Opini Detail

Ablaho, Politik Hilang Makna

Ablaho, Politik Hilang Makna

  • 14 November 2018
  • 1370

Ablaho, Politik Hilang Makna


Oleh Muhammad Husen Db (DEBE)*

BELAKANGAN dinamika politik bangsa mengalami pergeseran pola. Di tengah suasana kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan DPR, DPD dan DPRD, upaya memberikan pesan politik kepada publik mengalami pergeseran, jika tidak diKatakan ada perubahan. 


Pergeseran yang dimaksud adalah cara dan strategi pemenangan masuk pada ranah perang kata dan bahasa.


Cukup banyak muncul kata dalam dinamika kampanye, misalnya, sontoloyo, genderuwo, tampang boyolali, kampungan, kampret, cebong dan kata-kata lainnya. 


Itu terjadi di masa kampanye persiapan pemilu serentak di tahun 2019. Dalam bacaan politis, ini masuk pada politik linguistik.


 Menerjemahkan kata dan kalimat menjadi multitafsir dalam respons publik. Secara umum sebenarnya perubahan bahasa begitu pesatnya dalam perubahan pertumbuhan semua bidang. Maka jika bahasa dijadikan momentum politik untuk meraih simpati rakyat, ini menjadi diskursus hebat dalam orientasi publik terhadap pendidikan politik. Maka wajar jika sapaan kata sederhana politisi menjadi tidak sederhana.  


Dalam pandangan politik, ini menjadi gaya baru dalam merespons peran politik untuk strategi pemenangan. Politik sering kali memiliki gaya dan strategi yang tidak mampu diterjemahkan oleh masyarakat awam. Semakin kreatif dalam dinamika politik semakin baik. Meski tidak semua benar.


 Apa yang diutarakan belum tentu sesuai dengan makna kata yang disampaikan. Kata tidak selamanya mengandung makna sesungguhnya. Meski upaya untuk memaknai kata dalam politik selalu dinamis.


Dinamisasi peran politik di lapangan, terus memberikan guncangan makna, yang ditargetkan menjadi apresiasi elektabilitas dan pendulangan suara. 


Di tengah munculnya kata bahasa baru, ada kata dalam perkembangan bahasa di tengah anak muda dengan menyebut Ablaho. 


Ablaho adalah kata semacam bahasa pasar, atau sering kita sebut dengan bahasa slank. Ablaho adalah kata yang bermakna tidak konsisten. Ablaho juga sebagai ungkapan kepada orang yang mengecewakan. Kesal, kecewa, terhadap orang, kata Ablaho sering diluapkan kepada orang itu.


 Ablaho bisa dilekatkan kepada orang yang tidak mengedepankan kesantunan dan keteladanan politik. Mengapa tidak, kita saksikan masyarakat sudah berupaya mengikuti pola politik yang membangun kesadaran. Sadar bahwa politik harusnya untuk melahirkan kemaslahatan bagi masyarakat bangsa.


 Politik seharusnya berdampak kesejahteraan, baik langsung, maupun tidak langsung. Politik harusnya cara cepat untuk menerjemahkan harapan pendiri bangsa yaitu melahirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


 Mengapa harus ada yang menodai kemurnian gaya politik kesantunan dan keteladanan, Ablaho?


Buat apa politik ablaho

Buat apa jika politik hanya digunakan untuk kepentingan yang jauh dari makna baik. Buat apa politik hanya dipakai untuk kepentingan sesaat?


 Betul bahwa politik adalah alat mencapai kekuasaan. Tetapi proses itu tidak harus dinodai dengan politik ablaho. Politik yang menodai nilai-nilai luhur. Politik yang mencederai keteladanan dan etika. Politik yang hadir dengan kesopansantunan. Kreativitas politik harusnya direspons dan didorong pada peran dan fungsi politisi untuk mengejawantahkan nilai yang aplikatif. Tidak hanya pendidikan dan pengetahuan politik, tetapi politik yang dibaluti dengan nilai luhur. Bukan politik ablaho. 


Politik ablaho hanya melahirkan kepincangan, ketimpangan dan keterpurukan. Maka harusnya semua penggerak politik menghidari praktik politik ablaho.


 Indonesia dengan gaya politik baru, politik gotong royong, politik kesantunan, politik kolaboratif, telah  jauh bergerak membawa bangsa ini bersaing dengan bangsa lain. Selamat tinggal politik ablaho. Tidak lagi ada ruang bagi politisi atau pelaku pengerak politik yang kembali menggandrungi gerakan yang menakut-nakuti, pesimisme, dan disorientasi terhadap kejayaan bangsa ini.


 Bangsa ini melaju seiring dengan perkembangan zaman. Zaman yang di dalamnya penuh dengan kaum milineal yang produktif. Penuh dengan pemilih muda yang future oriented, penuh dengan gaya optimisme, penuh dengan gaya kreativitas. 


Produktivitas kaum milenial dan pemilih muda, harus terus diarahkan kepada nilai apresiatif. Pemilih muda menjadi satu kesatuan dalam gerak langkah politik. Karena politik sejatinya menjadikan bangsa ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam denyut nadi kehidupan berbangsa.


Dukungan terhadap peran politik kebangsaan menjadi tanggung jawab kita semua. Siapa pun komponen bangsa ini, sejatinya menjadikan gerakan politik kebangsaan sebagai wadah dan arena yang menggembirakan.


 Gembira karena situasi politik dibaluti dengan kesadaran terhadap nilai baik. Situasi politik diiringi dengan pendidikan politik bagi warga bangsa. Masyarakat merasa hadir dan mendukung program- program dalam politik.


 Masyarakat tulus dan ikhlas dalam menerima dinamika politik yang bermartabat ini. Tidak ada lagi dinamika politik ablaho.


*Muhammad Husen Db. (DEBE) adalah dosen dan tenaga ahli Fraksi NasDem DPR RI.

,