Pemda Diminta Cegah Konversi Lahan Pertanian
JAKARTA (16 Januari): Wakil Ketua DPR RI Rachmad Gobel memberikan perhatian kepada laju konversi lahan pertanian yang terus meningkat. Ia meminta pemerintah daerah ikut terlibat dalam pencegahan alih fungsi lahan pertanian.
“Kita akan mendorong daerah untuk memiliki pemikiran yang sama. Pencegahan alih fungsi lahan pertanian bukan hanya tugas Kementerian Pertanian (Kementan) atau Pemerintah Pusat. Pemerintah kabupaten, kota, atau provinsi harus ikut terlibat. Dibutuhkan komitmen yang sama dalam mewujudkannya,” kata Gobel seusai bertemu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, di Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (14/1).
Menurut politisi Partai NasDem itu untuk menahan meningkatnya laju konversi lahan karena masyarakat belum melihat bertani sebagai usaha yang menguntungkan. Padahal bila dikelola secara profesional, pertanian bisa menghasilkan keuntungan yang besar.
“Banyak yang menjual lahan pertaniannya karena menganggap pertanian itu keuntungannya kecil. Sebetulnya keuntungan dari usaha pertanian tidak kalah dengan industri jika dikelola dengan benar,” jelas Legislator NasDem dari daerah pemilihan Gorontalo itu.
Rachmad Gobel menegaskan laju konversi lahan pertanian perlu dikendalikan karena lahan merupakan faktor esensial dalam kemajuan pertanian Indonesia. Bagi Gobel, pertanian merupakan ujung tombak dan fondasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Negara kita adalah negara besar. Untuk bisa mewujudkan NKRI yang kuat, maka pertanian harus menjadi fondasi yang kuat. Bagaimana kita bisa mewujudkan kedaulatan tentunya dimulai dengan ketahanan pangan,” tandas Gobel.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo juga menegaskan bahwa pihaknya akan melawan usaha mengalihfungsikan lahan pertanian. Ia minta agar perlawanan pada alih fungsi lahan dilakukan secara sinergi dengan pro-aktifnya peranan pemerintah daerah melakukan pencegahan optimal.
Secara hukum, pengalihfungsian lahan pertanian sudah diatur dalam UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Aturan ini mengancam siapa saja yang secara tidak langsung melakukan alih fungsi lahan. Pelanggar aturan tersebut akan masuk ranah tindak pidana dengan ancaman kurungan selama 5 tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp5 miliar.
"Ada 267 juta penduduk Indonesia, yang harus dipenuhi pangannya. Apa yang mereka makan tergantung kerja keras dan yang kita hasilkan. Oleh karena itu, kita tidak boleh main-main karena ini menyangkut harga diri bangsa. Persoalan alih fungsi lahan harus kita lawan secara bersama-sama," tegasnya saat Rapat Kerja Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 2020 di Depok, Senin (13/1). (Kementan/*)