Shadiq Pasadigoe Raih Doktor HC dari AUI Malaysia
SEREMBAN (13 Januari): Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, M. Shadiq Pasadigoe, mendapat gelar doktor honoris causa (HC) dari Asean University International (AUI) Malaysia seusai menyampaikan orasi ilmiah di hadapan pimpinan dan sivitas akademika.
Penganugerahan gelar kehormatan itu ditegaskan langsung oleh President of AUI, Prof. Dr. Suhendar, S.E., S.H., LLM, dalam prosesi khidmat yang digelar di kampus AUI, di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia, Minggu (11/1/2026).
Prof. Suhendar menyampaikan bahwa pemberian gelar Doktor Honoris Causa merupakan bentuk apresiasi dan pengakuan akademik atas kontribusi, dedikasi, dan pengabdian penerima di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, hukum, hingga pembangunan sosial kemasyarakatan.
Menurutnya, AUI berkomitmen memberikan penghargaan akademik kepada tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak kepemimpinan, integritas, serta peran nyata dalam mendorong kemajuan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
“Gelar Honoris Causa ini diberikan melalui proses dan pertimbangan akademik yang ketat. Kami menilai bahwa M. Shadiq Pasadigoe dan Jon Firman Pandu layak menerima penghargaan ini atas kontribusi nyata yang telah mereka berikan,” ujar Prof. Suhendar.
Prosesi penganugerahan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama akademik lintas negara di kawasan Asia Tenggara. AUI berharap gelar kehormatan ini dapat menjadi inspirasi sekaligus mendorong kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan dunia akademik.
Dalam orasi ilmiahnya. Shadiq menyoroti tantangan kepemimpinan di era ‘Disrupsi Besar’, yakni fase percepatan perubahan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia menjelaskan bahwa Revolusi Industri 4.0, dengan kehadiran kecerdasan buatan, big data, dan komputasi awan, telah mengubah lanskap sosial, ekonomi, dan politik secara fundamental.
Ia menegaskan bahwa mesin kini tidak hanya menggantikan kerja fisik manusia, tetapi juga mulai mengambil alih fungsi kognitif. Di tengah dunia yang belum sepenuhnya pulih dari pandemi, tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan dan energi, gejolak geopolitik, serta polarisasi sosial semakin memperumit persoalan global.
“Dalam pusaran ketidakpastian ini, model kepemimpinan lama yang hierarkis, sentralistik, dan bergantung pada satu sosok ‘jagoan’ terbukti tak lagi memadai. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah abad ke-21 dengan perangkat abad ke-20,” tegas Shadiq. (Yudis/*)