Kritik Membangun Wujud Kepedulian Anak Bangsa
JAKARTA (13 Januari): Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Subardi, menegaskan bahwa adanya kritik dalam negara demokrasi harus dimaknai sebagai bentuk kepedulian terhadap jalannya pemerintahan, bukan sekadar upaya menjatuhkan pihak tertentu.
Menurut Subardi, sejak awal Indonesia berdiri sebagai negara republik, demokrasi telah menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Meski dalam perjalanannya demokrasi sempat melalui berbagai fase, era reformasi telah membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas.
“Reformasi membuka tabir, membuka ruang yang luas bagaimana menjalankan proses demokrasi di negara ini. Demokrasi memberi kebebasan untuk semua warga yang bernaung di Indonesia,” ujar Subardi di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Namun, Subardi mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat harus disertai etika dan budaya. Ia menekankan pentingnya membedakan antara kritik yang membangun dengan sikap yang hanya menjelekkan atau ingin menjatuhkan.
“Kalau kritiknya membangun, itu karena ada kepedulian, ada keinginan agar apa yang dilakukan oleh penguasa bisa diperbaiki. Kritik seperti ini harus direspons dan dievaluasi,” kata Subardi.
Ia menilai, kritik membangun memiliki visi untuk mendorong perbaikan kebijakan dan pelayanan publik. Karena itu, menurutnya, pemerintah tidak seharusnya langsung menilai kritik sebagai bentuk permusuhan atau ketidaksukaan terhadap penguasa.
Sebaliknya, terhadap tindakan yang bersifat menyerang, mencemarkan, atau menjelek-jelekkan tanpa dasar, Subardi menyebut sudah ada aturan hukum yang dapat diterapkan.
Namun ia kembali menegaskan, kritik yang disampaikan secara konstruktif harus ditempatkan sebagai bagian penting dari proses demokrasi.
“Demokrasi harus dijalankan dengan etika budaya, bukan sekadar asal bunyi. Kritik membangun itu justru bagian dari tanggung jawab warga negara,” pungkasnya. (Yudis/*)