JAKARTA (20 Mei): Anggota Komisi I DPR RI, Andina Thresia Narang, menyoroti kesiapan pertahanan Indonesia dalam menghadapi perkembangan perang modern yang kini semakin mengarah pada penggunaan teknologi tinggi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perang siber, hingga ancaman perang asimetris global.
“Kondisi geopolitik saat ini memang sangat merisaukan. Perang saat ini tidak lagi dimaknai sebagai konfrontasi fisik saja, tetapi juga nonfisik antar kekuatan militer. Melainkan kompetisi multidimensional yang berlangsung di ruang fisik dan juga di ruang nonfisik secara simultan,” ujar Andina dalam Rapat Kerja Komisi I dengan Menteri Pertahanan, Panglima TNI, serta jajaran kepala staf, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Andina mengapresiasi langkah Kementerian Pertahanan dan TNI dalam melakukan penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional. Modernisasi alutsista merupakan langkah penting untuk menjaga kekuatan pertahanan Indonesia di tengah dinamika keamanan global yang terus berkembang.
“Dalam hal ini saya mengapresiasi Menhan dan juga TNI dalam melakukan penguatan alutsista kita, karena sangat penting saat ini untuk pertahanan kita,” katanya.
Meski demikian, Andina meminta penjelasan lebih lanjut mengenai capaian kekuatan alutsista TNI terhadap target Minimum Essential Force (MEF) atau kekuatan pokok minimum pertahanan nasional.
“Yang ingin saya dalami, sudah sejauh mana persentase alutsista TNI kita terhadap optimum essential force. Dan juga bagaimana parameter keadaan alutsista kita saat ini,” ujarnya.
Selain menyoroti modernisasi alutsista, Andina juga menekankan pentingnya transformasi sistem pertahanan berbasis teknologi tinggi. Ia menilai perkembangan perang modern saat ini semakin mengarah pada pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), autonomous weapon system, peperangan siber (cyber warfare), hingga peperangan berbasis data dan informasi.
Menurutnya, pola perang global saat ini mengalami perubahan signifikan. Ancaman keamanan tidak lagi hanya berupa serangan militer konvensional, tetapi juga melibatkan perang asimetris yang memanfaatkan teknologi digital, serangan siber, manipulasi data, hingga penguasaan informasi.
“Melihat perkembangan perang modern yang semakin mengarah pada artificial intelligence atau AI, ada autonomous weapon system, cyber warfare, dan juga peperangan berbasis data serta informasi. Ditambah lagi munculnya pola perang asimetris dan serangan siber,” tutur Andina.
Oleh karena itu, ia meminta penjelasan mengenai roadmap atau peta jalan TNI dalam membangun kapasitas pertahanan berbasis high technology agar Indonesia tidak tertinggal dalam transformasi urusan militer global (military affairs global).
Menurut legislator Fraksi Partai NasDem itu, penguatan teknologi pertahanan harus menjadi prioritas nasional agar Indonesia mampu menghadapi tantangan keamanan generasi baru.
“Bagaimana roadmap TNI membangun kapasitas pertahanan berbasis high technology agar Indonesia tidak tertinggal dalam transformasi military affairs global,” katanya. (dpr.go.id/*)
0 Komentar