Pemerintah Diminta Fasilitasi Santri Kembali ke Pesantren
PROBOLINGGO (1 Juni): Pada masa normal, para santri biasanya kembali ke pondok pesantren pada pertengahan bulan Syawal, seusai menjalani masa libur Ramadan dan Idul Fitri di rumah masing-masing. Namun pandemi Covid-19 yang masih berlangsung membuat beberapa pengasuh pesantren berpikir ulang menyuruh santrinya kembali ke pesantren.
Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat DPP Partai NasDem, H Hasan Aminuddin berpendapat, sebaiknya para santri segera kembali ke pesantren masing-masing. Hasan meminta pengasuh pesantren tidak ragu menyambut kedatangan santri yang kembali ke pesantren.
“Santri sudah waktunya kembali ke pesantren seperti tahun-tahun sebelumnya. Kalau tidak kembali sekarang, lalu kembalinya kapan? Jangan lupa, pendidikan juga penting,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI itu dalam rilis yang dikirimkan ke partainasdem.id, Senin (1/6).
Berdasar data yang diterima Hasan, lebih dari 28 ribu pesantren tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan jumlah seluruh santri lebih dari 18 juta jiwa. Jika santri tidak kembali sesegera mungkin ke pesantren, maka pendidikan mereka akan terganggu. Padahal pendidikan di luar pesantren sedang bersiap-siap menyambut tahun pelajaran 2020-2021.
“Bagi pesantren yang santrinya akan segera kembali, tentu harus bersiap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Bagi pesantren yang masih ragu, jangan ragu lagi. Suruh santrinya segera kembali ke pondok,” tegas pengasuh Pondok Pesantren HATI di Desa Rangkang, Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur itu.
Sehubungan dengan hal tersebut, Legislator NasDem tersebut mendesak pemerintah untuk turun tangan memfasilitasi kembalinya santri ke pesantren. Jumlah santri yang cukup banyak tentu membuat pesantren punya pekerjaan berat ketika melakukan penyambutan. Penerapan protokol kesehatan untuk santri akan menyebabkan pesantren membutuhkan banyak tenaga dan biaya.
"Pemerintah jangan diam. Sebelum santri kembali, pemerintah sudah harus bersiap dengan protokol. Bantu pesantren menyambut santri yang kembali. Mereka kan harus diperiksa suhu tubuhnya satu per satu. Juga harus mencuci tangan, pakai masker. Kalau perlu tes, maka dites kesehatannya. Khawatir pesantrennya belum siap, pemerintah yang harus menyiapkan,” tegas mantan Bupati Probolinggo dua periode itu.
Hasan meyakini bahwa Covid-19 bukan lagi suatu hal yang harus dihindari. Ia menyatakan kondisi ini harus diterima karena pandemi adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Ia memprediksi pada suatu saat masyarakat akan memperlakukan Covid-19 sama seperti halnya penyakit tuberculosis (TBC) atau demam berdarah dengue (DBD). Dampak dua penyakit tersebut menurut Hasan, sudah diterima sebagai bagian dari kehidupan sosial di tengah masyarakat.
“Selama imun kita kuat, meski kita terjangkit Corona, Insya Allah tidak masalah. Apalagi yang usianya muda seperti santri. Tapi harus dicatat, protokol kesehatannya jangan diabaikan. Pola hidup sehatnya harus ditegakkan,” terangnya.
Ia juga meminta kalangan santri untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat. Pengurus pesantren juga harus memperhatikan dan mengatur tata cara santri beraktivitas secara detail.
“Misalnya penyediaan masker, hand sanitizer, perangkat cuci tangan, itu harus disediakan oleh pesantren karena santri tidak mungkin ke luar pesantren untuk belanja. Pemerintah juga harus memperhatikan dan membantu pesantren untuk urusan seperti itu,” pungkas Hasan. (RO/*)