Ramadan 1447 H: Kita di Golongan yang Mana?
Oleh Mohsen Hasan Alhinduan
Koordinator Bidang Sosial, Budaya dan Agama Dewan Pakar DPP Partai NasDem
RAMADAN, bulan yang setiap tahunnya selalu menghadirkan getar harap dan cermin muhasabah itu kembali mengetuk pintu-pintu hati kaum beriman. Namun, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, manusia tidaklah sama dalam menyambutnya. Hati berbeda-beda, niat tak serupa, dan kesiapan pun bertingkat-tingkat.
Di tengah suasana Ramadan ini, ada baiknya kita menengok diri: termasuk golongan manakah kita?
Pertama, golongan yang siap dan berlomba dalam kebaikan (as-sabiqun bil khairat).
Mereka sejatinya telah memulai “Ramadan”-nya sejak Rajab dan Sya’ban. Hati mereka dibersihkan dengan taubat, lisan dibiasakan dengan dzikir, tubuh dilatih dengan puasa sunnah dan qiyamul lail.
Maka ketika Ramadan tiba, mereka tidak gagap. Mereka telah berada di puncak rindu dan kesiapan ruhani. Ramadan bagi mereka bukan kejutan tahunan, melainkan puncak dari perjalanan panjang menuju Allah.
Kedua, golongan yang bergembira dan penuh kabar suka.
Mereka menyambut Ramadan seperti seorang perantau menyambut kepulangan yang dinanti. Hati mereka berbunga-bunga saat mendengar kabar bahwa pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.
Bagi mereka, tiada kebahagiaan yang lebih besar selain kabar bahwa bulan ampunan itu segera tiba. Kegembiraan ini bukan sekadar euforia, melainkan tanda hidupnya iman dalam dada.
Ketiga, golongan musiman—semangat sementara.
Pada hari-hari pertama, masjid penuh oleh langkah mereka. Tilawah meningkat, doa dipanjatkan dengan khusyuk. Namun seiring berjalannya waktu, semangat itu perlahan meredup. Di sinilah ujian konsistensi berbicara.
Ramadan bukan lomba sprint, melainkan maraton rohani. Yang dinilai bukan ledakan di awal, melainkan keteguhan hingga akhir. Bukankah yang terpenting adalah husnul khatimah dan amal yang terus dijaga, meski sedikit?
Keempat, golongan adat dan tradisi.
Ramadan hadir lebih sebagai peristiwa sosial-budaya ketimbang momentum spiritual.
Perhatian tercurah pada ragam hidangan berbuka, hiasan rumah, atau tayangan hiburan. Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan lahiriah, tetapi ketika ia menggeser makna utama, yakni takwa dan peningkatan kualitas diri, maka Ramadan kehilangan rohnya. Padahal Allah menegaskan tujuan puasa adalah la‘allakum tattaqun, agar kamu bertakwa.
Kelima, golongan yang lalai dan merugi.
Ramadan berlalu seperti bulan-bulan lainnya. Tidak ada perubahan signifikan, tidak ada lompatan iman, tidak ada ikhtiar sungguh-sungguh untuk meraih pembebasan dari api neraka.
Mereka melewatkan musim ampunan tanpa bekas. Inilah kerugian yang sejati, ketika kesempatan emas datang, namun hati tak tergerak.
Para ulama salaf memandang Ramadan sebagai mausim tijarah ma‘allah musim berdagang dengan Allah.
Mereka mengosongkan hati dari hiruk-pikuk dunia agar mampu menampung limpahan rahmat. Mereka menyederhanakan urusan-urusan sekunder demi meraih yang primer: kedekatan dengan Allah dan keselamatan akhirat.
Ramadan 1447 H adalah peluang baru.
Apa pun posisi kita hari ini, pintu perubahan belum tertutup.
Tarhib Ramadan sejatinya bukan sekadar spanduk, ceramah, atau unggahan media sosial. Ia adalah deklarasi batin untuk berubah secara nyata, terukur, dan berkelanjutan.
Mari kita sambut Ramadan dengan niat perubahan yang hakiki.
Jadikan kegembiraan kita sebagai kegembiraan seorang hamba yang bertobat, berharap rahmat Rabb-nya, dan takut akan kelalaian dirinya sendiri.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar menang bukan hanya karena berpuasa, tetapi karena bertumbuh dalam takwa.
Ramadan datang. Pertanyaannya tinggal satu: kita di golongan yang mana?
(WH/AS)