Opini Detail

Ini Indonesia, Bung

Ini Indonesia, Bung

  • 22 Desember 2018
  • 4175


Oleh Willy Aditya*


DIAKUI atau tidak Trump Style tengah melanda politik negeri ini – persis saat Trump juga melakukannya dalam kampanye di AS jelang Pilpres tahun 2016 lalu. Apa itu Trump Style? Ialah cara-cara berkampanye yang ala Donald Trump dalam upayanya mencapai tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri Paman Sam.


Cara-cara itu setidaknya berisi lima poin utama: Bangun popularitas setinggi mungkin karena riwayat atau track record sebagai pejabat publik adalah nonsense alias tidak penting. 


Kedua, lakukan aliansi dengan kelompok agamis-konservatif. Pastikan dukungan mereka menjadi milik kita. Divine intervention never hurts, begitu adagium yang menyertainya. Tidak penting Anda sesekuler apapun, tetapi berkolaborasilah dengan mereka, niscaya emosi massa bisa Anda kuasai. Yang ketiga, diskreditkan jurnalis dan media yang tidak mendukung. Sebut mereka tidak berimbang, pencipta fake news, tidak obyektif, dst. 


Keempat, bawa sentimen antiimigran. Kalau di Indonesia mungkin bahasanya berubah menjadi antiasing, antiaseng, dan juga anti-TKA (tenaga kerja asing), tidak peduli meski jumlahnya hanya segelintir, yang penting bangun sentimen terhadapnya. Bila perlu buat isu berjuta-juta TKA tengah membanjiri negeri ini. Setelah itu, tiru juga slogan yang dimiliki oleh Trump untuk menarik simpati warga AS waktu itu: Makes US Great Again! (Kalau tidak salah, beberapa waktu yang lalu, ada salah satu capres di negeri ini juga yang meniru kalimat tersebut).


Kelima, bangun sentimen anti-Tiongkok, sambil diam-diam bangun kerja sama di belakang layar. Beriringan dengan ini, bangunkan kembali hantu-hantu yang terkait dengan negeri yang dulu dikenal sebagai Tirai Bambu itu. Isu PKI misalnya. Lalu sematkan itu pada lawan politik Anda. Mengapa Tiongkok? Sederhana saja, karena mereka tengah kaya raya saat ini.


Setidaknya, lima isu itulah yang digunakan oleh Trump sehingga bisa menggulingkan Hillary Clinton dari prediksi kemenangan di hampir semua survei di sana. Namun tidak diragukan lagi, semua isu itu sudah tidak asing lagi di telinga dan nalar publik negeri ini. Semua isu yang digunakan oleh sang Raja Properti itu sudah karib di kesadaran warga negara ini. Apa pasal? Karena apa yang dilakukan oleh Donald Trump itu sudah diadopsi juga oleh salah satu kandidat dengan hanya satu tujuan saja: menggulingkan seorang kurus-kerempeng yang tidak diduga sebelumnya menjadi Presiden Republik Indonesia.


Nampaknya, upaya-upaya dengan menggunakan Trump Style itu sudah membuahkan beberapa hasil antara. Seorang gubernur sudah tersingkir tahun 2017 lalu. Atas nama suara mayoritas dan pribumi, berbagai upaya dilakukan. Diskriminasi, intimidasi dan persekusi pun dilakukan dengan berbagai bentuknya. Di Jawa Barat, hal serupa juga dilakukan. Syukurnya, upaya tersebut bisa diantisipasi. Namun demikian, apa yang sudah terjadi telah membuat luka bagi kehidupan bangsa ini. Luka yang sudah menganga itu tidak bisa hilang begitu saja. Luka itu bahkan terus dipelihara lewat penciptaan virus bernama “kebencian”.


Inilah narasi yang terus direproduksi dengan menggunakan lima tips Trump Style yang sesungguhnya telah membuat bangsa ini sakit – bukan hanya di bidang politik melainkan juga dalam kehidupan sosial sehari-hari. Pasca Pilkada DKI, bahkan pasca Pilpres 2014, tidak sedikit kita dengar bagaimana hubungan pertemanan, hubungan keluarga, hingga pasangan suami-istri, menjadi rusak karena virus kebencian ini. Wabahnya serasa lebih membahayakan daripada virus-virus biologis karena ia berpotensi meluluhlantakkan bangunan negara bangsa yang telah disolid oleh para pendiri bangsa. 


Hebatnya, virus ini mampu membuat mereka yang terjangkiti akan merasa tengah menegakkan kebenaran. Mereka yang terjangkiti virus ini merasa tengah menyebarkan kebaikan. Hingga kemudian yang tidak mereka sadari adalah bahwa apa yang mereka lakukan dengan Trump Style ini mereka telah mengikis sendi-sendi berbangsa dan bernegara. Negara bangsa yang dibangun di atas puluhan suku dan bahasa, puluhan agama dan kepercayaan, serta ribuan pulau.


Gusti ora sare


Namun ini Indonesia, Bung! Indonesia bukanlah Amerika. Indonesia adalah negeri yang penghuninya telah belajar banyak tentang pentingnya hidup bersama dalam kemajemukan. Negara ini dibangun di tanah negeri-negeri yang mengerti bagaimana mengelola perbedaan. Bangsa ini sudah berpengalaman mengatasi perpecahan karena perbedaan. Ada sejumlah faktor yang akan membuat Trump Style ini tidak bertahan lama.


