Idul Fitri Mampu Mengimplementasikan dalam Kehidupan Sehari-Hari yang Lebih Baik

Oleh Habib Mohsen Hasan Alhinduan

Anggota Dewan Pakar Pusat Partai NasDem

 

SUATU ketika Rasulullah SAW berkunjung ke Kota Madinah dan mendapatkan kaum Anshor pada waktu itu lagi bersenang ria, satu sama lain saling mengungkapkan rasa kegembiraannya seolah-olah baru mendapati hal yang menyenangkan.

Beliau bertanya: “Sedang merayakan apa dua hari ini?” Mereka menjawab: Kami merayakannya dari dulu dan memainkannya sejak masa jahiliyah.

Rasulullah SAW menjawabnya: “Allah telah menggantinya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik: Yaitu Hari Idul Adha (Idul Kurban) dan Hari Idul Fitri (Idul kembali ke fitrah).” Hadis Riwayat Anas RA.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih mereka dari hadits Ash-Shiddiqah, putri Ash-Shiddiq, Aisyah, Ummul Mukminin, semoga Allah meridhoinya, yang berkata: Abu Bakar masuk dan bersamaku ada dua budak perempuan dari kaum Ansar, yang menyanyikan apa yang diucapkan kaum Ansar pada Hari Bu’ats.

Aisyah berkata: Mereka bukanlah penyanyi, maka Abu Bakar berkata: Apakah mereka seruling setan di rumah Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya kedamaian? Saat itu adalah hari raya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita.”

Idul Fitri menjadi perayaan atas keberhasilan dalam menjalankan perintah-Nya dengan penuh kesungguhan, dan menjadi momen kemenangan atas keberhasilan-nya selama satu bulan penuh. Kata Idul Fitri sendiri berarti “kembali ke fitrah,” yaitu keadaan suci seperti bayi yang baru lahir.

Idul Adha mengajarkan nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, ketaatan, dan nilai berbagi sekaligus. Terdapat perintah untuk menyembelih hewan kurban dan melaksanakan ibadah haji yang wajib dilaksanakan bagi Anda yang memiliki kemampuan dari segi finansial maupun fisik.

Makna “Setiap kita adalah Ibrahim” pada Idul Fitri, dan Idul Adha, adalah pengingat bahwa kita, seperti Nabi Ibrahim, harus berserah diri sepenuhnya kepada Allah, dan melepaskan rasa memiliki yang berlebihan terhadap segala sesuatu di dunia ini, termasuk harta, jabatan, dan kedudukan. Idul Fitri, atau hari raya Lebaran, memiliki makna sebagai hari kemenangan setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan, serta sebagai wujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Hikmahnya adalah meningkatkan keimanan, kesalehan, dan ketakwaan, serta mempererat tali silaturahmi.

Manusia adalah Makhluk Suci

Manusia sebagai ciptaan Allah SWT asal mulanya dalam kondisi suci yang disebut fitrah sebagai sifat bawaan, kesucian, atau keadaan asli yang dimiliki manusia sejak lahir.

Fitrah menjadi manusia tidak hanya dimaknai dari sekadar suci dan bersih, tetapi fitrah sebagai manusia seperti Allah menciptakan manusia hanya dengan tujuan agar kita beribadah kepada-Nya. Manusia diberikan potensi oleh Allah Swt. berupa tiga hal, yaitu potensi bodi, akal, dan hati.

Makna dan Hikmah Merayakan Idul Fitri

Kata “id” berasal dari akar kata “aada –yaudu” yang memiliki arti “kembali”. Sedangkan “Fitri” memiliki arti bersih, kembali suci dari segala dosa dan keburukan. Sehingga idul fitri memiliki arti kembali lagi ke kondisi di mana kita dilahirkan.

Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi seluruh umat muslim di dunia. Menjadi puncak ibadah puasa Ramadhan umat muslim. Walau saat ini kita sedang dalam situasi diuji oleh Allah Swt dalam kondisi politik dan ekonomi serta berbagai macam cobaan di alami oleh Bangsa dan Negara kita ini.

Umat muslim menjalani puasa selama di bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah disamping berpuasa menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah tetap bekerja dengan baik saat berpuasa.

Mengurangi perilaku-perilaku buruk yang dulu sering dilakukan saat sebelum berpuasa. Apa saja makna dan hikmah merayakan hari Idul Fitri.

Hari Kemenangan dari Hawa Nafsu

Saat puasa berakhir, Allah memerintahkan kepada umat muslim untuk merayakannya. Merayakan bahwa muslim yang berpuasa, telah berhasil mengendalikan dirinya dari hawa nafsu berlebihan dan perbuatan yang buruk.

Diri sendiri adalah lawan terberat untuk dilawan. Kadang, ada saja beberapa hal yang kurang baik, yang kita betah untuk melakukannya. Kemudian sulit untuk lepas dari kenyamanan berbuat tidak baik. Puasa menjadi alternatif yang diberikan oleh Allah untuk kita mengendalikan diri.

Merayakan keberhasilan menahan hawa nafsu menjadi makna dan hikmah idul fitri.

Mengembalikan Kita Kepada Fitrah

Hari Raya Idul Fitri mengembalikan kita kepada fitrah, kepada kondisi seolah-olah seperti bayi yang suci dan baru dilahirkan. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala (dan ridha Allah), maka niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Muttafaq ‘alaih).

