Opini Detail

Solidaritas Nasional Melawan Covid19

Solidaritas Nasional Melawan Covid19

  • 27 Maret 2020
  • 48

Oleh: Charles Meikyansah; Anggota DPR RI Fraksi NasDem


DI TENGAH Work From Home (WFH), sesekali saya melihat beranda media sosial saya. Isinya perdebatan tentang bagaimana harusnya kita merespon Covid-19. Bising memang, tapi saya senang karena semua ternyata mencintai Republik ini. Perhatian, kritik, masukan memang selayaknya merekah agar jalannya Republik sesuai cita-cita.


Dari seluruh perdebatan, ada yang lebih membahagiakan yaitu kepedulian seluruh elemen. Dari yang mengirimkan do’a agar seluruh tenaga medis selamat, membelikan makanan online untuk ojek online, sampai penggalangan dana melalui online untuk membeli ADP, masker, bahkan kepedulian untuk meringankan beban masyarakat yang rentan terhadap Covid-19 yang hampir semuanya digerakkan oleh pemuda.


Ketika awal Covid-19 menyerang Indonesia, kita hanya bergerak atas inisiatif individu maupun kelompok. Belum menjadi gelombang besar. Tapi sejak dua minggu setelah pasien pertama diindentifikasi sebagai suspect Covid-19, gelombang solidaritas membesar. 


Itu juga yang dikerjakan NasDem. Di awal Covid-19 ditemukan, kita sebagai kader maupun kelompok hanya bergerak secara sukarela yang jangkauannya terbatas seperti pembagian masker, hand sanitizer oleh beberapa kader maupun DPRT NasDem yang ada dilevel RT. 


Gerakan yang dimulai secara sukarela dan terus membesar membuat gelombang terus membesar tidak hanya kebijakan partai yang mengarusutamakan pencegahan dan penanggulangan Covid-19 tetapi juga menggerakkan seluruh elemen. 


Maka ketika Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh menghibahkan The Media Hotel and Tower, gelombang solidaritas di Partai NasDem terus membesar. Gelombang yang membentuk Swarm Intelligence (Kecerdasan Kolektif) berlandaskan kepada perilaku kolektif (collective behaviour), dan itulah yang membuat NasDem hari ini menjadi partai yang solid dari tingkat atas sampai bawah memerangi Covid-19. 


Tentu gelombang kebaikan tidak boleh berhenti tatkala kita masih dirundung kesedihan karena data yang menjadi korban Covid-19 terus meluas dan membesar. Maka kita tidak boleh berhenti berbuat untuk negeri. 


Partai NasDem hari ini memutuskan untuk memotong 50 persen gaji para legislatornya. Tujuannya agar kebaikan tidak boleh berhenti, agar kebaikan terus menjadi inspirasi. Solidaritas Nasional harus dihidupi agar kita satu melawan Covid-19. 


Maka ketika saya melihat gelombang besar para pemuda yang menggalang bantuan dan kekuatan, NasDem juga berada dalam satu resonansi dan satu energi bahwa solidaritas harus dihidupi agar kita bisa bahu membahu melawan Covid-19.


Saya yakin bahwa apa yang sekarang dikerjakan Partai NasDem dengan serentetan aksi mulai dari pembagian masker, hibah The Media Hotel and Tower sampai pemotongan gaji 50 persen dari para legislatornya akan menginspirasi para kader NasDem dan partai lainya.


Saya yakin resonansi kebaikan yang sekarang terus membesar khususnya di kalangan DPR yang dipotong gajinya sebesar 50 persen akan terus meluas hingga level DPRD bahkan para pejabat eksekutif baik di Pusat maupun di daerah. 


Begitu juga dengan resonansi yang terus akan melus dan terus menginspirasi tidak hanya di internal Partai NasDem tetapi juga di seluruh elite partai dan masyarakat. Maka ketika semua bergerak, gelombang akan terus membesar yang akan “menggulung” Covid-19. 


Hari ini sudah saatnya perbedaan di sepanjang tahun 2014 sampai 2019 terutama di media sosial dengan terpolarisasi dua kutub tajam sulit untuk disatukan, harus mulai kembali duduk bersama bahwa negara membutuhkan kerja sama dan solidaritas kita semua. Tentu ini bukan modal yang baik agar kita mampu menjadi negara besar di tahun mendatang. 


Menyongsong satu abad kemerdekaan kita dihadapkan pada rentetan peristiwa yang terus menguji kita sebagai bangsa juga sebagai negara. Dan kita mampu melewatinya dengan gotong royong dan solidaritas satu sama lainya, maka melawan pandemi Covid-19 kita juga akan mampu melewatinya. 


Di tengah musibah selalu ada hikmah. Di tengah bencana, kita harus kerja sama. Kemanusiaan yang utama. Saya jadi teringat ungkapan Seneca, filsuf Italia, yang mengatakan “Siaomo onde dello stesso mare, foglie dello stesso albero, fiori dello stesso giardino” (kita adalah ombak di laut yang sama, dedaunan di pohon yang sama, bunga di taman yang sama). Salam***

,