Yang pertama, tahun 825 Masehi, pernah terjadi perang besar di tanah Jawa. Perang yang melibatkan wangsa Sanjaya vs wangsa Syailendra ini disebut-sebut sebagai perang terbesar di dunia abad itu. Wangsa Sanjaya berlatar Hindu Syiwa, sementara wangsa Syailendra dari kelompok Budha. Mereka berperang habis-habisan dalam kurun waktu yang cukup lama hingga seorang raja dari wangsa Sanjaya memilih mundur sebagai raja. Baginya, perang itu telah membuat rakyatnya berkutat dalam kebodohan. Perang itu telah membuat mundur peradaban mereka.


Perang besar yang memakan korban jiwa sangat besar itu kemudian melahirkan kesadaran di antara mereka tentang pentingnya kerukunan di tengah perbedaan. Dengan kerukunan itu mereka bisa menjadi sebuah bangsa yang para keturunannya kemudian bisa membangun peradaban-peradaban lainnya. Lahirlah Sriwijaya di Sumatera Selatan, Singasari di Kediri, demikian juga Majapahit yang kemudian melahirkan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semua itu muncul karena kesadaran akan pentingnya kerukunan dalam segenap perbedaan yang ada. 


Salah satu buah peradaban pasca perang besar tersebut adalah terbangunnya sebuah candi bernama Sembara Budura atau Borobudur. Candi ini milik wangsa Syailendra namun dibangun oleh seorang arsitek wangsa Sanjaya: Panuku – raja yang memilih mundur dan menimba ilmu arsitektur di India. Walhasil, candi yang menjadi milik umat Budha itupun bercorak Hindu. Inilah nalar kedamaian dalam beragama. Inilah nalar kerukunan bangsa ini dalam kehidupan yang penuh perbedaan.


Kedua, bangsa ini juga dijaga oleh tradisi yang berisi nilai-nilai yang agung serta budi pekerti yang luhur. Di berbagai daerah begitu banyak tradisi yang dibangun oleh elemen-elemen yang berbeda-beda. Tradisi-trandisi ini termanifestasi dalam berbagai bentuk kebudayaan dan kesenian, serta tata krama sebagai bentuk komunikasi dan keramahan masyarakatnya.


Ketiga, bangsa ini juga memiliki akar toleransi yang kuat. Sebagai bangsa maritim, manusia Nusantara sudah terbiasa berinteraksi dengan berbagai kalangan dari berbagai penjuru dunia. Samudra yang membentang di antara pulau-pulaunya telah membuat manusia Nusantara terbuka wawasan dan nalarnya. Di satu sisi mereka mampu menerima dan menyerap apa-apa yang datang dari luar, namun di saat yang sama mereka juga mampu menyaring apa yang dinilainya tidak sesuai dengan nilai dan tradisi yang diyakininya.


Di Jawa ada Grebeg Sudiro, sebuah acara yang mengabungkan dua kebudayaan yaitu kebudayaan Tionghoa dan Jawa. Di kota Solo ada tradisi menarik yang terus terjaga yakni Haul Habib Ali, yang senantiasa dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai pelosok di Tanah Air.


Keempat, tradisi kerja sama atau biasa disebut dengan gotong-royong, telah menjadi ciri melekat dari bangsa Indonesia. Sifat kerja sama ini mewujud dalam berbagai ekspresi kehidupan sosial bangsa ini. Mulai dari membangun rumah, membersihkan lingkungan, bahkan hingga perilaku yang menyimpang: korupsi berjamaah. Yang terakhir ini memang perilaku yang tidak dibenarkan namun inilah sifat dasar bangsa ini. Yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa manusia Indonesia lebih condong pada kebersamaan ketimbang perpecahan. Maka tidak berlebihan jika bangsa Indonesia dikenal dengan karakter guyubnya. 


Kelima, bangsa ini demikian identik dengan situasi harmoni. Sebagai bangsa Timur, filosofi ini tidak asing bagi Indonesia. Demikian gandrungnya bangsa ini pada keadaan yang harmonis, sudah terbukti dalam sejarah. Tahun 1926 terjadi pemberontakan terhadap pemerintah Kolonial Belanda oleh PKI, toh bangsa ini memilih tidak terlibat lebih jauh dalam pemberontakan itu. Walhasil, pemberontakan itupun gagal.


Tahun 1945, bangsa ini lebih memilih Pancasila sebagai dasar negara ketimbang ideologi lainnya karena Pancasila dinilai lebih mampu menjaga harmoni. Di tahun itu pula Bung Karno dipilih sebagai pemimpin nasional ketimbang figur-figur lain karena beliau dinilai lebih bisa diterima oleh banyak pihak. Dan jika kita perhatikan dengan seksama, dari tahun ke tahun, dari waktu ke waktu, bangsa ini pun senantiasa memilih sosok-sosok yang lebih cenderung mampu menjaga harmoni/moderat ketimbang pada sosok yang ekstrim.


Inilah jati diri bangsa yang menjadi benteng-benteng pertahanan dalam menghadapi virus-virus yang ditebarkan oleh Trump Style. Jati diri ini dibangun di atas falsafah hidup yang telah menjadi landasan spiritual manusia Nusantara berabad-abad lamanya. Mencoba untuk menghancurkan benteng ini sama halnya dengan menghacurkan diri sendiri. Lihatlah, bukankah beberapa pihak telah merasakan balasan atas apa yang dilakukannya. Mengapa itu bisa terjadi? 


Karena Tuhan tidak pernah lengah. Gusti ora sare…



*Ketua DPP Partai NasDem Bidang Media dan Komunikasi Publik

,