NasDem Ingatkan Ancaman El Nino terhadap Ketahanan Pangan Nasional
JAKARTA (7 April): Anggota Komisi IV DPR RI, Arif Rahman, mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak serius fenomena El Nino dan gejolak global yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.
“Khususnya fenomena El Nino yang berpotensi memperpanjang musim kering, menurunkan ketersediaan air, mengganggu pola tanam serta menekan produktivitas komoditas pangan strategis,” ujar Arif dalam Raker Komisi IV dengan pemerintah, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Ia menegaskan, kondisi global yang tidak menentu, termasuk konflik di Timur Tengah, turut memperbesar risiko terhadap sektor pangan dan energi. Menurutnya, gangguan pasokan minyak dunia akan berdampak luas pada berbagai sektor.
“Dengan tersendatnya minyak di Selat Hormuz, ini pasti berakibat ke semua aspek,” katanya.
Arif menilai, dampak tersebut tidak hanya dirasakan petani dan nelayan, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia. Karena itu, ia meminta pemerintah menyiapkan langkah mitigasi yang lebih konkret dan menyeluruh.
Ia juga menyoroti persoalan mendasar di dalam negeri, seperti rusaknya infrastruktur irigasi. “Lebih dari 46% jaringan irigasi yang dikelola Pemda rusak. Ini harus segera kita rapikan, mengingat El Nino semakin dekat,” tegasnya.
Selain itu, Arif mengingatkan potensi masalah pasokan energi bagi sektor pertanian, terutama terkait kebutuhan BBM untuk operasional alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Kami belum melihat langkah antisipatif jika sewaktu-waktu petani mengalami kesulitan mendapatkan BBM,” ujarnya.
Di sektor kelautan dan perikanan, ia juga meminta pemerintah mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap nelayan.
“El Nino berkepanjangan akan mengubah suhu permukaan laut dan rantai makanan, sehingga produktivitas perairan menurun. Jangan sampai nelayan berhenti melaut,” katanya.
Arif turut menekankan pentingnya perlindungan ekosistem laut, khususnya terumbu karang di wilayah Indonesia Timur yang dinilai sebagai pusat potensi perikanan nasional.
“Kerusakan terumbu karang yang mencapai 50–80 persen harus segera diantisipasi, karena ini menjadi tempat ikan berkembang,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera merumuskan skema mitigasi yang komprehensif, termasuk intervensi teknologi di sektor pertanian dan perikanan, guna menjaga ketahanan pangan di tengah tekanan global dan perubahan iklim. (Yudis/*)