News Detail

Tanpa Mahar, Cara Ampuh Cegah Pemimpin Korupsi

Tanpa Mahar, Cara Ampuh Cegah Pemimpin Korupsi

  • 11 Desember 2019
  • 393
  • DPP NasDem Willy Aditya


JAKARTA (11 Desember): Partai NasDem berkomitmen melahirkan pemimpin yang berintegritas tinggi. Sejumlah cara diterapkan saat merekrut calon pemimpin.


"Rekrutmen tanpa mahar ini sudah dilakukan," kata politikus NasDem Willy Aditya di Jakarta, Selasa (10/12). 

Willy menilai komitmen tanpa mahar seharusnya mutlak diterapkan seluruh partai politik. Instrumen ini dinilai paling ampuh buat menekan ongkos politik dan mencegah pemimpin korupsi. 


"Bagaimana orang mau berintegritas kalau kita di awal saja sudah mengikatkan batu di kakinya, bagaimana dia mau terbang," kata dia. 

Ia juga mengatakan, harus ada titik tengah antara popularitas dan elektabilitas dalam proses rekrutmen calon pemimpin. Dia mengakui tidak semua partai punya pemahaman yang sama saat menyeleksi calon pemimpin. Menurutnya partai baru seperti NasDem harus menjadi partai modern dengan cara membuka diri.


"Tinggal membuka diri itu instrumennya apa? Nah kalau NasDem kan menggunakan rekrutmen terbuka untuk putra putri terbaik," kata politisi NasDem dari daerah pemilihan Jawa Timur-11 itu. 

Paradigma itu tidak sama dengan partai lama. Willy mengatakan partai lama cenderung tidak merekrut secara terbuka. 


"Karena apa? Karena mereka sudah punya banyak stok. Seperti NasDem kan pilihannya tentu membuka diri," ujar Willy. 

Menurut Willy, demokrasi Indonesia harus lebih dimatangkan dengan memaksimalkan partisipasi rakyat. Saat ini, rakyat tidak boleh cuma siap mengusung tapi juga didorong mendanai. Pola ini diterapkan di Amerika Serikat. 


"Di Amerika banyak politikus hebat, pemimpin hebat, itu lahir didanai oleh rakyat," ujarnya. 

Dia menambahkan, demokrasi terbuka dan cenderung liberal yang dianut Indonesia berbiaya mahal. Konsolidasi kapital dianggap hampir menjadi indikator paling dominan dalam proses demokrasi. 


"Kalau kita menghidupkan demokrasi liberal, senang tidak senang, suka tidak suka, mau tidak mau, pertarungan kapital tidak terelakkan," kata dia.(Medcom/*)