Harus Dikuasai Industri Berbasis Budaya
JAKARTA (14 Juni): Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi NasDem, Rachmad Gobel, Jumat (12/6) menemui Menteri Riset dan Teknologi RI, Bambang P S Brodjonegoro untuk membahas pentingnya peran teknologi bagi kemandirian bangsa Indonesia.
Menurut Rachmad Gobel, teknologi berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat, kemajuan bangsa, keamanan, dan ketahanan bagi perlindungan negara, pelestarian fungsi lingkungan hidup, pelestarian nilai luhur budaya bangsa, serta peningkatan kehidupan kemanusiaan.
"Berada di ruangan pak menteri saya jadi teringat almarhum BJ Habibie sebagai Bapak Teknologi Indonesia. Beliau pernah berpesan bahwa jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang modern harus menguasai teknologi dan sumber daya manusianya,” ujarnya.
Legislator NasDem ini mengatakan, industri di Indonesia memang membutuhkan banyak sekali perbaikan kemampuan teknologi dan inovasi. Tetapi, selalu berhadapan dengan masalah besar, yaitu kurangnya melakukan perbaikan dalam proses atau produksi.
Menurut Rachmad Gobel, membangun industri adalah membangun sebuah sistem dan pola pikir yang selalu terarah pada upaya meningkatkan nilai tambah produk. Dalam sudut pandang inilah, daya saing industri nasional hendaknya dikembangkan ke berbagai sektor.
“Saya melihat potensi pembangunan industri berbasis budaya masih sangat terbuka dan harus dikuasai. Kita memiliki rempah-rempah yang bisa diolah menjadi jamu, kain, makanan, minuman dan kerajinan tangan,” jelas Legislator NasDem dari Gorontalo itu.
Industri berbasis budaya bisa digerakkan di desa-desa karena ada budaya dan adat istiadat sebagai ceritanya dan kita memiliki sumber daya alam melimpah yang bisa dijadikan bahan baku utama.
Begitu pula industri bidang kesehatan yang saat ini perlu mendapat perhatian di tengah pandemi Covid-19. Menurut Rachmad, penguatan industri bidang farmasi dan alat kesehatan nasional perlu dilakukan agar memiliki daya saing, dan mampu mewujudkan kemandirian obat dan alat kesehatan minimal bisa mengurangi ketergantungan terhadap negara lain.
“Salah satu perusahaan yang saya dorong adalah PT Harvest Gorontalo Indonesia (HGI). HGI sebagai perusahaan industri herbal, berdiri sejak 2007 berlokasi di Gorontalo,” kata Rachmad Gobel.
Sebanyak lebih dari 250 karyawan yang semuanya berasal dari tenaga kerja lokal bekerja di PT HGI. Bahan awal produk herbal HGI semuanya berasal dari buah-buahan, sayur-sayuran dan rempah-rempah yang diperoleh dan dipilih dari masyarakat petani lokal.
Melalui program kemitraan pemberdayaan ekonomi rakyat, diharapkan masyarakat petani mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik, menaikan taraf hidup masyarakat.
Kemitraan dapat pula mendorong peningkatan berbagai aspek ekonomi rakyat seperti tingkat pendapatan daerah, tingkat pendidikan, dan kualitas kehidupan masyarakat khususnya petani. Berdasarkan data kemitraan tersebut dari sebagian bahan awal yang dibeli dari petani setempat, HGI dapat berkontribusi sekitar Rp750 juta.
“Jadi saya akan mendukung perusahaan ini karena salah satunya bisa terintegrasi dengan petani di Gorontalo, serta mampu meningkatkan ekonomi para petani di Gorontalo,” tutup Rachmad Gobel.(Fian/*)