Abrasi dan Sampah Ancaman Serius Pariwisata Nasional
JAKARTA (10 April): Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi, menyoroti ancaman serius kerusakan pesisir dan persoalan sampah di Bali yang dapat berdampak langsung pada sektor pariwisata nasional.
Menurut Mori, kerusakan pesisir akibat abrasi sudah berada pada tahap mengkhawatirkan, khususnya di wilayah Nusa Penida dan Kabupaten Klungkung. Ia menyebut kondisi tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa.
“Kalo (pariwisata) Bali habis, artinya Indonesia habis. Persisir Nusapenida hancur, abrasi parah, Pak. Garis pantai hilang, infrastruktur rusak. Abrasi dan kemudian garis pantai di Klungkung juga parah,” kata Mori dalam Raker Komisi V dengan Kementerian PU, Kementerian Perhubungan, dan Gubernur Bali, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Selain abrasi, Mori juga menyoroti persoalan sampah yang dinilai semakin memperburuk citra destinasi wisata unggulan Indonesia. Ia mencontohkan kondisi di Pantai Kuta yang menurutnya sudah sangat memprihatinkan.
“Di Pantai Kuta itu, Pak, yang di depan Hard Rock, itu tidak ada abrasi, Pak. Tapi sampahnya keterlaluan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi Bali saat ini bukan hanya abrasi, tetapi juga pengelolaan sampah yang belum optimal dan berdampak langsung terhadap minat wisatawan.
“Nggak ada lagi, Pak, turis mau ke situ sekarang. Jadi isunya dua, bukan abrasi saja. Tapi ada sampahnya di pantai kita, Pak,” tegasnya.
Mori juga mempertanyakan kesiapan dan kecepatan pemerintah dalam merealisasikan pembangunan fasilitas pengolahan sampah, khususnya di Klungkung. Ia mengingatkan bahwa keterlambatan pembangunan dapat memperburuk kondisi pariwisata Bali.
“Rencananya bagus. Bapak akan bikin pengolahan sampah organik di Klungkung, Pak. Pertanyaannya adalah ini dibangunnya berapa lama, Pak? Kalo masih isunya, katanya kendalanya, jalannya masih rusak dan sebagainya,” tandasnya.
Ia menyoroti target penyelesaian proyek yang dinilai terlalu lama, sementara kerusakan lingkungan terus terjadi dan berpotensi menurunkan daya tarik wisata Bali.
“Pembangunan ini baru selesai di tahun 2028, Pak. Garis pantai Bapak hilang, sampah Bapak nggak bisa tanganin, turis Bapak habis, Pak. Kami meminta agar kita semua bisa berkolaborasi, Pak. Ya, antara kementerian, Pak Gubernur,” ujarnya.
Mori menegaskan perlunya kolaborasi cepat antara pemerintah pusat dan daerah untuk menyelamatkan Bali sebagai tulang punggung pariwisata nasional.
“Kita nggak mungkin mau membuang yang 174 triliun PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dari hasil pariwisata,” tukasnya. (Yudis/*)