News Detail

Rachmad Gobel Usulkan Dua Solusi Sikapi Kemarau di Gorontalo

Rachmad Gobel Usulkan Dua Solusi Sikapi Kemarau di Gorontalo

  • 12 September 2019
  • 270
  • DPP NasDem, Rachmad Gobel


GORONTALO (12 September): Calon  Anggota Legislatif (Caeg)  DPR RI terpilih dari Partai NasDem Dapil Provinsi Gorontalo, Rachmad Gobel (RG) menginstruksikan Fraksi NasDem DPRD di Gorontalo segera menyikapi dampak yang dirasakan masyarakat akibat kemarau panjang yang melanda Gorontalo. 


“Harus ada langkah konkret yang didorong oleh Fraksi NasDem kepada pemerintah untuk menyikapi dampak yang timbul dari kemarau panjang,” terang Rachmad Gobel di Jakarta, Rabu (11/9).

Menurut RG, tidak tepat alasan pemerintah menjadikan faktor alam sebagai alasan. Sebab banyak alternatif teknologi yang tersedia untuk menjawab masalah kelangkaan air.


 Selain itu juga, pemerintah memiliki sumber daya anggaran yang bisa digunakan untuk membiayai kegiatan yang bersifat mendesak untuk segera dilakukan.


“Terasa ganjil menurut saya, di zaman sudah merdeka, ada sebagian rakyat kita yang justru belum merdeka, lantaran masih tersiksa dengan kelangkaan air. Ironisnya lagi, kita menyalahkan alam sebagai alibi untuk menyembunyikan ketidakmampuan kita, merencanakan pembelanjaan anggaran yang antisipatif terhadap perubahan iklim dan memanfaatkan teknologi yang murah,” kata anggota legislatif DPR RI itu.

Menurut RG, ada dua solusi konkret  yang harus diajukan Fraksi NasDem kepada masing-masing pemerintah daerah.


Pertama, mendistribusikan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Hal itu mendesak untuk segera dilakukan pemerintah daerah, karena air merupakan kebutuhan pokok untuk bisa bertahan hidup.


“Sebelum musim kemarau ekstrem  melanda Gorontalo, beberapa desa dan kelurahan sudah mengalami kelangkaan air bersih, semestinya pemerintah sudah harus belajar dari peristiwa itu, sehingga ketika kemarau ekstrem  terjadi, tak ada lagi rakyat yang berteriak meminta air bersih,” ketus RG.

Langkah kedua yang harus dilakukan pemerintah adalah melakukan kebijakan anggaran yang mempertimbangkan dampak perubahan iklim, agar bisa menyesuaikan kebutuhan pendanaan bagi penerapan teknologi, seperti halnya dilakukan negara-negara miskin sumber daya air, seperti negara-negara Arab dan timur tengah.


Penerapan teknologi itu menjadi penting dilakukan pemerintah, lantaran struktur perekonomian Gorontalo masih bersifat agraris. Masyarakat Gorontalo yang tinggal di  perdesaan sebagian besar masih menggantungkan pendapatannya dari mengolah lahan pertanian mapun menjadi buruh tani. Artinya, jika lahan usahanya terganggu akibat dampak kemarau, maka hal itu akan ikut bukan hanya mengganggu pembangunan ekonomi Gorontalo, namun juga mengabaikan pemenuhan kebutuhan hidup rakyat yang menjadi tujuan dan sasaran pembangunan itu sendiri.


“Tahun ini, kita sudah naik peringkat keempat nasional, provinsi dengan prosentase penduduk miskin terbesar di Indonesia, sementara pertumbuhan perekonomian kita masih bergantung pada pertanian, jika kemarau melanda Gorontalo, selama dua tahun, maka sudah bisa dipastikan, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestic Regional Bruto kita pasti akan menurun, dan itu akan sejalan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi Gorontalo,"  papar RG. 

Perlu Diketahui, kemarau panjang yang terjadi di Gorontalo, telah menyebabkan beberapa desa dan kelurahan mengalami kesulitan air bersih. Selain itu, kemarau juga telah menyebabkan petani sawah mengalami gagal panen. (*)