Terjadi Krisis Adab dan Komunikasi dalam Praktik Pendidikan

JAKARTA (16 Januari): Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ratih Megasari Singkarru, menilai kasus pengeroyokan guru oleh siswa SMK di Jambi merupakan tamparan keras sekaligus cermin kondisi dunia pendidikan saat ini, khususnya buruknya relasi antara guru dan siswa di ruang kelas.

Ratih menegaskan, peristiwa tersebut tidak semestinya disikapi dengan saling menyalahkan, baik terhadap siswa, guru, maupun kurikulum yang berlaku. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada krisis adab dan komunikasi dalam praktik pendidikan sehari-hari.

“Kasus pengeroyokan guru di Jambi adalah tamparan keras sekaligus cermin bagi dunia pendidikan kita. Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih bijak jika kita melihat akar masalahnya dengan jernih sebagai bahan introspeksi bersama,” ujar Ratih dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).

Sebelumnya, sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang guru di salah satu SMK di Jambi menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswanya di lingkungan sekolah. Insiden tersebut memicu kecaman publik dan perdebatan luas, termasuk soal kedisiplinan siswa, profesionalisme guru, hingga relevansi kurikulum pendidikan saat ini.

Ratih mengakui, interaksi di ruang kelas kini memang sedang tidak dalam kondisi ideal. Di satu sisi, guru menghadapi tantangan dalam menegakkan disiplin tanpa kekerasan. Namun di sisi lain, tindakan siswa yang merespons rasa tersinggung dengan pengeroyokan massal menunjukkan krisis karakter yang serius.

“Respons siswa yang membalas rasa tersinggung dengan pengeroyokan massal menunjukkan krisis adab yang parah. Solidaritas sesama teman telah salah arah menjadi tindakan premanisme yang tak bisa dibenarkan,” tegasnya.

Legislator Partai NasDem itu juga menepis anggapan yang langsung mengaitkan insiden tersebut dengan kegagalan Kurikulum Merdeka. Menurut Ratih, tidak ada kebijakan pendidikan yang melegitimasi kekerasan dalam bentuk apa pun.

“Dokumen pendidikan manapun tidak pernah mengajarkan kekerasan. Masalah sesungguhnya terletak pada implementasi di lapangan,” katanya.

Ratih menilai dunia pendidikan saat ini berada dalam masa transisi, di mana guru masih mencari pola pendisiplinan yang tepat tanpa kekerasan, sementara siswa belum sepenuhnya siap memikul tanggung jawab atas kebebasan berekspresi.

“Fokus kita harus kembali ke esensi pendidikan: memanusiakan manusia. Saatnya kita berhenti saling tunjuk dan mulai memperbaiki pola komunikasi serta penguatan karakter di sekolah,” pungkasnya. (Yudis/*)

Add Comment