Fenomena Berobat ke Penang Tantangan Serius Rumah Sakit Indonesia
MEDAN (29 Januari): Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI, Irma Suryani, menyoroti masih banyaknya masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke rumah sakit di Penang, Malaysia. Hal tersebut merupakan tantangan nyata bagi industri kesehatan domestik khususnya di Medan, Sumatra Utara.
Fenomena warga Indonesia berobat ke Penang, Malaysia, merupakan tantangan bagi industri kesehatan domestik. Rumah sakit di Penang unggul karena kombinasi pelayanan yang efisien, biaya yang terjangkau, teknologi medis modern, dan dokter spesialis berpengalaman internasional.
“Saya mendorong Rumah Sakit Murni Teguh Medan ini mampu berkembang dengan pelayanan yang ramah, peralatan medis modern dan dokter-dokter spesialisnya berpengalaman internasional. Ini untuk meningkatkan daya saing terhadap dominasi layanan kesehatan di negara tetangga kita,” kata Irma saat kunjungan kerja ke Murni Teguh Memorial Hospital di Medan, Selasa (27/1/2016).
Anggota Fraksi Partai NasDem ini membandingkan bagaimana proses pendaftaran dan konsultasi di negara tetangga cenderung lebih cepat dan terstruktur dibandingkan antrean panjang di Indonesia. Bahkan biaya pengobatan di Penang, termasuk tindakan medis serius, seringkali lebih terjangkau daripada RS swasta premium di Indonesia.
“Penang ini mudah dijangkau dari Indonesia, terutama dari Sumatera. Meski rumah sakit di Indonesia terus meningkatkan kualitas, tantangan seperti birokrasi dan beban pelayanan yang tinggi masih menjadi kendala,” imbuhnya.
Legislator asal Dapil Sumatra Selatan II ini juga menekankan layanan rumah sakit berbasis keramahan (hospitality). Pelayanan staf rumah sakit yang ramah dan suportif membuat pasien merasa nyaman.
“RS Murni Teguh Memorial Medan tentu terus melakukan pembaharuan, baik dalam sistem informasi, metode pengobatan, alat medis, pelayanan, dan lain sebagainya. Apa yang menjadi kelebihan RS ini dibandingkan dengan RS lainnya, baik di kota Medan maupun di daerah lainnya?” tukasnya.
Irma yang saat ini bertugas di Komisi IX membidangi masalah Kesehatan, Ketenagakerjaan & Jaminan Sosial/Kependudukan, menilai persaingan ini bukan berarti kualitas dokter Indonesia kurang, melainkan pada ekosistem layanan kesehatan (pelayanan, transparansi, biaya, dan teknologi) yang ditawarkan yang lebih menarik bagi pasien yang mencari efisiensi dan kenyamanan. (dpr.go.id/*)