Tingkatkan Kemampuan Literasi Generasi Penerus untuk Bangun Daya Saing Bangsa
JAKARTA (9 Februari): Tingkatkan kemampuan bahasa dan literasi generasi penerus sebagai bagian penting dalam proses membangun daya saing bangsa.
“Kemampuan berbahasa dan literasi yang baik bukan sekadar bagian dari alat untuk berkomunikasi, melainkan fondasi bagi setiap anak bangsa agar dapat merumuskan gagasan dan mengekspresikan kreativitas yang merupakan dasar untuk mewujudkan daya saing,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/2/2026).
Berdasarkan hasil PISA 2022 (Program for International Student Assessment), skor literasi membaca Indonesia tercatat sebesar 359 poin, mengalami penurunan dari 371 pada tahun 2018.
Kemampuan literasi pelajar Indonesia masih terpaut jauh dari rata-rata negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development
(OECD) yang berada di angka 476 poin.
Sementara itu, catatan Goodstats pada 2025 mengungkapkan bahwa 26% Generasi Z setiap hari membaca buku. Jumlah itu lebih tinggi daripada Generasi Milenial yang hanya 20% dan Generasi X 18%.
Menurut Lestari, catatan dan potensi tersebut harus menjadi perhatian serius semua pihak untuk segera disikapi dengan langkah nyata.
Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat bahwa dengan kemampuan literasi yang masih di bawah rata-rata sejumlah negara OECD itu, upaya membangun fondasi daya saing bangsa membutuhkan dukungan para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah.
Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI menilai, untuk melahirkan generasi yang berdaya saing melalui peningkatan literasi, diperlukan sinergi antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Budaya membaca dan menulis, tambah Rerie, harus dipupuk dan dibangun sejak dini sebagai sebuah kebutuhan, bukan sekadar kewajiban akademis.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong agar para pemangku kepentingan terus meningkatkan program literasi nasional yang terintegrasi dengan teknologi untuk memastikan akses bahan bacaan berkualitas merata hingga ke pelosok negeri.
Sehingga, ujar dia, dapat terbangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepercayaan diri setiap anak bangsa di era persaingan global saat ini.
Dengan peningkatan kemampuan berbahasa sebagai fondasi dan literasi sebagai pilar, Rerie optimistis, Indonesia mampu melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual dan kreatif secara emosional yang mampu menjadi dasar peningkatan daya saing bangsa di masa depan. (*)