Opini Detail

Tentang Kunjungan Itu

Tentang Kunjungan Itu

  • 02 November 2019
  • 35

Oleh Martin Manurung


Kok NasDem berkunjung ke PKS? Banyak yang bertanya seperti ini. Saya pun sadar, sejak rencana itu diutarakan oleh Pak Surya Paloh kepada kami, maka kunjungan itu akan bisa “dipelintir” dan “digoreng” macam-macam, mulai “gorengan” bahwa NasDem akan beroposisi, sampai “gorengan” bahwa NasDem jadi “kadrun” alias kadal gurun; istilah yang kini naik daun  menggantikan “kampret”.


Karena kesadaran potensi pelintiran itulah lantas saya katakan kepada Pak Surya bahwa saya ingin ikut berkunjung. 


Saya, sebagai seorang Kristen ingin ikut berkunjung ke markas PKS. Selain saya, anggota rombongan lain yang juga kristiani adalah Saur Hutabarat dan Johnny Plate yang beragama Katolik.


Seharusnya, dengan kehadiran kami bertiga dalam rombongan itu, maka “gorengan” soal “kadrun” sudah tidak relevan lagi. Pakai logika saja, masa saya jadi “kadrun”? Kan, tidak nyambung. 


Next, bagaimana soal “gorengan” NasDem beroposisi? Ini juga harusnya pupus dengan kehadiran  Plate yang selain sebagai Sekjen NasDem juga adalah Menteri Kominfo saat ini. 


Posisi NasDem sejak awal jelas: mendukung Jokowi (bahkan menjadi partai politik yang pertama mendukung) dan partai koalisi pemerintah.


Lantas, mengapa harus kunjungi PKS?


Mengapa tidak? 


Pertama, NasDem sebagai partai di dalam pemerintahan ingin membangun komunikasi dengan yang di luar pemerintahan. Tujuannya agar sistem checks and balances berlangsung dengan baik -- istilah Pak Surya Paloh adalah “kritis-konstruktif.” 


Ini penting, agar kita menyudahi saling tuding tanpa berbasis argumentasi yang kuat dan didasari kepentingan yang lebih besar - tidak kepentingan politik jangka pendek semata. Bukankah kita sudah menghabiskan energi yang terlalu banyak untuk kegaduhan yang tidak substansial? 


NasDem berharap kegaduhan yang seperti itu bisa disudahi dan dengan saling menghormati antara partai politik yang di luar dan di dalam pemerintahan, maka kita akan bisa membangun tradisi kritis yang konstruktif.


Kedua, Pak Surya Paloh dan juga Presiden Jokowi sama-sama gundah dengan fenomena radikalisme-intoleran yang kini nyata kita hadapi. Pengalaman selama dua kali pemilu menunjukkan bahwa pembelahan di tengah masyarakat tidak efektif menghempang radikalisme-intoleran ini.


Karena itu, sudah saatnya mengajak lebih banyak pihak untuk bersama-sama tidak memberi tempat pada radikalisme intoleran itu. “Banyak pihak” itu tentu termasuk PKS yang berada di luar pemerintahan. Hal ini penting agar agenda antiradikalisme-intoleran itu bukan hanya milik pemerintah, melainkan milik seluruh komponen bangsa.


Ketiga, kok Pak Surya dan Pak Sohibul berangkulan sih? Ini yang saya sering bingung dengan mentalitas yang dewasa ini hidup di bangsa kita: susah lihat orang senang dan senang lihat orang susah!


Ketika dua pimpinan partai politik yang posisinya berseberangan (di luar dan di dalam pemerintahan) berpelukan, kan, bagus dong! Perbedaan tidak harus membuat kita tidak bisa berangkulan satu sama lain.


Seperti tulisan saya ini, Anda yang membacanya bisa saja berbeda pendapat - tapi kita tidak harus berkelahi. Anda dan saya bisa tetap berangkulan.


Esok pun, ketika saya ke gereja, dengan hati yang bersyukur saya bisa bersuka cita bahwa saya telah menjadi saksi bagaimana kasih bisa merajut tali persaudaraan kebangsaan dan persatuan di antara perbedaan.[]

,