Sugeng Ingatkan Kesiapan Energi Indonesia Hadapi Dampak Geopolitik Global
JAKARTA (29 April): Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, mengingatkan pentingnya kesiapan Indonesia dalam menghadapi dampak konflik global, khususnya pada sektor energi dan pertambangan.
“Tiada peradaban yang tidak membutuhkan pertambangan, namun pertambangan itu sendiri lah yang dapat membuat peradaban hancur,” ujar Sugeng saat menjadi keynote speaker dalam seminar nasional yang diselenggarakan Ikatan Alumni Geologi ITB di Andrawina Hall, Gedung A, PT Aneka Tambang (Antam), Jakarta, Sabtu (25/4/2026).
Ia menyoroti meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang berdampak langsung terhadap lonjakan harga energi dunia.
“Sebagaimana kita ketahui hari ini dunia menghadapi ketidakpastian yang sangat besar khususnya dalam sektor energi. Indonesia tidak memiliki cadangan nasional sebagaimana negara lain miliki untuk mengatasi gejolak energi global,” jelasnya.
Dalam paparannya, Sugeng juga mengungkap besarnya beban subsidi energi dalam APBN 2026 yang mencapai sekitar Rp210 triliun, meliputi subsidi BBM, LPG 3 kg, dan listrik.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa terus dipertahankan tanpa langkah strategis. Indonesia harus segera mempercepat transisi dan diversifikasi energi guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil, khususnya batu bara yang masih mendominasi sektor ketenagalistrikan.
Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang besar melalui potensi energi baru terbarukan, terutama panas bumi. Dengan sekitar 25 persen cadangan geothermal dunia, Sugeng mendorong pemanfaatan “ring of fire” sebagai “ring of energy” untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi dan hilirisasi, termasuk pemanfaatan produk turunan panas bumi seperti lithium untuk mendukung industri baterai dan sistem penyimpanan energi (BESS).
Lebih lanjut, Sugeng mengingatkan bahwa masa depan industri global akan sangat bergantung pada penguasaan mineral strategis seperti rare earth elements.
Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat riset dan pengembangan agar tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam rantai nilai global.
Forum itu diharapkan menjadi jembatan antara kalangan akademisi dan pembuat kebijakan dalam merumuskan arah pengelolaan sumber daya mineral dan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia. (Yudis/*)