Erna Sari Soroti Rendahnya Utilisasi Industri Dalam Negeri

JAKARTA (28 Januari): Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, menyoroti ketidaksesuaian antara kinerja makro industri pengolahan nonmigas dan kondisi utilisasi kapasitas produksi nasional pada 2025.

Ia mengakui bahwa secara makro, kinerja industri pengolahan nonmigas menunjukkan tren yang sangat positif. Hal tersebut tercermin dari realisasi investasi yang mencapai Rp552 triliun serta kinerja ekspor yang mencatatkan surplus sebesar US$35,95 miliar.

“Secara makro, ini tentu patut diapresiasi dan cukup membuat saya impresif,” ujar Erna dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Selain itu, indikator sentimen industri juga menunjukkan kondisi ekspansif. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada di atas level 50 pada November dan Desember 2025, menandakan aktivitas industri berada dalam fase ekspansi. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember juga tercatat di level 51,9.

Namun demikian, Erna menilai masih terdapat indikator fundamental yang belum menunjukkan pemulihan optimal, yakni utilisasi kapasitas industri.

Ia mencatat rata-rata utilisasi kapasitas sepanjang Januari hingga November 2025 masih berada di kisaran 61,89%, bahkan stagnan pada Oktober di level 61,2%.

“Kalau kita bandingkan dengan negara lain seperti India dan Filipina, utilisasi kapasitas mereka sudah berada di level 75–78%. Artinya, kita belum pulih sepenuhnya,” tegasnya.

Erna menjelaskan, sebelum pandemi covid-19, utilisasi kapasitas industri Indonesia sempat berada di kisaran 73–74% pada 2023 dan meningkat menjadi 75–76% pada 2024. Namun hingga kini, capaian tersebut belum kembali terwujud secara menyeluruh.

Menurutnya, kondisi itu mengaburkan optimisme terhadap surplus ekspor dan tingginya investasi. Rendahnya utilisasi kapasitas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pelaku industri yang benar-benar mengalami ekspansi, sementara mayoritas masih beroperasi pada tingkat kapasitas ideal atau bahkan di bawah optimal.

Dampak lain yang disoroti adalah penyerapan tenaga kerja. Meski sektor industri tercatat menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja, Erna menilai stabilitas ketenagakerjaan belum sepenuhnya terjamin.

“Utilisasi yang rendah cenderung berarti tenaga kerja masih underutilized. Secara angka memang bagus, tapi secara kualitas dan stabilitas masih perlu dicermati,” ujarnya.

Erna juga menyinggung berbagai program pemerintah pada 2025, seperti restrukturisasi mesin dan peralatan, transformasi digital, serta pemberian insentif fiskal. Namun, ia menilai program-program tersebut belum menunjukkan dampak sistemik terhadap peningkatan kapasitas produksi nasional.

“Oleh karena itu, kami meminta penjelasan yang komprehensif terkait mengapa peningkatan investasi, ekspor, dan indikator ekspansif belum diikuti oleh pemulihan utilisasi kapasitas industri secara menyeluruh,” pungkasnya. (Yudis/*)

Add Comment