Opini Detail

Nelayan dan Wisata Bahari di Tengah Covid-19

Nelayan dan Wisata Bahari di Tengah Covid-19

  • 29 April 2020
  • 382

Oleh: Nico Ainul Yakin

Wakil Ketua DPW NasDem Jatim Bidang OKK


RABU, 28 April 2020 DPP Partai NasDem Bidang Maritim menggelar diskusi  bertajuk “Dampak Covid 19 Terhadap Nelayan dan Wisata Bahari”. Diskusi yang baru pertama kali diadakan dengan menggunakan aplikasi zoom online discussion ini berjalan baik dan menarik. 


Jika boleh mengklaim sebagai representasi peserta diskusi, saya harus angkat topi tinggi-tinggi kepada inisiator acara ini, Kakak Emmy Hafild (Ketua DPP Partai NasDem Bidang Maritim). 


Saya sudah lama mengenal Kakak Emmy Hafild di udara sejak tahun 1990–an, saat perempuan tangguh itu dikenal sebagai sosok yang gigih malang melintang sebagai aktivis lingkungan. Atas kegigihannya itu, ia disebut sebagai Hero of The Planet oleh majalah Time.


Diskusi yang dipandu langsung oleh Kakak Emmy Hafild ini dihadiri Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem, Kakak Ahmad Ali dan sejumlah elite NasDem lainnya. Hampir 100 peserta diskusi mengikutinya dengan seksama dan antusias. 


Mereka menyampaikan temuan-temuannya di daerah menyangkut pandemi Covid 19 dan dampaknya terhadap nelayan dan wisata bahari. Tak hanya itu, sejumlah masukan juga disampaikan di forum diskusi ini sebagai solusi terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan eksistensi para nelayan dan wisata bahari di tengah mewabahnya virus tersebut. 


Tawaran konsep sebagai sebuah solusi disampaikan kepada DPP Partai NasDem untuk kemudian diteruskan kepada legislator NasDem dan pemerintah sebagai pemegang otoritas resmi.


Saya mencatat setidaknya ada dua hal penting yang patut digaris-bawahi dari jalannya diskusi.  


Pertama, pandemik Covid-19 menjadi momen yang sangat memprihatinkan bagi para nelayan dan pelaku usaha perikanan skala kecil atau nelayan tradisional. Situasi ini telah mengakibatkan pendapatan harian mereka mengalami penurunan yang sangat tajam dan mengancam eksistensi mereka. 


Kedua, pandemik Covid 19 juga mengancam eksistensi kawasan wisata bahari yang sebelumnya ramai, tiba-tiba mendadak sepi. Jutaan pekerja terancam dirumahkan karena sebagian besar kawasan wisata bahari ditutup atau tak ada lagi wisatawan yang berkunjung ke sana.


Terhadap dua hal di atas, peserta diskusi merekomendasikan solusi agar pemerintah dapat menstabilkan harga ikan agar nelayan terhindar dari kerugian dan produksi ikan tetap terserap dengan baik. Selain itu, perlu dilakukan optimalisasi pelaksanaan sistem resi gudang (SRG) ikan atau dikenal dengan sistem tunda jual. Hal itu sangat membantu nelayan dan pembudidaya ikan agar tidak mengalami kerugian di saat harga turun karena wabah corona. Para nelayan dapat menitipkan produknya di gudang beku dan dapat menjualnya kembali saat harga ikan stabil.


Terkait wisata bahari, selain memperhatikan nasib pelaku pariwisata, pemerintah juga harus memperhatikan nasib pekerja yang sehari-harinya menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata bahari. Kini mereka sudah tidak ada lagi pemasukan untuk anak istri. Yang diharap hanya bantuan riil dari pemerintah sampai berakhirnya pandemi corona.


Catatan di atas tentu bukanlah kesimpulan dari hasil diskusi. Saya yakin masih banyak hal yang belum terungkap dalam tulisan ini. Oleh karena itu, kita tunggu saja laporan resmi dari Kakak Emmy Hafild selaku pemegang komando tertinggi bidang kemaritiman Partai NasDem.(*)

,