Literasi dan Berpikir Kritis Fondasi Utama Membangun Demokrasi

JAKARTA (6 Februari): Anggota Fraksi Partai NasDem DPR RI Willy Aditya menegaskan bahwa literasi dan kemampuan berpikir kritis merupakan fondasi utama dalam membangun demokrasi yang sehat. Fraksi Partai NasDem mendorong mahasiswa untuk merawat akal sehat sekaligus dibekali kecakapan praktis, khususnya menulis ilmiah dan menulis populer, sebagai bagian dari penguatan peran intelektual generasi muda.

“Kita berdiskusi bagaimana merawat akal sehat, lalu dilanjutkan dengan penguatan soft skill menulis ilmiah dan menulis populer. Setelah ini akan ada workshop lanjutan, supaya ada korespondensi antara realitas, ilmu pengetahuan, dan informasi,” ujar Willy saat menerima mahasiswa Forum Mahasiswa Madura (Formad) Jabodetabek, di Ruang Rapat Fraksi Partai NasDem, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Ia menjelaskan, kemampuan menulis menjadi penting karena menulis merupakan proses berpikir itu sendiri. Meski mahasiswa mendapatkan mata kuliah metodologi penelitian, kebiasaan menulis tetap membutuhkan latihan dan ruang praktik yang konsisten.

“Menulis itu bukan sekadar mata kuliah. Di ujung kuliah ada skripsi, tapi kebiasaan menulis tidak otomatis terbentuk. Karena itu kami libatkan akademisi dan praktisi agar mahasiswa punya kecakapan yang utuh,” jelasnya.

Willy menegaskan bahwa Fraksi Partai NasDem membuka diri terhadap kolaborasi dengan mahasiswa, tidak hanya untuk Formad Jabodetabek, tetapi juga bagi komunitas mahasiswa lainnya.

“Ini bukan kegiatan pertama dan bukan yang terakhir. Ini pembuka. Ke depan, kami membuka diri untuk kolaborasi kelas-kelas berikutnya,” tegas Legislator dari Dapil Madura itu.

Lebih jauh, Willy menekankan bahwa literasi dan berpikir kritis merupakan modal penting bagi mahasiswa agar tidak mudah terjebak hoaks dan disinformasi yang marak di ruang publik.

“Tidak semua orang terdidik otomatis berpikir kritis. Berpikir kritis itu soal kebiasaan bertanya, keberanian berargumentasi berbasis data, fakta, teori, dan logika. Hari ini hoaks sering kali lebih laku daripada kebenaran,” katanya.

Ia mengibaratkan berpikir kritis sebagai prinsip 5W1H dalam dunia jurnalistik, yang menuntut verifikasi, pendalaman, dan konfirmasi berlapis terhadap setiap informasi.

“Critical thinking itu seperti 5W1H. Kita harus cek ini siapa, kapan, di mana, kenapa, dan bagaimana. Informasi tidak boleh langsung ditelan bulat-bulat,” ujarnya.

Dalam konteks demokrasi dan politik, Willy juga menegaskan bahwa mahasiswa tidak perlu takut untuk terlibat dan menyampaikan kritik. Menurutnya, keterbukaan terhadap kritik merupakan konsekuensi logis dari jabatan publik.

“Politik itu tidak horor. Biasa saja. Kami di NasDem terbuka. Mau menyampaikan kritik, aspirasi, bahkan kemarahan sekalipun, itu konsekuensi jabatan publik. Justru kritik membuat demokrasi sehat,” pungkasnya. (Yudis/*)

Add Comment