Shaanti Tawarkan Tiga Langkah Hindari Poverty Trap

JAKARTA (14 Juni): Pandemi Covid-19 menghancurkan ekonomi Indonesia yang selama ini telah dibangun dengan keringat dan kerja keras. Jika satu dekade terakhir Indonesia bekerja keras untuk keluar dari middle income economy trap, maka minimal satu dekade ke depan Indonesia harus bekerja lebih keras lagi untuk memastikan agar tidak masuk ke poverty trap.

Hal tersebut disampaikan Shaanti Shamdasani, Ketua Bidang Ekonomi DPP Partai NasDem yang juga CEO ASEAN International Advocacy and Consultancy dalam keterangan tertulisnya yang dikirimkan ke partainasdem.id, Minggu (14/6).

Shaanti mengatakan, Covid-19 telah merusak banyak tatanan ekonomi dunia, contohnya permintaan minyak dan gas. 

"Namun, Covid-19 juga telah memperlihatkan titik rentan ekonomi negara, yaitu supply chain management," tukas Shaanti.

Ditegaskan, ternyata, selama ini banyak negara di dunia mendasarkan perkembangan ekonomi mereka atas fondasi yang lemah.

Konsultan beberapa pemerintahan di Asia itu menyatakan fenomena seperti itu sering dilihatnya di negara-negara yang pemerintahannya dijalankan berdasarkan barter of interest, atau thank you government. 

"Biasanya pemimpin dipilih bukan berdasarkan pengalaman, visi dan kapabilitas, namun rekomendasi orang kuat," jelas Shaanti. 

Dijelaskan, tim peneliti United Nations (UN) mengungkapkan bahwa dampak pandemi Covid-19 bisa membuat 395 juta orang di dunia masuk dalam jurang kemiskinan ekstrim. 

"Mereka hanya hidup kurang dari 1,9 dolar AS atau Rp27.017 per harinya. Dengan begitu,  total akan ada sekitar 1,12 miliar orang di seluruh dunia yang berada di bawah garis kemiskinan," terang Shaanti.

Menyimak fenomena tersebut, Shaanti menawarkan tiga langkah yang harus diperhatikan pemerintah Indonesia agar bisa menghindari poverty trap.

Pertama, fokus ke competitive edge Indonesia,  yaitu,  pertanian, populasi yang berumur di bawah 50 tahun (young population).

Kedua memperkuat weak spots, yaitu meningkatkan keterampilan memproduksi, belajar dari negara lain (international learning capacity). Jangan jadi katak dalam tempurung. Memperbaiki sistem logistik, agar dapat bersaing dengan harga,  dan lupakan global supply chain, fokus terhadap value supply chain creation.

Ketiga fokus terhadap investor attractiveness, yaitu memperbaiki undang-undang yang tidak kondusif.

"Bila ini bisa dijalankan, mudah-mudahan kita bisa menghindari poverty trap yang sedang menghantui Indonesia," pungkasnya.(RO/*).

Add Comment