Saan Mustopa Soroti Peran Pesantren dalam Menjaga Moral dan Arah Politik
MAJALENGKA (22 Februari): Memasuki hari kedua Safari Ramadan 1447 Hijriah, Wakil Ketua Umum Partai NasDem yang juga Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa melanjutkan rangkaian kunjungan silaturahmi ke sejumlah pondok pesantren.
Pada Minggu (22/2), rombongan mengunjungi Pondok Pesantren Bustanun Nasyi’in di Majalengka sebagai titik kunjungan ketiga. Safari Ramadan kemudian dilanjutkan ke Pondok Pesantren Miftahul Muta’alimin, Babakan, Ciwaringin, Cirebon, sebagai tempat kunjungan keempat.
Saan menjelaskan bahwa tujuan utama kunjungan tersebut adalah menjaga dan mempererat silaturahmi dengan pesantren. Ia menegaskan bahwa Ketua Umum Partai NasDem selalu mengajarkan pentingnya merawat hubungan dengan pondok pesantren sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.
“Kami datang untuk bersilaturahmi dan memperkuat komunikasi. Kami ingin mendengar cerita, keluh kesah, dan aspirasi dari pesantren,” ujar Saan.
Dalam dialog bersama para kyai, Saan menekankan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam sejarah Indonesia. Selain terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, pesantren terus berkontribusi melalui pendidikan dan pembentukan karakter. Banyak pahlawan serta tokoh bangsa yang lahir dari lingkungan pesantren.
Ia juga menyinggung nilai nasionalisme yang ditanamkan di pesantren, salah satunya melalui semboyan hubbul wathon minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Menurut Saan, nilai tersebut menjadi alasan mengapa pesantren selalu menjadi prioritas dalam agenda Safari Ramadan, di samping kegiatan konsolidasi partai di daerah.
Saan menambahkan, kunjungan ke pesantren juga menjadi sarana untuk menjaga dan mengontrol niat dalam berpolitik. Ia mengingatkan pesan Ketua Umum Partai NasDem bahwa salah satu kumpulan kebaikan berada di pesantren.
“Kehadiran kami di sini juga untuk mengingatkan diri bahwa berpolitik harus diniatkan sebagai ibadah,” katanya.
Menurut Saan, politik harus dimulai dari niat yang baik. Jika niat awal sudah lurus, maka proses dan hasilnya pun diharapkan membawa kebaikan. Sebaliknya, niat yang tidak baik sejak awal akan sulit melahirkan hasil yang baik.
Dalam konteks kepartaian, Saan kembali menegaskan komitmen politik tanpa mahar sebagai bagian dari upaya menjaga niat dan proses politik tetap bersih sejak awal.
Pada kunjungan ke Pesantren Miftahul Muta’alimin, Saan juga menyampaikan bahwa pesantren tersebut memiliki kedekatan historis dengan Partai NasDem. Ia mengenang sejumlah kader yang berasal dari lingkungan pesantren tersebut, di antaranya almarhum Gus Aam – mantan anggota DPR RI; almarhum Eryani Sulam, mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat; serta anggota DPRD Kabupaten Cirebon yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Partai NasDem dan Ketua Fraksi Partai NasDem Kabupaten Cirebon, Asep Zainudin Budiman.
Meski demikian, Saan menegaskan bahwa setiap kunjungan ke pesantren bukan untuk mencari dukungan politik, melainkan untuk memohon doa dan keberkahan dari para kyai, ustadz, ustadzah, dan santri.
“Kami tidak datang untuk meminta dukungan politik. Kami datang untuk meminta ridho dan doa. Karena pada akhirnya, politik harus membawa kebaikan dan kemaslahatan,” tutupnya.
Safari Ramadan hari kedua ini kembali menegaskan pesantren sebagai ruang moral yang berperan menjaga arah niat, etika, dan pengabdian dalam kehidupan politik dan kebangsaan.
(VC/WH/AS)