Pancasila Harus Dipraktikkan, bukan Hanya Dipidatokan

JAKARTA (1 Juni): Pancasila harus didialogkan dengan perkembangan dan perubahan zaman yang terus terjadi. Dengan mendialogkannya, Pancasila akan selalu hidup dan mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan zaman sekompleks apapun.

Salah satu manifestasi dari upaya mendialogkan itu adalah dengan menyelenggarakan lomba bagi generasi penerus bangsa. Seperti yang dilakukan Legislator Partai NasDem Willy Aditya lewat gerakan “Pancasila di Rumahku”. 

Di dalam gerakan itu ada berbagai cara atau program yang dilakukan. Salah satunya adalah lomba penulisan dan pembuatan video pendek bagi kalangan pelajar dan mahasiswa bertemakan Pancasila.

“Dengan lomba tersebut, secara tidak langsung, kita menggali narasi ber-Pancasila dan memberi ruang dialog antara Pancasila sebagai produk pemikiran dengan alam pikir generasi muda saat ini terhadapnya. Kita jadi bisa melihat bagaimana pemaknaan mereka terhadap Pancasila sebagai nilai kehidupan bersama,” kata Willy dalam keterangan tertulisnya di momen peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6) di Jakarta.

Menurut Legislator NasDem itu, sebagai pilot project, animo kaum muda cukup bagus meski di tengah pandemi corona. Ke depan, akan diadakan berbagai jenis lomba lain di kota-kota lainnya.

“Kemarin kita sudah memberi apresiasi dan penghargaan kepada enam pemenang. Tiga dari lomba penulisan dan tiga lagi dari lomba video pendek. Dari hasil yang ada, kita patut bersyukur generasi muda punya pemahaman dan pemaknaan yang baik terhadap Pancasila. Cuma perlu diasah lebih lanjut,” ungkapnya.

‘Pancasila di Rumahku’ digagas Willy sebagai salah satu cara melakukan tugasnya sebagai anggota MPR, yakni sosialisasi pilar MPR RI. Dalam refleksinya, menyosialiasikan semangat kebangsaan yang di dalamnya ada Pancasila, konstitusi dan semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak bisa hanya dengan pidato atau ceramah.

“Ia harus disampaikan dengan praktik yang bisa menjadi contoh atau pelajaran (best practice). Ia tidak bisa hanya disampaikan dalam berbagai pidato atau diperingati dalam ragam upacara. Jika hanya begitu, Pancasila hanya akan menjadi mitologi dan mengalami proses mistifikasi,” tutur Willy.

Oleh karena itulah, ikhtiar ini dilaksanakan dengan enam kerangka aksi. 

“Pertama, berwatak gerakan; bersifat partisipatori, ada target group yang jelas, metodenya induktif, kontekstual, dan terakhir, dilaksanakan dengan konvergensi media. Artinya berbagai paltform media kita gunakan,” jelas lulusan Filsafat UGM itu.

Pancasila di Rumahku juga menjadi salah satu manifestasi best practice yang ingin diwujudkan oleh Willy. Menurutnya, hal semacam itu sama dengan ketika Bung Karno menggali nilai-nilai kepribadian bangsa yang kemudian disebut Pancasila, dulu.

“Bung Karno sendiri mengatakan, Aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah.’”

“Ini menunjukkan bagaimana Bung Karno berdialektika, mencari nilai-nilai yang bisa menjadi dasar sekaligus pemersatu bangsa, lewat interaksi dan dialog dengan berbagai kebudayaan dan kepribadian bangsa-bangsa di Nusantara,” imbuhnya.

Willy menandaskan, kelima sila Pancasila itu harus terus berada di ruang dialog dengan segala perkembangan dan perubahan yang ada. Dengan begitu, Pancasila akan senantiasa hidup, baik sebagai nilai hidup bersama maupun produk pemikiran.

Ke depan, Wakil Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI itu mengatakan, gerakan Pancasila di Rumahku akan berlanjut di kota-kota lain dengan berbagai program dan lomba lainnya. 

“Nanti akan kita tambah varian program dan lombanya. Lomba menulis surat misalnya. Intinya, semangatnya akan selalu berpijak pada enam kerangka aksi tadi,” tutupnya.(*)

Add Comment