Opini Detail

Kenalilah Dirimu!

Kenalilah Dirimu!

  • 17 Oktober 2019
  • 160

Oleh Ampy Kali

DEMOKRASI merupakan sistem pemerintahan terbaik karena mengutamakan kesetaraan hak warga negara dan memberi ruang partisipasi yang luas kepada masyarakat untuk membangun negara. 


Indonesia menerapkan sistem ini karena dinilai cocok dengan kondisi bangsa yang beragam suku, budaya, agama dan ras. 


Secara prinsip, sistem ini digunakan untuk mengatasi potensi konflik dan perpecahan yang bisa terjadi sewaktu-waktu karena segala perbedaan yang ada. 


Soekarno-Hatta yakin bahwa demokrasi adalah model pemerintahan terbaik yang bisa mengantarkan bangsa Indonesia pada cita-cita nasional: bersatu, berdaulat, adil dan makmur.


Sayangnya, cita-cita ini belum terwujud mutlak―melalui sistem demokrasi―di usia kemerdekaan yang hampir mencapai satu abad. 


Aspinall (2018), Powel dan Warburton (2018 & 2019) dalam penelitian terbaru tentang perkembangan demokrasi di Indonesia mengafirmasi hal ini. Mereka menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia saat ini sedang mengalami kemunduran. 


Beberapa fakta yang disoroti misalnya menguatnya isu intoleransi dan radikalisme, fenomena korupsi yang terus merebak, dan penegakan hukum yang tidak berjalan efektif.


Saya pun sepakat dengan hasil temuan mereka. Pertanyaannya, mengapa sistem demokrasi ini gagal menyelamatkan bangsa ini dari segala permasalahan yang terjadi?


Setelah sekian lama merenung, saya menemukan jawabannya saat mendengar langsung pidato Surya Paloh saat acara penutupan Sekolah Legislatif Partai NasDem Angkatan IV (Sabtu, 12/10/2019). 


“Kenalilah dirimu!” Demikian pesan Bung Surya kepada seluruh anggota DPRD Kabupaten/Kota yang menghadiri acara tersebut. Sebuah pesan singkat tapi mengandung makna mendalam. 


Pesan Bung Surya mengingatkan saya pada seruan Socrates: gnothi seauton kai meden agan (kenalilah dirimu dan jangan berlebihan) yang terdapat pada Kuil Orakel Dewa Apollo.


 Tulisan ini lahir dari kegelisahan Socrates ketika melihat pengelolaan negara yang tidak sesuai prinsip-prinsip demokrasi. Para pemimpin cenderung mementingkan golongan mereka, sedangkan rakyat jelata dibiarkan melarat. Sistem pemerintahan yang semula mengakomodasi kepentingan rakyat berubah menjadi monarki karena kepentingan elite.


 Socrates geram dan langsung menyerukan kepada semua muridnya untuk mengenali diri dan tidak berlebih-lebihan dalam memanfaatkan kekuasaan. 


Sama seperti Socrates, Bung Surya tentu prihatin dengan situasi politik yang terjadi belakangan ini. Sebagai tokoh bangsa dan negarawan sejati―saya meyakini bahwa beliau tidak ingin bangsa Indonesia chaos karena keserakahan elite pemimpin. Karena itu dalam berbagai kesempatan beliau selalu menyerukan pentingnya menjaga keutuhan bangsa.


 Ia bahkan secara tegas menegur para politisi yang bekerja untuk memperkaya diri dan mengabaikan kepentingan bangsa. Termasuk kepada para kader Partai NasDem, ia terus mengingatkan agar menjadi agen perubahan bangsa yang militan di daerah masing-masing.


Pesan kenalilah dirimu merupakan peringatan keras bernada perintah yang mesti diperhatikan dan dilaksanakan tanpa kompromi. Tapi sayangnya, pesan itu belum sempat diuraikan secara detail kepada anggota dewan NasDem. Untuk itu, melalui tulisan ini, saya coba menafsir dan memberi makna pada pesan tersebut dengan mempertimbangkan keseluruhan isi pidatonya.


Saya menemukan tiga makna penting yang tersirat dalam pesan singkat Bung Surya tersebut, yakni: mengenali kualitas diri, mengenali eksistensi diri, dan mengenali ideologi bangsa.


