Erna Sari Dorong Relaksasi Kebijakan Industri Makanan

JAKARTA (6 Maret): Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, memandang perlu adanya relaksasi kebijakan pemerintah bagi industri makanan dan minuman (mamin) untuk merespons dinamika geopolitik global yang berdampak pada sektor industri nasional.

Ia mengatakan industri mamin memiliki kontribusi signifikan terhadap ekspor Indonesia, terutama ke tiga negara tujuan utama, yakni Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.

Berdasarkan data terbaru BPS periode Januari–September 2025, kontribusi ekspor nonmigas Indonesia ke tiga negara tersebut mencapai 41,81 persen.

“Namun dalam perjalanannya tentu banyak tantangan yang dihadapi. Apalagi saat ini kita dihadapkan pada kontraksi geopolitik global yang cukup besar,” ujar Erna saat memimpin kunjungan kerja reses Komisi VII ke PT Garuda Food Putra-Putri Jaya, di Gresik, Jatim, Kamis (5/3/2026).

Legislator Fraksi NasDem itu menjelaskan, eskalasi konflik global seperti ketegangan di Timur Tengah berpotensi memengaruhi biaya produksi industri. Dampaknya antara lain kenaikan harga bahan baku serta terganggunya rantai pasok global yang selama ini menjadi sumber impor bagi industri dalam negeri.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri perwakilan delapan kementerian dan lembaga mitra kerja, Komisi VII DPR RI turut menginventarisasi sejumlah tantangan yang dihadapi industri dalam menghadapi gejolak global tersebut.

Karena itu, Erna menilai pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang lebih fleksibel guna menjaga keberlangsungan industri.

“Harus ada kebijakan pemerintah yang lebih fleksibel, terutama terkait pasokan bahan baku. Ini penting agar industri tetap dapat berproduksi secara optimal,” jelasnya.

Selain itu, Komisi VII juga mendorong pelaku industri untuk melakukan diversifikasi produk, baik dari sisi desain maupun inovasi lainnya, sebagai strategi menghadapi kenaikan biaya produksi. (dpr.go.id/*)

Add Comment