Pembangunan Literasi Rendah, Daya Saing Bangsa Terancam
JAKARTA (15 Maret): Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia yang rendah merupakan ancaman serius bagi daya saing bangsa di masa depan.
“Bangsa dengan aspek literasi rendah akan tertatih-tatih dalam bersaing di kancah global,” tegas Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Minggu (15/3/2026).
Perpustakaan Nasional (Perpusnas), pada Kamis (12/3), mengungkapkan bahwa IPLM Nasional saat ini berada pada angka 40,6.
Skala penilaian yang dipakai yaitu: Sangat Rendah (0 – 29,9), Rendah
(30 – 49,9), Sedang (50 – 79,9), Tinggi (80 – 89,9), Sangat Tinggi (90 – 100).
Dengan skala penilaian 0-100 itu, capaian IPLM Nasional Indonesia masuk kategori rendah.
Indeks tersebut digunakan Perpusnas untuk
menilai usaha pemerintah daerah dalam membina perpustakaan dan meningkatkan budaya literasi.
Unsur utama yang diukur dalam IPLM itu, antara lain sebaran layanan, koleksi, tenaga perpustakaan, kunjungan, serta keterlibatan masyarakat sebagai acuan menuju Indonesia Emas 2045.
Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat bahwa program literasi jangan berjalan sendiri-sendiri. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta pegiat literasi, tegas Rerie, wajib diperkuat dengan aksi konkret, bukan sekadar seremoni.
Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, mendorong agar sebaran layanan perpustakaan bisa sampai desa-desa dan wajib menjadi pusat kegiatan masyarakat, bukan gudang buku.
Selain itu, tambah dia, dinas pendidikan harus segera mengintegrasikan literasi secara wajib ke dalam kurikulum dan ekstrakurikuler.
Terpenting, ujar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, pemerintah daerah wajib mengawal sejumlah langkah tersebut dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat.
“Saat ini momentum untuk bergerak. Bangsa ini butuh generasi yang cerdas dan berkarakter, dan itu dimulai dari literasi. Tidak ada kata instan, yang ada adalah kolaborasi yang berkelanjutan,” pungkas Rerie. (*)