News Detail

SYL Sebut Tiga Kunci Indonesia Jadi Negara Maju

SYL Sebut Tiga Kunci Indonesia Jadi Negara Maju

  • 24 Agustus 2019
  • 88
  • DPP NasDem
  • Syahrul Yasin Limpo



JAKARTA (24 Agustus): Ketua DPP Partai NasDem Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebut tiga kunci utama untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju.


 Pertama, inovasi. Tanpa terobosan itu, Indonesia bakal jalan di tempat.

 
"Inovasi harus dikedepankan. Penyiapan anggaran riset di tahun-tahun mendatang disiapkan dalam jumlah signifikan besarnya dibanding sebelumnya," ujar Syahrul di Jakarta, Jumat (23/8). 
 

Mantan gubernur Sulawesi Selatan dua periode ini melanjutkan, kemudian harus membangun kolaborasi antaranak bangsa. Hal ini sesuai dengan ide Presiden Joko Widodo untuk menggenjot kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).


"Jadi sambil melakukan investasi untuk membangun sistem dan manusia yang mengoperasikannya, kolaborasi adalah pilihan terbaik," urai dia.
 

Kolaborasi yang dimaksud Syahrul tak sekadar soal kualitas SDM. Dia mencontohkan penggunaan bahan bakar campuran di sarana transportasi umum. Jika konsisten, maka Indonesia bakal menciptakan ekosistem ramah lingkungan pada kendaraan.

 

Jokowi, tambah SYL,  menekankan untuk terus membuat sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Keinginan Jokowi agar Indonesia menciptakan sesuatu yang lebih baik dari bangsa lainnya.

 
"Untuk mencapai kemajuan itu lebih cepat, kita harus berani berkolaborasi sambil melakukam adopsi dan investasi teknologi-teknologi terkini dari negara-negara lain yang lebih dahulu menguasainya," ucap Syahrul.
 

Poin terakhir, ialah investasi. Politikus NasDem ini membeberkan ada tiga industri yang harus didukung penuh investasi. Ketiganya yakni telekomunikasi, agrobisnis  dan transportasi.

 

Selain memiliki daya dorong terhadap pembangunan ekonomi, ketiga sektor industri ini dinilai konsisten dalam menyentuh perekonomian rakyat secara mikro.

 
"Pada akhirnya, tiga pilihan industri tersebut bisa mengangkat kesejahteraan rakyat Indonesia dan lapangan kerja bagi generasi angkatan kerja baru lebih banyak terbuka," pungkas dia.(Medcom/*)