Belajar dari Jenewa: Kedaulatan Bukan Hadiah, dan Informasi Adalah Senjata
Oleh: Mohsen Hasan Alhinduan
Pemerhati dan Koordinator Bidang Sosial,Budaya, Agama,Politik dan Isu Global Dewan Pakar DPP NasDem
PERTEMUAN Jenewa di penghujung Februari 2026 antara Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar urusan dua negara di seberang samudra. Bagi kita di Indonesia, peristiwa ini adalah cermin besar yang memperlihatkan dua hal fundamental: betapa “mahalnya” harga sebuah kedaulatan dan betapa “berbahayanya” perang informasi di era digital.
Pelajaran Pertama: Kedaulatan Tak Pernah Gratis
Pertemuan Jenewa menunjukkan wajah asli politik global yang sering kali jauh dari kata adil. Amerika Serikat datang dengan tuntutan agar Iran melucuti sistem pertahanannya, sementara itu Iran bersikeras bahwa kedaulatan tidak bisa dinegosiasikan. Di sini kita belajar sebuah kebenaran pahit: Di panggung dunia, hak suatu bangsa sering kali hanya diakui sejauh mana bangsa tersebut mampu mempertahankannya.
Bagi Indonesia, ini adalah pengingat bahwa kemandirian energi, teknologi, dan militer bukanlah opsi, melainkan keharusan. Kita melihat Iran mampu memaksa negara adidaya duduk semeja bukan karena belas kasihan, tetapi karena mereka memiliki “daya tawar” riil. Pelajaran bagi kita adalah terus memperkuat fondasi dalam negeri agar kita tidak hanya menjadi pengikut narasi global, tetapi pemain yang disegani.
Pelajaran Kedua: Menjadi Cerdas di Tengah Badai Informasi
Situasi Iran-AS adalah contoh nyata bagaimana informasi dipersenjatai (weaponization of information). Di satu sisi ada dramatisasi media Barat, di sisi lain ada minimalisasi fakta oleh media resmi. Agar masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam hoaks yang bisa memicu polarisasi, kita perlu mengadopsi “Otot Kognitif” dalam menyerap berita:
• Metode Triangulasi: Jangan pernah puas dengan satu sumber. Jika mendengar kabar tentang Iran, bandingkan media Barat, media resmi Timur Tengah, dan kesaksian diaspora kita di sana. Kebenaran biasanya bersembunyi di tengah-tengah ketiganya.
• Waspadai Diksi Emosional: Berita yang jujur biasanya menggunakan bahasa yang datar dan berbasis data. Jika sebuah artikel terlalu banyak menggunakan kata sifat yang memancing amarah atau kebencian, besar kemungkinan itu adalah propaganda, bukan informasi.
• Verifikasi Kurs Realitas: Dalam konflik Iran, indikator paling jujur bukanlah pidato politik, melainkan kurs mata uang di pasar rakyat. Ekonomi jarang bisa berbohong sesempurna politisi.
Pelajaran Ketiga: Kepentingan Nasional adalah Panglima
Kita sering melihat bagaimana narasi agama atau HAM digunakan untuk membungkus kepentingan ekonomi dan geopolitik. Indonesia harus tetap setia pada prinsip “Bebas Aktif”. Kita harus cukup cerdas untuk melihat bahwa di balik perseteruan AS-Iran, ada kepentingan minyak, jalur perdagangan, dan pengaruh Rusia-China.
Indonesia tidak perlu terseret dalam emosi kebencian yang dipicu oleh pihak luar. Pelajaran dari Jenewa mengajarkan kita bahwa persahabatan antarnegara sering kali didasarkan pada kepentingan yang sama, bukan sekadar janji manis di atas kertas.
Penutup/Khulasoh
Ketidakseimbangan di Jenewa adalah pengingat bahwa dunia ini masih diatur oleh hukum kekuatan. Namun, sebagai bangsa yang besar, Indonesia bisa memetik hikmah: kedaulatan harus dijaga dengan kekuatan nyata, dan kedamaian harus dirawat dengan kecerdasan dalam mengolah informasi.
Mari kita menjadi penonton yang bijak; yang tidak mudah terprovokasi, yang rajin melakukan cek dan ricek, serta yang selalu mendahulukan persatuan bangsa sendiri di atas kepentingan gajah-gajah dunia yang sedang berkelahi.
(WH/AS)