News Detail

Amato, Buku Akting Didi Petet dan NasDem

Amato, Buku Akting Didi Petet dan NasDem

  • 09 Agustus 2018
  • 203
  • NasDem Sulut
  • Amato Assagaf

JAKARTA (9 Agustus): Bakal calon anggota legislatif (bacaleg) dari Partai NasDem untuk DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Ahmad Assagaf atau yang akrab disapa Amato Assagaf, akhir minggu  lalu meluncurkan buku karangannya bertajuk 'Buku Aktingnya Didi Petet' di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM).

Amato Assagaf adalah seniman Manado alumni Institut Kesenian Jakarta Prodi Teater (Seni Pertunjukan), juga dikenal sebagai budayawan dan filsuf yang telah memantapkan diri bergabung dengan Partai NasDem.

Amato adalah putra bungsu mendiang tokoh pluralis KH Arifin Assegaf-pendukung tulen Joko Widodo-, telah menuliskan biografi akting seorang aktor kondang mendiang Didi Petet.

 Didi Petet adalah aktor multi talenta setelah heboh main sebagai tokoh banci dalam film 'Catatan Si Boy'.

“Akhirnya, kita boleh salut dan berbangga, hanya seorang Amato-lah yang bisa menuliskan panduan praktis menjadi aktor dengan ‘Metode Didi’ setelah lama kita hanya punya tiga buku seni akting yaitu ‘Persiapan Aktor ’Stanislavski, ‘Bermain Drama’ Rendra, ‘Akting bagi Pemula’ Remy Sylado,” ungkap Reiner Emyot Ointoe, pengamat seni yang hadir dalam acara tersebut.

Dengan hadirnya 'Buku Aktingnya Didi Petet' yang ditulis seorang seniman dari Manado, setidaknya hamba-hamba kebudayaan di Sulawesi Utara masih punya harapan menghidupkan seni dan kebudayaan, setelah warga ditenggelamkan oleh rezim yang mengidap 'tuna budaya'.

“Ketika hasrat kekuasaan hendak menghanguskan kebudayaan, maka seni-lah pemadam ajaib yang akan menyemprotkan bermetrik ton ide-ide kebudayaan,” ujarnya sambil mengutip Dostojevski–Die Welt wird die Schönheit gerettet–Senilah yang selamatkan dunia ketika politik selalu berupaya keras melumatnya dari keranjang retorika. 

Perjalanan Amato untuk menangkap sosok Didi Petet yang kemudian dituangkannya dalam 'Buku Aktingnya Didi Petet' memakan waktu cukup lama.  Amato harus 'nyantrik' bersama Didi Petet hampir tiga tahun lamanya.

"Setelah beliau tiada, baru aku sadar kesalahan apa yang aku perbuat, kenapa buku itu tidak jadi-jadi. Kesalahannya adalah, apa yang aku tangkap dari seorang Didi Petet gak bisa hanya dituangkan dalam satu buku. Harus lebih," tegas Amato dalam sebuah perbincangan di Godila Cafe, Cikini, Gondangdialama, Jakarta.

Kini hari-hari Amato akan disibukkan dengan aktivitas politik.  Amato harus maju sebagai bakal calon anggota legislatif provinsi Sulawesi Utara untuk membawa aspirasi yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun. 

"Saya membutuhkan partai yang tidak akan mengamputasi, mencincang-cincang, aspirasi masyarakat yang kelak saya wakili," ungkapnya dalam sebuah tulisan opini. 

Pilihan Amato akan Partai NasDem karena dirinya membutuhkan partai politik bagi cita-cita politiknya dan sekian banyak orang Manado yang merasa terwakili olehnya. 

"Saya memilih Partai NasDem sebagai sebuah partai politik yang akan membantu saya menjalankan tugas saya sekarang dan nanti, bukan semata sebagai kendaraan legal-formal agar saya bisa menduduki jabatan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I Sulawesi Utara, tetapi karena saya ingin berjuang sebagai politisi, bukan sebagai kutu berdasi dengan jabatan keren," pungkasnya. (*)