News Detail

Lestarikan Adat Banjar, Caleg NasDem Gelar Tradisi Mandi 7 Bulanan

Lestarikan Adat Banjar, Caleg NasDem Gelar Tradisi Mandi 7 Bulanan

  • 11 Maret 2019
  • 1469
  • NasDem Kota Banjasmasin
  • Hj Helda Larasaty
  • Calon Legislatif


BANJARMASIN (11 Maret):  Kelahiran anak pertama selalu menjadi hal yang mendebarkan dan penuh harap. Di Bumi Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan (Kalsel) ada berbagai prosesi untuk melestarikan adat guna menyambut dan mendoakan calon jabang bayi yang dikandung oleh ibunya.  Salah satunya adalah Upacara Daur Hidup Mandi Tian Mandaring yang dilakukan Suku Banjar. 


Upacara ini dilakukan khusus untuk kehamilan anak pertama di usia tujuh bulan. Ketika usia kehamilan mencapai tujuh bulan maka diadakan upacara mandi yang disebut Mandi-mandi Manujuh Bulanan (mandi tujuh bulan).


Acara tujuh bulanan tersebut digelar Hj Helda Larasaty, Caleg Partai NasDem untuk DPRD Provinsi Kalsel No Urut 2, di Jalan Ramin Kompleks Banjar Indah, Banjarmasin, Kalsel, Sabtu (9/3), untuk anaknya Gusti Mega Indah Mawarni yang kini menginjak kehamilan tujuh bulan.


Di ruang tengah si ibu hamil duduk di atas alas kain berlapis di hadapan tamu-tamu. Rambutnya disisir dan disanggul. Pada saat itu juga ditepungtawari, yaitu diperciki minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tepung tawar.


Setelah itu dibacakan doa selamat dan diakhiri dengan si ibu hamil menyalami semua undangan yang hadir sebagai bentuk rasa terima kasih dan mohon doa keselamatan.


Hj Helda Larasaty berharap para undangan senantiasa memberikan doa kebaikan kepada Gusti Mega Indah Mawarni dan anak yang dikandungnya menginjak  usia tujuh bulan. 


“Mari kita mendoakan kebaikan dan kesehatan bagi ibu dan anak yang dikandung Gusti Mega Indah Mawarni,” katanya.

Pada ritual itu, si ibu hamil (Gusti Mega Indah Mawarni) memakai pakaian indah-indah dan perhiasan sambil memangku sebuah tunas kelapa yang diselimuti kain kuning menghadapi sajian 41 macam kue.


Khusus tempat mandi-mandi berbentuk persegi diberi pagar tali yang digantungi kembang renteng, di sela-selanya diikat berbagai kue, uang dan buah pisang. Kemudian empat sisi dililit dengan kain khas Banjar Sasirangan atau kain berwarna kuning keramat.


Air yang digunakan untuk mandi direndam bunga dan mayang yang sudah dibacakan surah Yasin atau Burdah.


Wanita yang memandikan si ibu hamil jumlahnya selalu ganjil, sekurang-kurangnya tiga dan paling banyak tujuh orang. Biasanya para kerabat dekat.


Saat si ibu hamil disirami dengan air bunga biasanya juga dibedaki dengan bedak beras kuning lalu mengeramasinya.


Kembang mayang dikeluarkan dari rendaman dan diletakkan di atas kepala wanita hamil ini dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dengan posisi mayang yang berbeda-beda. Kali ini juga airnya harus dihirup oleh wanita hamil itu.


Semua prosesi yang dijalani intinya adalah memohon pada Allah. Tunas kelapa yang dipangku dan kemudian digendong melambangkaan si jabang bayi yang kelak dapat tumbuh di mana saja dan berguna bagi masyarakat.


Tidak hanya mandi tujuh bulanan, Hj Helda Larasaty juga menggelar haul dan manakib Guru Sekumpul (KH Muhammad Zaini Ghani Al Banjari) dan peringatan Isra Miraj dengan penceramah Hj Rusdiana. 


Dalam kesempatan tersebut hadir pula anak-anak Panti Asuhan Putri Aseri Lingkar Selatan Banjarmasin. 


“Ini bentuk kecintaan kami abah Guru Sekumpul dan Nabi Muhammad SAW,” tambah pengurus Garda Wanita Malahayati Partai NasDem Kalsel ini. (NasDem Kalsel/Afdi/*)