Diskusi Bedah Buku 6000 Tahun Sang Merah Putih Maknai Pemikiran Muhammad Yamin

JAKARTA (27 Februari): Diskusi bertajuk Memaknai Pemikiran Muhammad Yamin melalui kegiatan bedah buku 6000 Tahun Sang Merah Putih digelar di Panglima Itam Library of NasDem, Jumat (27/2). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dan tokoh nasional untuk membedah pemikiran Muhammad Yamin, khususnya terkait makna historis Sang Merah Putih.

Diskusi menghadirkan Yos Fitradi selaku pengamat pemikiran Muhammad Yamin dan Taufik Basari selaku Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI sebagai narasumber. Selain itu, Roy Rahajasa Yamin, cucu Muhammad Yamin, turut memberikan testimoni. Diskusi dimoderatori oleh Lisda Hendrajoni, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, dengan pengantar diskusi disampaikan oleh Willy Aditya, Ketua Komisi XIII DPR RI.

Dalam pemaparannya, Willy menjelaskan bahwa buku 6000 Tahun Sang Merah Putih mengupas asal-usul dan makna warna merah dan putih sebagai simbol kebangsaan Indonesia. Muhammad Yamin menelusuri jejak sejarah kedua warna tersebut jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak ribuan tahun lalu pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara seperti Majapahit dan periode pra-Hindu.

Yamin berargumen bahwa Merah Putih bukan sekadar simbol politik modern, melainkan telah hidup dalam tradisi, panji-panji perang, upacara adat, serta kepercayaan masyarakat Nusantara sejak lama. Melalui pendekatan historis dan kebudayaan, ia menegaskan bahwa bendera Indonesia memiliki akar yang dalam dan otentik dari peradaban bangsa sendiri.

Willy Aditya yang juga Ketua Koordinator Bidang Ideologi, Organisasi, dan Kaderisasi DPP Partai NasDem berharap kegiatan ini dapat terus menjadi mata air kebangsaan bagi semua pihak. Ia menerangkan bahwa diskusi tersebut merupakan forum kesekian kalinya yang membahas pemikiran para Founding Parents bangsa.

“Karena NasDem sadar bahwasanya hari ini tidak pernah ada tanpa sebuah pergulatan pemikiran, pergulatan gagasan dari para Founding Parents kita,” ujar Willy.

Ia menambahkan, sebelumnya Partai NasDem telah membahas berbagai karya pemikiran tokoh bangsa seperti Naar de Republiek Indonesia yang ditulis Tan Malaka, Demokrasi Kita karya M. Hatta, Perjuangan Kita karya Sutan Sjahrir.

Menurut Willy, Yamin adalah sosok multitasking, seorang sastrawan dengan kekayaan pemikiran yang luas. Dialektika alam Minangkabau, katanya, mendorong lahirnya para pemikir yang egalitarian dan republikan, salah satunya Muhammad Yamin.

“NasDem adalah penjaga garis republikanisme dan kita belajar banyak, tidak hanya sebagai sebuah romantisme, tetapi sebagai guidance untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang tetap dalam garis republikanisme,” kata Willy.

Ia juga menegaskan bahwa diskusi buku 6000 Tahun Sang Merah Putih merupakan bentuk penelitian terhadap simbol yang selama ini selalu dihormati dan dikibarkan setiap saat. Yamin, lanjut Willy, meletakkan dasar bahwa Merah Putih bukan hanya simbol semata, melainkan bagian dari proses ideologis yang secara historis bermula dari mitologi hingga melahirkan mitos kebangsaan.

“Kalau selama ini kita hanya menerimanya begitu saja, Yamin justru meletakkan basis-basis itu. Republik, Indonesia, Merah Putih semua tidak hadir sebagai sesuatu yang given,” ujarnya.

Willy juga menyebut bahwa jika Soekarno dikenal sebagai Frontman Republik, maka Yamin berperan besar dalam mempersiapkan piranti, pilar, dan milestone Republik Indonesia. Terlepas dari berbagai perdebatan yang ada, menurutnya, proses membangun mitos merupakan bagian wajar dari puncak ideologisasi.

“Sebagai ideolog, Yamin mampu menyederhanakan mitos sekaligus mengkonstruksikan pokok-pokok pikiran secara teknokratik. Di situlah hebatnya Yamin,” tutup Willy.

(WH/AS)

Add Comment