Pertama, mengenal kualitas diri artinya tahu akan kekuatan dan kelemahan diri. Meski tidak diucapkan secara langsung, dalam beberapa penggalan pidatonya beliau meminta anggota dewan untuk menilai kembali kapasitas mereka sebagai pemimpin. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan para pemimpin masa kini adalah gampang klaim bahwa mereka bisa. Padahal terkadang itu hanya trik untuk mengelabui publik dan melakukan pencitraan. Tahu akan kualitas diri berarti mengenali seluruh kemampuan diri dan berupaya untuk selalu menata diri baik sebagai pemimpin maupun wakil rakyat. Tahu akan kualitas diri juga mensyaratkan sikap jujur untuk mengatakan yang sebenarnya kepada publik. 


Kedua, mengenal eksistensi diri artinya sadar dan paham akan posisi saat ini. Untuk apa saya ada dan menjadi anggota dewan dan kepada siapa tanggung jawab pengabdian ini dialamatkan?


 Ini pertanyaan eksistensialis, yang menurut Heidegger, penting untuk direfleksikan terus-menerus oleh anggota dewan agar mereka tidak lupa diri.


 Seorang anggota dewan harus menyadari bahwa eksistensi mereka adalah wakil rakyat. Itu berarti mereka harus benar-benar bekerja untuk memperjuangkan kepentingan publik, bukan sebaliknya menjadikan rakyat sebagai piranti barter politik. Selain itu anggota dewan juga adalah representasi partai politik. Tanggung jawab mereka adalah mendasarkan seluruh aktivitas politik pada ideologi partai. 


Ketiga, mengenal ideologi bangsa artinya menghidupi dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Problem kebangsaan belakangan ini menurut saya bisa terjadi karena para pemimpin abai dan gagal memahami falsafah bangsa. Mereka lupa akan jati diri bangsa Indonesia yang plural dalam berketuhanan, respek pada kemanusiaan, menjunjung tinggi persatuan, mengutamakan musyawarah-mufakat, serta peduli pada keadilan sosial. Menjadi anggota dewan yang berkarakter mesti punya komitmen tinggi untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.


Dengan demikian, pesan Bung Surya untuk mengenal diri adalah seruan kenabian (profetis) yang bertujuan memperbaiki kondisi sosio-politik bangsa yang sedang chaos. Beliau mengehendaki agar wakil rakyat memiliki sikap politik yang mengedepankan kebajikan, karakter diri yang ideal, kontrol diri yang rasional, serta punya visi restorasi. Meski begitu, seruan kenabian ini akan menjadi sia-sia jika perilaku tamak dan berlebihan masih terus menggoga para pemimpin. Memahami kualitas diri, eksistensi diri, dan ideologi bangsa adalah solusi bijak untuk mengelola negara―dan pada akhirnya bisa menyelamatkan para pemimpin dari godaan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).


Harapan saya setidaknya terwujud bahwa bangsa ini masih bisa berubah ke arah yang lebih baik. Kegigihan Bung Surya dalam merestorasi karakter para pemimpin menjadi salah satu alasan untuk terus berharap bahwa bangsa ini pasti akan bertumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang tangguh. Bangsa yang mampu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya. 


Bila semua wakil rakyat―terutama para anggota dewan NasDem, mampu merefleksikan dan melaksanakan pesan Bung Surya secara militan maka saya yakin kualitas demokrasi akan membaik. Sebab pesan Bung Surya mengarahkan kita untuk memahami demokrasi lebih dari sekadar pengakuan akan hak dan kebebasan masyarakat. Tapi lebih sebagai kesadaran individu (sebagai warga negara) untuk mendasarkan semua idealisme kebangsaannya pada kualitas dan eksistensi diri.


Para pemimpin, misalnya, harus jujur mengakui kapasitas dirinya agar mereka tidak terjebak dalam kepura-puraan. Mereka juga harus paham eksistensi dirinya sebagai pemimpin yang mengabdi pada masyarakat, bukan berhamba pada harta dan kekuasaan.


 Demokrasi menjadi paripurna bila semua pemimpin berkomitmen menghidupi dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama.(*)

Ampy Kali, Pengajar ABN NasDem

,
Berita Terkini