News Detail

Sikap Politik Surya Paloh adalah Sikap Kenegarawanan

Sikap Politik Surya Paloh adalah Sikap Kenegarawanan

  • 09 November 2019
  • 77
  • NasDem Majalengka
  • Wawan Darmawan



JAKARTA (9 November): DPD Partai NasDem Kabupaten Majalengka memberikan dukungan penuh terhadap semua pokok pikiran yang disampaikan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh dalam pidato sambutan sekaligus Pembukaan Kongres II NasDem dan HUT ke-8 Partai NasDem yang digelar di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Jumat (8/11).


"Substansi pidato beliau soal 'merangkul teman' walaupun berbeda pikiran, kepentingan bahkan posisi politik sekalipun adalah sikap-sikap kenegarawanan Bang Surya Paloh," ujar Ketua DPD NasDem Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Wawan Darmawan kepada partainasdem.id, seusai mendengarkan arahan Surya Paloh.

Ditambahkan Darmawan, sikap yang ditunjukkan Surya Paloh mencerminkan seperti apa yang disampaikannya bahwa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara jauh lebih penting dibanding mementingkan kepentingan partai, termasuk kepentingan Partai NasDem. 


"Kepentingan membangun kebersamaan dan persatuan bangsa Indonesia jauh lebih penting dari segalanya ketimbang semata-mata mementingkan kelompok dan golongan partai politik sekali pun," tegas Wawan.

Karena pada dasarnya, tambah Wawan, partai politik dan semua komponen yang mengelola serta para pemimpinnya adalah anak-anak bangsa yang dengan segala idealisme dan sikap politiknya tidak lepas dari keinginan besar untuk merawat negara dan bangsa ini menjadi bangsa dan negara yang maju, rakyatnya sejahtera, serta berkeadilan sosial. 


"Mendirikan partai politik bukan semata-mata mengejar kekuasaan, pun sama sekali juga bukan bermaksud menciptakan intrik, kerap selalu curiga, bahkan bermaksud membiarkan kekuatan politik lain mati sekarat hanya karena didasari latar belakang dendam politik dan tercipta musuh bebuyutan. Ini adalah sikap politik yang luar biasa," tegas Wawan. 

Mantan wrtawan itu pun mengurai, pemikiran Surya Paloh harus menjadi prinsip agar apa yang diucapkan, dikatakan dan dilaksanakan bisa selaras. Tidak menjadikan jargon-jargon semu seperti aku paling Pancasila, hanya karena ada kepentingan politik, sementara dalam praktiknya sangat ortodoks dan manipulatif. 


"Rakyat Indonesia dan kita semua sudah jenuh dengan berbagai intrik, kecurigaan, dan provokasi yang hanya didasari oleh niat dan kepentingan sempit," pungkas Wawan.(*)
Berita Terkini