Sosok Detail

Willy Aditya, Matang Bersama Rakyat

Willy Aditya, Matang Bersama Rakyat

  • 04 November 2017
  • 631

SEPERTI anak-anak desa pada umumnya, Willy Aditya kecil ikut mandi berhujan-hujanan, belajar mengaji dan bermain bola.

Willy lahir di Solok, 12 April 1978 di sebuah desa kecil di Sumatera Barat. Ia tumbuh dalam suasana pedesaan yang asri dan harmonis.


Willy menempuh pendidikan dasar dan menengah di Sumatera Barat, kemudian menjadi mahasiswa undangan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1997. 


Tahun 2005, Willy mendapat beasiswa untuk mengecap pendidikan di tanah Parahyangan, program magister di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bekerja sama dengan Cranfield University, Inggris untuk program double degree-nya.


Willy dikenal sebagai seorang aktivis dan intelektual muda yang sarat pengalaman lapangan dan organisasi. Ia merupakan sosok yang telah hidup dan belajar bersama rakyat, dan mampu berkiprah dengan gagasan bernas di panggung politik.


Anak dari pasangan Syamsuddin Lubis dan Asna Hasan ini sudah padat pengalaman dalam memperjuangkan hak petani, buruh, kaum marjinal urban, dan mahasiswa. 


Tahun 1998, sebagai pemimpin aktivis mahasiswa, Willy menjadi bagian terdepan barisan mahasiswa menggelorakan reformasi di Indonesia. Ia pun dipercaya sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UGM tahun 1999. 


Pada tahun 2003 ia menjadi pendiri Front Mahasiswa Nasional (FMN) dan menjadi Ketua Umum FMN pertama. Organisasi mahasiswa ini memperjuangkan pendidikan berkualitas yang mampu dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.


Tak hanya di barisan perjuangan mahasiswa, Willy Aditya juga ikut bersama petani melakukan advokasi dan pendampingan, bahkan menyuarakan aspirasi bersama petani. Semasa masih mahasiswa di tahun 1998, ia bersama Romo Mangunwijaya dan 1.500 orang petani se-Jateng dan Yogyakarta menyerukan penolakan terhadap pestisida karena merusak tanah pertanian dan mendukung pertanian organik.


Di tahun 1999-2002 ia juga aktif melakukan pendampingan petani dan hidup bersama petani Wonosobo, Magelang, Prambanan, dan Pagilaran. Willy juga tak gentar memimpin aksi petani Kulonprogo yang berkonflik tanah dengan Kodim Kulonprogo di tahun 2000. 


Aktivitasnya di Serikat Petani Pasundan (SPP), Bina Desa, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan banyak kelompok serikat tani lainnya, membawanya juga memimpin aksi 20.000 petani di Bundaran HI tahun 2003 yang tergabung dalam AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria).


Willy tak menanggalkan semangat dan gagasan demi perbaikan dan pengembangan praktik berbangsa dan berpolitik yang selalu ia perjuangkan. Hal ini pula yang mendorongnya mendirikan Sekolah Demokrasi Tangerang di tahun 2007. Sebuah sekolah yang ditujukan untuk kalangan praktisi politik, mahasiswa, hingga pegawai negeri agar bisa berperan dalam proses demokrasi di Indonesia, dan mampu mengawasi pemerintah dalam hal kebijakan dan anggaran.


Fokus perjuangan Willy tidak hanya berhenti di situ. Setelah ia lulus sebagai sarjana filsafat, Willy mendirikan Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di tahun 2004. Organisasi ini menghimpun buruh, petani, pemuda, dan mahasiswa dari berbagai daerah, sebagai sebuah kekuatan rakyat yang tetap terlupakan, pun setelah reformasi bergulir.


Selama tahun, 2005 hingga 2006 ia tinggal di permukiman buruh di Tangerang dan aktif mengorganisasi dan mengadvokasi buruh. Selain itu, ia juga aktif dalam ABM (Aliansi Buruh Menggugat), pendiri KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) di tahun 2004, dan banyak terlibat dalam aktivitas advokasi bagi buruh di Jawa.


Konsistensi dan kegigihannya dalam berjuang bersama petani, buruh, dan mahasiswa serta kepiawaiannya dalam berkomunikasi dengan gagasan yang bernas, membuatnya dipercaya oleh Surya Paloh sebagai salah satu konseptor dan deklarator Ormas Nasional Demokrat. Tak hanya itu, Willy juga menjabat sebagai Ketua Umum Liga Mahasiswa NasDem, dan saat ini menjabat sebagai Ketua DPP Partai NasDem Bidang Media dan Komunikasi Publik.


Selain mendirikan Sekolah Demokrasi Tangerang, kecintaannya akan dunia akademis dan kepeduliannya terhadap kualitas demokrasi di Indonesia, ia wujudkan dengan mendirikan lembaga Populis Institute di tahun 2010. Lembaga ini merupakan lembaga kajian politik dan kebijakan publik, dan hingga kini ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif.


Willy juga aktif menulis opini di harian nasional semenjak masih kuliah hingga kini. Bahkan sudah menerbitkan dua buku yang berjudul Mari Bung Rebut Kembali (kumpulan pidato Surya Paloh) tahun 2012, dan Indonesia di Jalan Restorasi (Pemikiran Politik Surya Paloh) di tahun 2013.

[]