Opini Detail

Langkah Nyata Menahan Laju Perubahan Iklim

Langkah Nyata Menahan Laju Perubahan Iklim

  • 07 Januari 2020
  • 183

Oleh H Charles Meikyansah, S.Sos, M.IKom

 

MENGAWALI tahun 2020, kita dihadapkan pada serangkaian bencana banjir yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia, terutama yang paling parah adalah musibah banjir di Jabodetabek. 


Menurut catatan Kompas, Rabu (4/12), ada sekitar 1.232 warga yang mengungsi di 269 tempat pengungsian. Jalur-jalur utama lumpuh seperti jalan tol, jaringan rel kereta listrik, pusat perbelanjaan, dan lain-lain. 


Di Banten, banjir merendam 60 desa/kelurahan yang tersebar di lima kabupaten/kota. Di luar wilayah Jabodetabek, banjir telah merendam 150 hektare pertanian bawang merah di Tegal dengan total kerugian berkisar Rp 7,5 miliar. 


Banjir terutama di Jabodetabek bukan hal baru, tapi bagian dari “rutinitas” ketika memasuki masa penghujan. Ada banyak faktor memang yang menyebabkan banjir, seperti land subsidence, sampah, penurunan muka tanah, dan sebagainya. 


Akan tetapi, ada faktor baru yang menyebabkan banjir di awal tahun ini sedemikian besar, yaitu curah hujan yang tinggi, bahkan tertinggi sepanjang sejarah. 


Curah hujan 377 mm per-hari merupakan curah hujan terbesar sepanjang sejarah sejak dilakukan pencatatan curah hujan pada tahun 1866. Besarnya curah hujan menunjukkan bahwa perubahan iklim (climate change) merupakan salah satu faktor yang terbesar terjadinya banjir yang terjadi awal tahun.


Hal ini menjadi penanda penting bahwa dunia sedang menghadapi perubahan iklim dan Indonesia menjadi salah satu yang sedang berpacu dengan dampak dari perubahan iklim. 


Apabila tidak ada langkah nyata untuk terus menekan upaya memburuknya perubahan iklim bahkan menuju krisis iklim (climate crisis), maka rententan bencana ke depan akan terus berdatangan dengan skala yang bisa jadi sangat besar. Perubahan iklim yang terus memburuk akan membuat rentetan bencana terus menerus.


Langkah Nyata


Pada skala makro, langkah nyata sebenarnya terus diupayakan, baik oleh pemerintah melalui pengarusutamaan kebijakan hijau (green policy), maupun dalam skala global dengan terus mendorong kesepakatan internasional untuk terus menekan laju pemanasan global seperti Conference of Parties (CoP) ke 21 di Paris, Prancis. 


Conference of Parties atau Konferensi Perubahan Iklim PBB yang ditujukan untuk mengevaluasi kemajuan dalam menangani perubahan iklim dan menegosiasikan perjanjian serta menetapkan pengurangan emisi gas rumah kaca yang merupakan dampak utama perubahan iklim di mana Indonesia merupakan negara yang telah diratifikasi oleh DPR RI.


Bagaimanapun juga, perubahan iklim harus menjadi kerja bersama negara-negara di dunia karena dampaknya tidak mengenal kedaulatan sebuah negara. Dengan keputusan Indonesia meratifikasi CoP 21, maka Indonesia berkomitmen untuk menahan laju pemanasan global di bawah 1,5°C -2°C di mana dampak buruk dari perubahan iklim terjadi pemanasan global mencapai titik 1,5°C - 2°C. 


Ke depan, perlu untuk terus mendorong pemerintah melakukan langkah strategis dalam upaya menahan laju dari perubahan iklim baik pengarusutamaan kebijakan hijau (green policy) seperti kebijakan untuk mendorong penggunaan infrastruktur hijau (green infrastructure) seperti rooftop gardens di gedung-gedung pemerintahan maupun swasta dan grey infrastructure seperti di lokasi pengolahan limbah.


Pada skala mikro, upaya untuk menahan laju perubahan iklim harus melibatkan partisipasi masyarakat. Pelibatan masyarakat penting sebagai upaya menyadarkan seluruh lapisan masyarakat untuk bahu membahu menurunkan laju perubahan iklim yang berdampak pada Indonesia dan dunia. 


Apabila pada level makro, saya, melalui parlemen terus mendorong kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengarusutamakan penurunan laju perubahan iklim, pada level mikro, pendistribusian bibit sebanyak 40.000 yang tersebar di 31 kecamatan di Kabupaten Jember merupakan langkah nyata pelibatan masyarakat untuk menekan laju perubahan iklim. 


Penanaman 40.000 bibit sebagai bagian dari penghijauan tidak hanya untuk menekan laju emisi karbon, juga untuk meminimalisasi bencana yang rutin terjadi di setiap musim penghujan seperti banjir dan tanah longsor. Jember memiliki sejarah buruk bencana banjir dan tanah longsor. 


Bibit tanaman produktif tersebut didistribusikan secara merata di 31 kecamatan di Kabupaten Jember dengan rincian 20.000 bibit tanaman buah dan 20.000 bibit tanaman kayu. Proses pendistribusian kepada masyarakat dilakukan secara bertahap, dimulai pada 3 Januari hingga beberapa hari ke depan.


Mengombinasikan penyelesaian secara makro maupun mikro akan mempercepat Indoenesia untuk mencapai target iklim nasional (Nationally Determined Contribution/NDC) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 hingga 41 persen di tahun 2030.


Secara keseluruhan, apa yang diurai di atas bermuara pada permasalahan ketidakseimbangan relasi manusia dengan alam yang diakibatkan pada eksploitasi berlebihan manusia terhadap alam yang mengganggu keseimbangan alam. Mengurangi laju perubahan iklim bukan lagi bahasan global yang sampai sekarang tidak semua negara menyepakatinya, maka langkah nyata kita sekecil apa pun setidaknya akan berdampak pada perbaikan yang lebih luas. 


Seperti butterfly effect di mana kepakan sayap kupu-kupu di Amazon bisa menyebabkan badai di Amerika Serikat, maka langkah kecil menanam pohon di ujung Desa Jelbuk hingga Kecamatan Ambulu – Jember akan menahan laju mencairnya es di kutub utara yang terdampak perubahan iklim. Semoga.


Charles Meikyansah,  Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi Partai NasDem

,