Harga Jagung dan Beras Melambung, Perlu Terobosan dari Pemerintah

JAKARTA (28 Januari): Anggota Komisi XI DPR RI, Thoriq Majiddanor, menyoroti gejolak harga bahan pokok strategis, terutama jagung dan beras, yang dinilai membebani masyarakat.

“Mahalnya harga jagung ini juga sudah memicu kenaikan biaya produksi terhadap daging ayam dan telur, yang akhirnya membebani konsumen,” ungkap Jiddan, sapaan Majiddanor, dalam Raker Komisi XI DPR dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Legislator Fraksi Partai NasDem itu mempertanyakan efektivitas berbagai Instruksi Presiden (Inpres) yang dikeluarkan pada 2025 dalam menahan kenaikan harga pangan.

“Nah, di mana kehadiran Inpres atau peran Inpres 2025 ini dalam meredam gejolak harga bahan pokok strategis seperti ini?” ujar Jiddan.

Ia menekankan, meski Kementerian Pertanian mengklaim produksi beras tahun 2025 melimpah, harga beras justru terus naik dan menjadi salah satu penyumbang inflasi utama, terutama inflasi kelompok pangan yang mencapai 4,25% pada November 2025.

Jiddan juga menyoroti lonjakan harga jagung pipil untuk pakan ternak, yang menembus Rp7.500 per kilogram pada akhir 2025 dan diperkirakan tetap tinggi hingga Maret 2026. Ia menekankan perlunya langkah konkret pemerintah untuk meringankan beban masyarakat.

Ia mempertanyakan, apakah pemerintah berani mengambil terobosan di luar kebiasaan, seperti operasi pasar pangan yang lebih masif atau penyesuaian kebijakan impor secara terukur, daripada hanya mengumumkan stok beras yang besar.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut penting untuk menurunkan harga beras dan jagung, serta menjaga daya beli masyarakat, khususnya bagi konsumen dan pelaku usaha kecil yang terdampak kenaikan biaya pangan. (Yudis/*)

Add Comment