Kemenkes Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Virus Nipah
JAKARTA (28 Januari): Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Nurhadi, menegaskan Indonesia tidak boleh lengah setelah munculnya kasus virus Nipah di India. Menurutnya, virus itu memiliki tingkat fatalitas tinggi dan pernah menimbulkan wabah serius di beberapa negara.
“Ketika Tailan saja sudah menetapkan status risiko tinggi dan kembali menerapkan protokol ketat di bandara, maka Indonesia wajib bersikap lebih waspada dan antisipatif, bukan menunggu sampai ada kasus,” ujar Nurhadi di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Nurhadi menyoroti beberapa langkah penting yang harus segera dipersiapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pertama, penguatan sistem deteksi dini dan surveilans epidemiologi, terutama di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan internasional.
“Screening kesehatan bagi pelaku perjalanan dari negara berisiko harus diperketat, termasuk kesiapan prosedur karantina bila ditemukan indikasi,” jelasnya.
Kedua, kesiapan fasilitas layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan, hingga ketersediaan alat pelindung diri dan protokol penanganan. Nurhadi menekankan agar Indonesia tidak kembali gagap seperti awal pandemi COVID-19.
Ketiga, koordinasi lintas sektor harus diperkuat, tidak hanya Kemenkes, tetapi juga Kementerian Perhubungan, Karantina Kesehatan, dan pemerintah daerah, khususnya wilayah dengan interaksi tinggi dengan satwa liar atau kelelawar buah.
Keempat, edukasi dan komunikasi risiko kepada masyarakat perlu diperhatikan. Pemerintah harus menyampaikan informasi yang benar, terukur, dan tidak menimbulkan kepanikan, namun cukup untuk meningkatkan kewaspadaan publik.
“Prinsipnya, lebih baik mencegah daripada terlambat menangani. Negara harus hadir lebih awal, bekerja dengan data, dan menyiapkan langkah mitigasi secara serius demi melindungi keselamatan masyarakat,” paparnya.
Sebelumnya, per 25 Januari 2026, India melaporkan lima kasus infeksi virus Nipah terbaru di Barasat, Benggala Barat. Dua kasus pertama terjadi pada seorang perawat laki-laki dan seorang perawat perempuan di rumah sakit swasta. Beberapa hari kemudian, tiga orang lainnya terkonfirmasi terjangkit virus ini.
Investigasi awal menunjukkan kedua perawat kemungkinan tertular saat menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat. Pasien tersebut meninggal sebelum hasil laboratorium infeksi virus Nipah keluar. Wabah ini mendorong otoritas kesehatan India memberlakukan karantina, pengawasan darurat, dan pelacakan kontak di wilayah terdampak. (Yudis/*)