Surya Paloh, Ketegasan Ideologis, dan Makna Restorasi Indonesia
Oleh Mohsen Hasan Alhinduan
Anggota Dewan Pakar DPP Partai NasDem
SAYA melihat dalam foto, Surya Paloh sedang membaca sebuah karya buku Yudi Latif berjudul “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia”. Dalam benak pikiran saya mengandai-andai, “Apa jadinya Indonesia tanpa NasDem?”
Indonesia sebagai bangsa yang majemuk memiliki banyak sumber nilai moral dan spiritual. Dari agama-agama besar yang hidup di tanah air, kita menemukan kosakata kebajikan yang menekankan kesabaran, kerendahan hati, dan pemaafan.
Dalam Hindu ada istilah Khasmawan, dalam Islam dikenal sifat Halim dan Ṣabūr, sementara itu dalam tradisi Kristen, kerendahan hati disebut humble spirit.
Nama Surya Paloh kerap muncul ketika kita mencari figur politik yang bisa disandingkan dengan kosakata kebajikan tersebut. Bukan karena ia tanpa cela, tetapi karena dalam banyak momen ia menunjukkan wajah politik yang penuh kesabaran, tidak pendendam, dan rendah hati.
Surya Paloh adalah sosok peniti karier yang sukses perjalanannya berliku-liku. Berbagai terjal dan curam dihadapinya dengan kesabaran, hingga dia mencapai puncak kedudukan dan kesuksesan sebagai pebisnis ulung, negosiator cerdas, dan politisi yang handal.
Dia dikenal sebagai suhu atau bapak bangsa dan negarawan yang patut diteladani.
Pernyataan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh bahwa kader yang masih ragu, silakan memilih. Partai NasDem hanya butuh mereka yang teguh dalam misi perubahan, patut dibaca lebih dari sekadar pesan disiplin internal. Itu adalah pernyataan ideologis tentang bagaimana sebuah partai seharusnya berdiri, berjuang, dan menjaga arah di tengah politik yang kian pragmatis.
Sejak awal kelahirannya pada 2011, Partai NasDem memang tidak diproyeksikan sebagai partai biasa. Partai ini lahir dari kritik mendalam terhadap praktik demokrasi pascareformasi yang dinilai kehilangan substansi.
Demokrasi prosedural berjalan, tetapi demokrasi substansial yang menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan etika publik, kerap tertinggal. Dari kegelisahan itulah gagasan Restorasi Indonesia dirumuskan: sebuah ajakan untuk mengembalikan politik pada nilai, etika, dan tujuan bernegara sebagaimana amanat konstitusi.
Dalam konteks tersebut, ketegasan Surya Paloh hari ini menunjukkan konsistensi sejarah. Restorasi Indonesia bukan jargon elektoral, melainkan sikap ideologis. Ia menuntut kejelasan posisi, keberanian bersikap, dan kesediaan menempatkan idealisme di atas kalkulasi sesaat.
Ketika politik berubah menjadi sekadar kompetisi kursi dan negosiasi kepentingan, gagasan restorasi menjadi tidak populer bahkan sering dianggap naif. Namun, justru di situlah letak ujiannya.
Yang menarik, ketegasan itu tidak berubah menjadi otoritarianisme politik. Surya Paloh tidak memagari partai dengan ancaman atau stigma. Kader yang ingin memilih jalan lain dipersilakan dengan lapang dada. Sikap ini mengandung pesan penting: loyalitas ideologis tidak bisa diproduksi lewat paksaan. Ia hanya lahir dari kesadaran, keyakinan, dan kesamaan visi tentang arah perjuangan.
Dalam iklim politik nasional yang cair dan penuh perpindahan, pernyataan ini menjadi kritik implisit terhadap budaya politik lompat pagar yang seringkali minim basis nilai. Ketika partai diperlakukan sekadar sebagai kendaraan, maka ideologi menjadi aksesoris.
Partai NasDem, melalui sikap ini, ingin menegaskan bahwa partai politik seharusnya menjadi rumah gagasan, bukan sekadar tempat singgah ambisi.
Lebih jauh, pesan Surya Paloh sesungguhnya relevan melampaui NasDem. Ia menyentuh problem mendasar demokrasi Indonesia: krisis makna berpartai. Ketika publik semakin sinis terhadap politik, yang dibutuhkan bukan sekadar retorika perubahan, melainkan konsistensi antara nilai, sikap, dan tindakan. Ketegasan yang berakar pada prinsip, disertai kelapangan dalam menyikapi perbedaan, justru merupakan tanda kedewasaan politik.
Pada momentum kebangsaan hari ini, pesan tersebut layak dibaca sebagai ajakan kolektif bagi seluruh elemen politik nasional. Indonesia tidak kekurangan partai, tetapi sering kekurangan keberanian untuk setia pada nilai yang diikrarkan.
Demokrasi tidak akan kehilangan arah jika partai-partai politik kembali menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan jangka pendek, serta menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan tujuan.
Restorasi Indonesia, dalam makna terdalamnya, adalah ikhtiar berkelanjutan untuk mengembalikan politik sebagai jalan pengabdian kepada cita-cita kemerdekaan: keadilan sosial, persatuan nasional, dan kedaulatan rakyat.
Dalam konteks itu, ketegasan Surya Paloh bukan sekadar sikap personal atau garis partai, melainkan pengingat bahwa masa depan demokrasi Indonesia sangat ditentukan oleh keberanian elite politik untuk memilih nilai bahkan ketika pilihan itu tidak selalu menguntungkan secara elektoral.
(WH/AS)