Teguh Iswara Ingatkan Keselamatan Transportasi Laut saat Mudik
JAKARTA (13 Maret): Tingginya angka kecelakaan transportasi laut menjadi perhatian anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Teguh Iswara Suardi, dalam Rapat Kerja dengan para mitra kerja Komisi V pada Kamis (12/3/2026). Rapat membahas kesiapan infrastruktur dan layanan transportasi menjelang arus mudik Lebaran 2026.
Legislator dari Dapil Sulawesi Selatan II itu menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius, khususnya terkait pemeriksaan kelayakan kapal atau ramp check sebelum kapal beroperasi melayani masyarakat pada periode mudik.
“Kecelakaan kapal masih menjadi salah satu penyumbang angka kecelakaan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, proses ramp check terhadap kondisi kapal-kapal yang beroperasi harus benar-benar diperketat untuk memastikan keselamatan penumpang,” kata Teguh.
Selain keselamatan transportasi laut, Teguh juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan data, tingkat kemantapan jalan di Pulau Sulawesi telah mencapai 97,15 persen, bahkan menjadi yang tertinggi secara nasional. Meski demikian, berdasarkan pengalamannya di daerah pemilihan, masih ditemukan sejumlah titik jalan berlubang yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Di dapil saya, Sulawesi Selatan II, khususnya di lintasan Trans Nasional Kabupaten Barru, saya masih menemukan cukup banyak lubang di jalan yang berpotensi menyebabkan kecelakaan. Hal ini perlu menjadi perhatian serius agar dapat segera diperbaiki sebelum puncak arus mudik berlangsung,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Teguh juga memberikan apresiasi kepada Kementerian Perhubungan atas pelaksanaan program mudik gratis yang kini tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, tetapi juga mulai diterapkan di luar Jawa, termasuk untuk jalur transportasi laut.
“Kami mengapresiasi karena usulan terkait program mudik gratis agar dapat diterapkan di luar Pulau Jawa kini sudah terealisasi. Pemerataan ini sangat penting, khususnya bagi masyarakat di wilayah kepulauan. Harapan kami program ini terus dilanjutkan, ditingkatkan, serta diperkuat sosialisasinya agar semakin banyak masyarakat mengetahui dan memanfaatkannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Teguh juga menyoroti potensi cuaca ekstrem berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang memprediksi curah hujan tinggi pada bulan Maret di sejumlah wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Ia berharap langkah antisipasi dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana yang dapat mengganggu kelancaran ibadah Ramadan maupun arus mudik Lebaran, termasuk jika diperlukan upaya seperti modifikasi cuaca.
“Kami berharap di momentum Ramadan dan Lebaran ini tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jika memang diperlukan perhatian khusus di beberapa wilayah, termasuk langkah modifikasi cuaca, tentu kami sangat mendukung agar masyarakat dapat menjalankan ibadah serta proses mudik dengan aman dan lancar,” katanya.
Teguh juga menekankan pentingnya strategi komunikasi publik yang lebih inovatif dari BMKG dalam menyampaikan informasi cuaca dan potensi bencana kepada masyarakat.
“Akurasi informasi BMKG saat ini sudah sangat tinggi. Namun tantangannya adalah bagaimana informasi tersebut benar-benar sampai ke masyarakat. Perlu langkah luar biasa, seperti melibatkan influencer, memanfaatkan televisi nasional, serta menampilkan informasi di berbagai platform digital dan situs populer,” ujarnya.
Menurutnya, kemudahan akses terhadap informasi cuaca dan kebencanaan akan meningkatkan literasi masyarakat serta membantu mereka mengambil keputusan yang lebih aman selama perjalanan mudik.
“Dengan informasi yang mudah diakses dan dipahami, masyarakat akan semakin cerdas dan memiliki literasi kebencanaan yang lebih baik, sehingga keselamatan bersama dapat lebih terjaga,” tutup Teguh. (Yudis/*)