 September) malam, anggota panitia masih menyodorkan formulir pernyataan bahwa saya – juga caleg lain – tidak boleh bermain-main dengan narkoba.


Jika dalam perjalanan pencalegan – apalagi setelah terpilih – saya mengonsumsi narkoba, maka saya harus legowo jika partai memecat saya. Saya tanda tangani pernyataan itu di atas meterai. Saat proses pencalegan, semua bakal caleg juga diminta menandatangani pakta integritas berupa janji tidak akan korupsi saat terpilih menjadi anggota dewan.


Aturan main dan etika seperti itu tentu sangat wajar diterapkan oleh Partai NasDem, sebab tidak sedikit caleg yang baru bergabung ke partai itu beberapa bulan yang lalu. Mengikuti pembekalan politik selama tiga hari, saya juga baru tahu, ternyata banyak caleg NasDem yang sebelumnya adalah anggota partai lain, seperti dari PKB, PAN, Gerindra dan Golkar.


Saya tentu tidak tahu persis apa motivasi mereka bergabung ke Partai NasDem. Yang pasti ada seorang caleg yang sebelumnya aktif di partai lain menyatakan kagum dengan perencanaan yang dilakukan NasDem, termasuk pembekalan politik yang berlangsung tiga hari itu.


“Terus terang, baru sekarang ini saya mengikuti acara seperti ini. Partai saya sebelumnya tak pernah mempersiapkan para calegnya seperti yang dilakukan NasDem. Suasana kekeluargaan dan kekompakan benar-benar terasa,” kata seorang caleg dari Jawa Tengah yang sehari-hari berprofesi sebagai dai dan pengasuh pondok pesantren.

Di NasDem, ia pendatang baru. Namun ia tak canggung bergaul dengan orang-orang lama. Ia menyatakan terharu, sebab dalam upaya meraih suara, para caleg di lapangan diminta untuk saling bekerja sama, bukan untuk bersaing, apalagi menjatuhkan kawan sendiri.


“Ayo, Mas, saya siap membantu sampeyan. Sebagai seorang dai, saya hampir setiap hari ceramah di masjid. Ayo kita bikin acara bareng dengan melibatkan umat lintas iman. Saya biasa kok mengundang pendeta,” katanya kepada saya yang berbeda iman dengannya.


“Ideologi” dan pluralisme yang dipegang teguh Partai NasDem rupanya telah tertanam begitu kuat di benak  para caleg, termasuk yang baru datang.


Di NasDem, keindonesiaan memang telah selesai. Inilah kekuataan partai ini. Setelah mengikuti pembekalan, para caleg telah bersehati akan berada di garis depan membela Pancasila jika ada sekelompok orang yang coba-coba menodai kebinekaan.

Guna memperkuat basis keiindonesiaan itulah, dalam acara pekan orientasi, Partai NasDem merasa perlu menghadirkan para tokoh agama lintas iman untuk membekali para caleg tentang paham kebangsaan dari sudut pandang agama.


Mendengar paparan para tokoh agama, lagi-lagi saya berkesimpulan bahwa keindonesiaan kita telah selesai. Dalam konteks agama, maka bagi mereka yang Islam, komitmen bahwa “Saya 100 persen Indonesia, 100 persen Islam”; Katolik: “Kami 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia”; Kristen Protestan:  “Saya 100 persen Protestan, 100 persen Indonesia”; “100 persen Hindu dan 100 persen Indonesia” (Hindu); “100 persen Budha dan 100 persen Indonesia” (Budha); dan “Saya 100 persen Konghucu dan 100 persen Indonesia” sudah menjadi napas sehari-hari. Sudah rampung!


Kehadiran Calon Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang juga memberikan pembekalan kepada para caleg NasDem memerkuat komitmen kebangsaan religius tersebut. Karena dia seorang ulama, Ma’ruf Amin memertegas paham kebangsaan dari kacamata Islam menyusul adanya calon pemberontak yang coba-coba  mengkhilafahkan Indonesia.


Amin menegaskan bahwa Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan persaudaraan Indonesia sudah selesai. “Oleh sebab itu jika ada yang menuduh kita menolak khilafah, itu tidak benar. Kita tidak pernah menolak khilafah. Yang benar adalah khilafahlah  yang tertolak. Ya, tertolak karena kebangsaan dan keindonesiaan kita sudah selesai dan kuat. Jika ada barang asing mau masuk pasti tertolak dengan sendirinya,” begitu antara lain Ma’ruf Amin.


Ada catatan lain yang menurut saya penting untuk diperhatikan para caleg, yaitu NasDem membekali mereka agar menaati konstitusi, termasuk peraturan-peraturan yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Bahkan para caleg pun diminta agar mencatat setiap uang yang dimiliki dan pengeluaran yang digunakan untuk kampanye. Pasalnya, sesuai dengan aturan, dana yang digunakan untuk kampanye harus transparan dan dilaporkan ke partai. Para caleg pun diminta agar jangan sembarangan mencetak alat peraga kampanye seperti spanduk, brosur, stiker dan sebagainya sesuai selera pribadi.


Pada Pemilu Legislatif 2019, Partai NasDem menargetkan meraih 100 kursi. Jumlah caleg NasDem ada 575 orang. Logikanya, jika target itu tercapai, maka akan ada 475 caleg yang tidak terpilih.  Pantaskah mereka kecewa?


Sebagai manusia biasa, wajar kalau ada yang kecewa. Namun, lewat pembekalan politik, para caleg diajak untuk berbesar hati layaknya seorang negarawan yang mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Di lapangan saat kampanye nanti, para caleg diminta untuk saling berkoordinasi dan bekerja sama, baik dengan sesama caleg, maupun struktur partai di daerah.


Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini, sebagaimana diungkapkan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, negara ini sesungguhnya sedang sakit, sebab banyak peraturan dan perundang-undangan yang tidak sejalan dengan realitas sosial dan politik, sehingga memunculkan persoalan di mana-mana.


Dalam waktu dekat, menurut Surya Paloh, partai yang dipimpinnya akan membentuk tim khusus yang bertugas membuat DIM (daftar inventarisasi masalah) atas berbagai persoalan  yang ada di negeri ini.


Menurut saya, itu adalah agenda besar Partai NasDem. DIM inilah yang nantinya akan dibawa para anggota DPR NasDem hasil Pileg 2019 untuk diperjuangkan, sehingga restorasi  (memperbaiki, mengembalikan, memulihkan, dan mencerahkan) yang sudah menjadi visi Partai NasDem bisa diwujudnyatakan.


Mengapa Partai NasDem bernafsu mengusung restorasi? Harap maklum, sebab  seperti diungkapkan Ketua Mahkamah Partai NasDem Saur Hutabarat, kita kini hidup dalam situasi yang tidak normal.


Bagaimana caranya? Tidak bisa tidak, kita harus perjuangkan di jalur konstitusi melalui partai waras, NasDem.


Siapa yang bisa diharapkan? Secara konstitusi , ya melalui anggota DPR yang calon-calonnya selama tiga hari  mengikuti pembekalan politik. Selamat berkontestasi  secara waras menuju Senayan di tahun 2019 nanti.(*)

Dikutip dari Mediaindonesia.com


*Gantyo Koespradono, Caleg DPR-RI Partai NasDem (Dapil 2 Jateng) 


,