Sebagai Media Penyambung Silaturahmi

Makna dan hikmah Idul Fitri adalah sebagai media penyambung silaturahmi. Mungkin saja selama ini kita terlalu sibuk hingga jarang berkomunikasi dengan teman, kerabat, bahkan keluarga besar. Idul Fitri menjadi momen untuk kembali menyambung tali silaturahmi.

Mengingatkan Kita Untuk Terus Bersyukur

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen penuh makna dan hikmah yang mengingatkan kita untuk terus bersyukur. Bersyukur bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk hidup. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati berkah bulan Ramadan. Bersyukur masih dapat bertemu dengan hari raya kemenangan Idul Fitri.

Bentuk rasa syukur dapat diungkapkan dengan ucapan Alhamdulillah, atau dengan melakukan kebaikan. Salah satu kebaikan yang menunjukkan rasa syukur adalah bersedekah. Memberikan kelebihan yang kita miliki kepada saudara sesama muslim yang merayakan Idul Fitri.

Sebagai Titik Awal Menjadi Lebih Baik

Hikmah Idul Fitri menjadi titik tolak bagi kita, menjadi awal untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Selama tiga puluh hari penuh kita menempa diri dengan kebaikan melalui ibadah puasa, shalat, mengaji, dan membayar zakat. Hasil ibadah kita memiliki makna dan hikmah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tradisi Budaya Indonesia dan Islam pada saat Idul Fitri

Setiap tahunnya, masyarakat Indonesia mempunyai tradisi yang secara tidak sadar dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri, seperti budaya sungkeman, halal bihalal, dan berkirim kartu lebaran. Mungkin banyak yang belum tahu awal tradisi tersebut.

Awal mula tradisi Idul Fitri di Indonesia diceritakan oleh seorang budayawan Dr. Umar Khayam seperti yang tertuang dalam buku tulisan Arif Yosodipuro berjudul Buku Pintar Khatib dan Khotbah. Menurutnya tradisi lebaran merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam.

Pada saat itu, para ulama di Jawa menggabungkan kedua budaya tersebut guna menjaga kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.

Hingga akhirnya tradisi itu meluas ke seluruh wilayah di Indonesia, bahkan melibatkan berbagai pemeluk agama. Bukti dari penggabungan dua budaya Jawa dan Islam, bisa kita telusuri dari budaya Islam di dunia.

Sebagai contoh, setelah pelaksanaan sholat Idul Fitri, tidak ada tradisi berjabatan tangan secara bersama-sama untuk saling memaafkan di negara-negara Islam Timur Tengah dan Asia (di luar Indonesia). Berjabatan tangan secara sporadis yang dilakukan hanyalah sebagai simbol keakraban.

1. Sungkem

Budaya Jawa mengenal sungkem kepada orang yang lebih tua sebagai sesuatu perbuatan yang terpuji dan tidak berarti sebuah kerendahan derajat.

Tujuan sungkem terbagi menjadi dua, yaitu sebagai lambang penghormatan dan sebagai permohonan maaf atau ‘nyuwun ngapura’. Menurut Umar, kata ‘ngapura’ ini berasal dari serapan bahasa Arab, yakni ‘ghafura’.

Berangkat dari situ lah, para ulama di Jawa hendak mewujudkan salah satu tujuan dari puasa Ramadhan, yaitu menghapus dosa-dosa di waktu yang lampau. Mereka berpendapat saat Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang tepat untuk saling meminta maaf kesalahan masing-masing secara bersamaan.

Sebagai informasi, Hari Raya Idul Fitri juga kerap kali disebut dengan hari Lebaran. Kata Lebaran ini memiliki dua maksud yaitu, puasa telah lebar (selesai) dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus).

2. Halal Bihalal

Tradisi halal bihalal diduga berawal dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa, seperti yang tertulis dalam sebuah sumber di sekitar Keraton Surakarta.

Setelah dilaksanakannya sholat Idul Fitri, demi mengefektifkan waktu, maka diadakan sebuah pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara bersamaan di balai istana.

Mereka semua dengan tertib melakukan sungkem dengan raja dan permaisuri. Hingga kemudian, kegiatan itu ditiru oleh para organisasi Islam dan dikenal dengan istilah halal bihalal.

Kegiatan halal bihalal ini bertujuan sebagai media silaturahim dan pertemuan dengan banyak orang dalam skala yang luas. Berkat efek positif yang tercipta, maka tradisi halal bihalal bisa masih dipraktikkan hingga sekarang.

Kesimpulannya adalah sebagai makhluk yang berpikir dan beriman kepada Allah SWT bulan Ramadan merupakan bulan yang memberikan banyak keuntungan bagi yang berpuasa dengan kemenangan melawan hawa nafsu sebagai manusia yang egois, sombong, congkak pada hari Idul Fitri merupakan hari Kemenangan karena umat Islam telah berhasil menyelesaikan salah satu ibadah yang penuh tantangan, yaitu puasa Ramadhan.

Berkata orang bijak dalam rangka menyambut Idul Fitri yaitu jadikan dirimu sebagai orang yang rabbani (manusia yang selalu ingat kepada Allah hingga akhir hayatnya) dan jangan kamu jadikan dirimu ramadani (mengenal Tuhan hanya di bulan ramadan).

Wallaualam…

(WH/KL)

 

 

Add Comment