Opini Detail

Mulak Tu Toba

Mulak Tu Toba

  • 15 Januari 2019
  • 2598


Oleh Gurgur Manurung

"MULAK ma ahu, mulak  ma ahu, mulak tu Toba. Mangalap boru na uli."

Kalimat ini adalah salah satu penggalan lagu Martin Manurung, selain lagu yang cukup populer "Husippon tu Alogo".  

Husippon tu alogo dibuat ketika Martin Manurung akan pergi kuliah ke Inggris untuk menyeleseikan magisternya dengan besiswa pemerintah Inggris.

Di Toba ada pertanyaan, mengapa abang posisinya sekadar tim sukses tidak menjadi caleg? Apa abang tidak mampu menjadi caleg, masa sekadar tim sukses? Apa sih keinginan abang sebenarnya?

Terus terang dalam filosofi Batak, tidak ada istilah tim sukses dalam memilih pemimpin. Orang Batak mengenal pajongjongkon bukan pajongjong diri. Artinya, posisi yang mendukung pemimpin adalah terhormat.  

Saya memosisikan diri sebagai na pajongjongkon. Karena itu posisi napojongjongkon harus memberikan pengorbanan. 

Dalam kehidupan kita sehari-hari sering disebut napinaraja, bukan parajarajahon. 

Lalu, apa alasan abang pajongjongkon Martin Manurung? 

Songonon do atong (begini ya), saya itu memiliki dua anak. Anak pertama, Daniel Surya Maju Manurung kelas 6 SD. Anak kedua, Rachel Theodora Sarnauli Manurung (kelas 4).  Saya melihat dua anak saya itu hebat. Rachel di semester kemarin juara umum dari empat kelas Cerdas Cermat. Rachel menelepon saya bahwa nilainya tipis. Terakhir yang membuat dia menang adalah bahasa Inggris yang ditanya adalah danau terluas di Indonesia adalah Danau Toba. Aku menang Pak karena yang ditanya kampungku sendiri. Apalagi kan dari  tim kami aku dan si Malo yang orang Batak juga. Kami menang karena keberuntungan saja, bukan karena pintar Pak, katanya dalam telepon.

Di liburan Natal baru-baru ini, saya ingin sekali liburan di Toba sama mereka. Tetapi, Rachel dan Daniel mengatakan bosan karena libur panjang Juni sudah ke Toba. 

Anak-anak kelahiran Jakarta dan berbagai kota yang ompungnya di Toba dan sekitarnya terkesan lebih bangga liburan ke Singapura, Malaysia, Thailand, Amerika, Eropa atau ke Yogya, Bandung, Raja Ampat, Bali dan lain sebagainya. 

Mengapa terkesan mereka lebih bangga menceritakan liburan ke Singapura daripada Toba? Mengapa terkesan lebih bangga menceritakan bahwa mereka liburan  di luar negeri dibandingkan ke Toba? 

Mengapa ada cerita anak-anak kelahiran Toba ketika merantau ada kalimat, "sudah tak kenal rimbang?"

Artinya ada anak-anak Toba yang terkesan berusaha menghilangkan identitasnya? Mengapa anak kelahiran Toba tidak menceritakan betapa enaknya rimbang dicampur dengan ingkau hau (daun ubi/singkong)? 

Dalam pergaulan sehari-hari sering kita dengar perkataan, "aku Batak tetapi sudah lahir di Siantar, aku Batak tetapi sudah lahir di Medan?" 

Mengapa ada  kata  tetapi?  Apa makna kata "tetapi" dalam kalimat itu? 

Menjawab pertanyaan mengapa Martin Manurung pajongjongon? 

Kawanku di Partai NasDem namanya Nirmala Firdaus pernah mengatakan bahwa Kakak Martin Manurung itu Batak kece. Emang ada Batak tidak kece?  Dia senyum saja. Kita terjemahkan saja senyum sahabat kami itu.

Beberapa kali pertemuan partai NasDem yang melibatkan peserta dari seluruh daerah, ketika Martin Manurung menyanyikan Anak Medan, Marragamragam, lagu-lagu Nainggolan Sister, khususnya Sai Anju Ma Ahu, semua akan bernyayi dan bergairah. 

Ketika dia bernyanyi, semua peserta dari Sabang Sampai Merauke akan mengikutinya bernyanyi. Bisa dibayangkan dong reaksi Surya Paloh yang besar di Sumatera Utara saat menyaksikan situasi semacam itu. 

Bisa juga dibayangkan reaksi orang Batak yang hadir. Dengan kata lain kemana pun Martin Manurung selalu menjelaskan bahwa dia adalah Batak tanpa embel-embel kata "tapi". Bahasa Bataknya, bahasa Indonesianya, bahasa Inggrisnya mumpuni. 


Martin Manurung adalah ikon Batak asli yang selalu menjelaskan budaya Batak, budaya Indonesia, pemikiran Habatahon, pemikiran keindonesiaan selalu dijabarkan ke seantero bumi.  

Kapabilitas dan akseptabilitas dimilikinya. 

Bagaimana dengan sikap teologinya? Dia itu sering diskusi dengan ahli teologi. Satu hal yang saya ingat debat teologinya dengan seorang ateis. 

Sebetulnya, kata Martin, betul bahwa keberadaan Tuhan bisa diperdebatkan. Tetapi satu hal bagi saya, "ada atau tidak ada, jika Tuhan tidak ada ya sudah. Tetapi jika benar ada, maka saya masuk surga. Nah, kalau benar ada sampean ke mana?" 

Sang ateis terdiam. "Sudahlah, saya sudah putuskan bahwa Tuhan ada dan saya ikuti perintah-perintah-Nya. Tidak ada ruginya percaya Tuhan dan mengikuti-Nya," katanya.

Mengikut Tuhan, menurut Martin, ada damai sejahtera. 

Pemikiran keilmuwannya luas, energik, idealismenya, nusantara menerimanya dan itulah alasan saya harus hadir mendukungnya. 

Dari aspek kepentingan Sumut sangat layak disuarakan di tingkat nasional maupun internasional. Martin Manurung adalah ketua DPP Partai NasDem bidang Hubungan Internasional. 

Alasan saya yang lain adalah NasDem yang tanpa mahar akan berdampak luas bagi sehatnya politik kita yang selama ini dianggap kumuh. 

Bayangkan andaikan gubernur, wali kota, bupati kita terpilih tanpa utang uang dan utang politik, maka muncullah tokoh seperti Ahok, Ridwan Kamil, Kofifah Indar Parawansa dan Risma walikota Surabaya itu. 

Jadi jelas ya, mengapa saya mulak tu Toba na uli. Horas.


Gurgur Manurung, Peneliti Surya Institute

,