Siswa Bunuh Diri tidak Mampu Beli Buku dan Pulpen, Ratih Pertanyakan PIP
JAKARTA (4 Februari): Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Ratih Megasari Singkarru mengaku sedih dan prihatin atas peristiwa bunuh diri siswa berinisial YBS, 10, kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026). Korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang.
“Kami menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya atas peristiwa memilukan yang menimpa saudara setanah air. Hati kami sangat berat dan begitu pilu ketika mendengar kabar ini. Kami mendoakan agar ibu dan saudara-saudara yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan yang besar untuk menghadapi masa yang sangat sulit ini,” ungkap Ratih dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Legislator NasDem dari Dapil Sulawesi Barat itu memberi catatan, kejadian itu adalah sebuah pengingat yang sangat menyedihkan bagi kita semua. Di tengah kemajuan dunia saat ini, ternyata masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kesulitan ekonomi yang sangat hebat.
“Rasanya sangat perih membayangkan ada anak yang harus berjuang begitu keras, bahkan hanya untuk memiliki alat tulis sederhana agar bisa belajar. Hal yang mungkin bagi banyak orang terasa sepele, namun bagi mereka adalah beban yang sangat berat,” tukas ratih.
Ratih yang sudah dua periode duduk di Komisi X DPR RI menambahkan, kita juga tidak boleh menutup mata pada beban berat yang dipikul keluarga ini. Seorang ibu yang harus berjuang sendirian membesarkan banyak anak tanpa kehadiran sosok ayah adalah situasi yang sangat berat.
“Kondisi seperti ini seharusnya tidak ditanggung sendirian. Ini adalah tanggung jawab kita bersama masyarakat, komunitas di sekitar, hingga pemerintah untuk hadir dan saling menjaga,” tegas Ratih.
Selain itu, menurut Ratih, peristiwa itujuga memicu pertanyaan besar bagi kita semua mengenai bantuan pendidikan, seperti Program Indonesia Pintar (PIP).
“Mengapa anak yang jelas-jelas sangat membutuhkan ini seolah tidak terjangkau? Apakah bantuan tersebut memang tidak sampai kepada yang berhak, ataukah jumlah bantuan yang diberikan selama ini memang sudah tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal?” tanya Ratih.
Dengan kesungguhan hati, Rati memohon kepada pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum evaluasi besar. Harus ada pemeriksaan kembali terhadap data penerima bantuan agar tepat sasaran. Selain itu, perlu ada penyesuaian nilai bantuan agar benar-benar cukup untuk membantu biaya hidup dan sekolah saat ini.
“​Jangan ada lagi warga yang merasa sendirian dalam kesulitan. Mari kita lebih peduli dan lebih peka terhadap tetangga dan orang-orang di sekitar kita, agar kejadian menyedihkan seperti ini tidak terulang kembali di masa depan,” pungkas Ratih. (RO/*)