Muslim Ayub Minta Segera Bangun Hunian bagi Korban Bencana Aceh
JAKARTA (13 Januari): Anggota DPR RI asal Aceh, Muslim Ayub, meminta pemerintah segera membangun hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat Aceh yang menjadi korban bencana. Ia menegaskan, hingga kini masih banyak warga yang bertahan di tenda-tenda pengungsian dalam kondisi memprihatinkan.
“Yang paling urgen saat ini adalah hunian. Masyarakat pengungsi masih banyak yang tinggal di desa-desa dalam tenda-tenda pengungsian,” kata Muslim, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, pembangunan hunian menjadi semakin mendesak karena akan memasuki bulan suci Ramadan. Tanpa tempat tinggal yang layak, warga terdampak dinilai tidak dapat menjalankan ibadah secara maksimal, terlebih Aceh merupakan daerah yang menerapkan syariat Islam.
“Apalagi dalam menyangkut bulan Ramadan ini. Rasanya kalau tanpa hunian, mereka tidak bisa melaksanakan ibadah secara maksimal,” ujarnya.
Muslim mengungkapkan, DPR RI bersama pemerintah telah menggelar rapat dengan Satgas DPR dan instansi terkait. Pemerintah pusat, kata dia, berkomitmen membangun sekitar 15.000 unit hunian sementara sebelum Ramadan.
“Dalam waktu dekat ini, pemerintah pusat, khususnya instansi terkait termasuk BNPB dan PUPR, akan mendirikan rumah-rumah hunian sementara sekitar 15.000 unit,” jelasnya.
Hunian sementara tersebut akan diprioritaskan di wilayah yang terdampak paling parah, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Bener Meriah, serta sejumlah daerah lain. Sementara sebagian wilayah seperti Singkil, Subulussalam, dan Aceh Tenggara, sebagian pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing atau ke rumah keluarga.
Selain hunian sementara, Muslim menegaskan pentingnya percepatan pembangunan hunian tetap agar masyarakat tidak terlalu lama bergantung pada bantuan darurat.
“Tinggal lagi bagaimana pemerintah membangun hunian tetap dalam waktu dekat ini,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kebutuhan dasar korban bencana, terutama masyarakat yang kehilangan seluruh mata pencahariannya akibat bencana.
“Petani kehilangan sawahnya, peternak kehilangan ternaknya. Semua lapangan pekerjaan mereka hilang,” kata Muslim.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan bantuan yang bersifat berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan donasi dari lembaga sosial.Selain itu, Muslim mengingatkan masih adanya desa-desa yang belum teraliri listrik serta infrastruktur jalan dan jembatan yang terputus, khususnya di wilayah Geurugok Dua (Gayo II).
“Tanpa aliran listrik, mereka tidak bisa melakukan aktivitas apa pun. Jalan, jembatan, listrik, dan komunikasi ini harus segera dituntaskan,” tegasnya. (Yudis/*)